1 January 2011

Mengejar Berkah Koperasi di Bank Syariah

BAGIKAN
Bank Syariah ke depan, mesti mengalokasikan pembiayaan di sektor microfinance (omzet Rp 50 juta ke bawah) karena sektor ini masih belum tergarap secara maksimal. Realitas membuktikan peningkatan kinerja yang dilakukan BMT di Indonesia. Pada 2009, aset yang diperoleh dari permodalan di level microfinance sebesar Rp. 32 miliar, meningkat sekitar 100 persen menjadi Rp. 60 miliar. Tahun ini (2011) permodalan seperti ini mesti diprioritaskan oleh Bank syariah dalam menelurkan produk perbankan syariahnya.

Tepatnya sebulan yang lalu, hari Rabu (8/12/2010), kami berdua berjalan menuju kantor Bank Syariah di Bandung Timur. Hari itu, semilir angin berembus di kantor Bank Muamalat, Ujungberung, Bandung, serasa menyejukkan tubuh. Keramahan pak Satpam dan karyawan di Bank Syariah pun sejuk laiknya hembusan angin sepoi-sepoi. “Assalamu’alaikum”, pak satpam menyapa kami berdua. “Wa’alaikum salam”, saya dan teman hampir berbarengan menjawabnya. Kebetulan kantor Bank Syariah sedang lengang. Teman saya pun langsung menghadap personalia untuk bertanya ihwal produk yang dikeluarkan Bank Muamalat.

Saya tidak mendengar percakapan teman saya dengan personalia itu. Yang pasti, terlihat asyik bercengkrama. Akhirnya, selesai juga teman saya membuka rekening di salah satu Bank Umum Syariah. Rekening tersebut rencananya digunakan untuk menampung dana iuran koperasi yang didirikan alumni jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam, UIN Bandung. Hanya dengan KTP dan uang sebesar Rp. 200.000, dalam waktu kurang dari 1 jam rekening pun sudah bisa digunakan, lengkap dengan kartu ATM.

Setelah 4 tahun lebih sejak kami menyelesaikan studi S1 di UIN Bandung, akhirnya pertengahan 2010, kami mengadakan acara reuni. Kendati acara tersebut hanya dihadiri segelintir orang. Namun, berkesan karena lahir gagasan untuk mendirikan koperasi yang beranggotakan teman-teman semasa kuliah dulu. Dari 34 teman semasa kuliah dulu, hanya 12 orang yang bersedia menyisihkan iuran untuk koperasi per bulannya. Pada pertemuan kedua, di Margacinta, Buahbatu, Bandung, kedua belas orang itu – termasuk saya – menyetujui untuk merancang koperasi simpan pinjam serta mendirikan usaha produktif dengan modal awal ala kadarnya.

Dengan iuran wajib sebesar Rp. 15.000 dan iuran bulanan Rp. 50.000 per orang, pada kesempatan itu terkumpul dana awal sebesar Rp. 780.000. Pada awal Januari ini, iuran tersebut harus sudah disetorkan masing-masing anggota via rekening di Bank Muamalat. Rencananya, per tiga bulan kami juga mengadakan pertemuan untuk melaporkan modal koperasi yang sudah terkumpul. Berarti, kalau saja lancar. Pada bulan Maret 2011 nanti, uang yang sudah terkumpul di rekening sebesar Rp. 1.980.000, yang lumayan agak besar. Setelah mencapai masa enam bulan, ketika uang mencapai Rp. 3.780.000, rencananya kami akan mengurus akta notaris untuk pendirian koperasi syariah.

Pendirian koperasi alumni ini diharapkan dapat memupuk mental berwirausaha di kalangan kawan-kawan. Sebab, mayoritas teman-teman seangkatan berprofesi sebagai wirausahawan kecil dan menengah. Dengan jumlah anggota 12 orang yang bersedia menjadi anggota, dapat mengumpulkan dana tabungan sekitar Rp. 600.000 per bulan. Ketika dana tersebut terkumpul dalam jangka 6 bulan dapat digunakan anggota untuk modal usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan menggunakan prinsip-prinsip syariah. Itulah yang mendasari alumni seangkatan, di jurusan BPI UIN Bandung, menyimpan iuran anggota per bulan di Bank Muamalat.

Kendati banyak Bank bertebaran, koperasi kecil-kecilan yang didirikan alumni angkatan lebih memilih Bank Syariah karena secara agama menguntungkan. Koperasi yang akan didirikan oleh alumni seangkatan kami, mungkin hanya bermain di level microfinance bagi permodalan anggotanya yang hendak membuka usaha. Ke depan, ketika dana koperasi sudah terkumpul dalam jumlah yang besar, rencananya akan disalurkan untuk pembiayaan modal usaha di sektor UMKM. Semoga!
BAGIKAN

Penulis: verified_user