14 January 2007

“Haji” Tanpa Hijab Kelas

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
"Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Barat"
Menunaikan ibadah haji adalah cita-cita puncak umat Islam dan seolah satu-satunya jalan yang mesti ditempuh untuk memeroleh perhargaan. Hanya demi sebuah prestise, tanah Mekkah pun jadi alternatif pilihan meraih kelas tertinggi dalam sistem sosial umat Islam Nusantara. Tak heran jika ibadah ini ditunaikan tanpa paradigma transformatif karena nihil penghayatan terhadap nilai-nilai sosial yang terkandung dalam prosesi haji.
Sepulang dari Arab Saudi sikap dan perilaku juga masih banyak yang tidak mencerminkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang manusia bergelar haji. Keadigungan menyandang gelar haji di depan namanya, ketidakpekaan terhadap realitas objektif masyarakat yang sedang terpuruk ranah ekonominya, bahkan gelar haji acap kali dijadikan tameng untuk melindungi diri dari pelbagai sanksi Negara dan sosial. Dalam bahasa lain, jika ingin selamat dari aneka persepsi negatif masyarakat dan ancaman konstitusional; bangsa kita banyak yang langsung pergi melaksanakan umroh atau haji.
Ini mengindikasikan gejala ketidaktulusan hati menunaikan ibadah telah menghijabi ranah spiritualitas umat. Alih-alih memberikan sumbangsih berupa kemajuan bagi bangsa sepulang dari Mekkah, umat (Islam) yang bergelar haji malah tak berkutik hadapi keberbagaian persoalan yang melingkari bangsa.
Imbas destruktif di atas, adalah gejala yang mengindikasikan pelaksanaan ibadah haji cenderung dideterminasi motif-motif sesaat. Alhasil, laku lampah yang ditampakkan tidak mencerminkan gelar haji yang semasa kolonialisasi Belanda banyak diidentikkan dengan seorang tokoh masyarakat yang selalu menyuarakan aspirasi warga masyarakat dalam bentuk perlawanan-perlawanan heroik untuk membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan.
Tulus-ikhlas
Ibadah haji seharusnya bernilai kritis-konstruktif, kritis-transformatif, dan kritis-emansipatoris agar kepulangan dan kehadiran jamaah haji di tanah air dapat memberikan pencerahan bagi bangsa. Untuk itu, ketulusan hati yang tanpa embel-embel dalih memeroleh perlindungan gelar haji yang tak abadi di depan nama dari umat Islam yang berangkat ke tanah suci, mesti tertanam di hati sanubari semenjak akan berangkat ke tanah suci.
Ahmad Syafii Ma’arif (2005) berpendapat bahwa ketulusan berarti kejujuran, kebersihan, dan keikhlasan. Ikhlas (dalam bahasa Arab) dapat diartikan dengan pengabdian yang tulus (sincere devotion), karena itu perkataan sincere mesti melukiskan manusia yang suci bersih, dipercaya, bebas dari tipuan dan kepura-puraan, jujur, tulen, murni, dan terus terang. Tanpa semua itu agama tak akan bermakna dihadapan Tuhan, bahkan tak dapat mentransformasi realitas “acak-acakan” yang menjalar di tubuh bangsa.
Ketika keikhlasan dipegang teguh oleh setiap jamaah haji yang dari tahun ke tahun menampakkan peningkatan kuantitas; sepulang dari Mekkah mereka tidak akan menciptakan kelas-kelas baru dalam stratafikasi sosial. Sebab, ada kecenderungan tatkala mereka selesai menunaikan ibadah haji ingin dihargai masyarakat dan acap kali menimbulkan relasi yang tak harmonis. Akibatnya, suasana “ medan sosial” dijibuni aneka kecemburuan social. Jika dibiarkan berlarut, akan menggusur relasi sosial pada arah ketidakharmonisan yang ujung-ujungnya konflik horizontal akan menggelombang tak tentu arah.
Bermunculan haji-haji yang gila gela r sosial, bahkan sampai gila gela r politik merupakan petanda bahwa sindrom feodalisme masih mengakar kuat di tubuh umat. Ada semacam jurang yang membedakan eksistensi haji tempo dulu dengan haji di era kontemporer ini, yakni peran fungsional mereka ketika pulang ke negeri sendiri. Haji tempo dulu acap kali melakukan peru bahan dalam pelbagai ranah kehidupan bangsa tanpa sekat-sekat pengamalan doktrinitas agamanya dengan cara radikal dan ekstrem. Haji sekarang lebih menitikberatkan pada memeroleh status sosial, namun nihil dari nilai-nilai transformatif.
Mungkin pengorbanan jamaah haji ketika menempuh perjalanan panjang ke Arab Saudi bisa dijadikan warning up untuk memoles diri dengan gerak jasad (aktus) yang berdimensi kritis-transformatif. Tujuannya untuk mengubah kondisi bangsa dari berjibunnya ketidakharmonisan relasi sosial, misalnya, menuju arah keharmonisan hingga secercah perubahan dapat terakumulasi menjadi semangat membangun bersama-sama sebagai modal utama menggapai keadilan dan kesejahteraan.
“Ruh” Haji transformatif
Pakar tafsir negeri ini, M Quraish Shihab (2002) mengatakan bahwa praktik ritual ibadah haji pada hakikatnya merupakan penegasan kembali tentang keterikatan umat dengan prinsip-prinsip keyakinan tentang keesaan dan neraca keadilan Tuhan, serta tentang nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Berkaitan dengan penghayatan nilai-nilai kemanusiaan, ia menerangkan bahwa Surah Al-Baqarah ayat 199 turun untuk menegur oran g-orang yang disebut dengan “al-hummas” yakni orang yang merasa memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu dengan jamaah haji lain tatkala mereka melakukan wukuf.
Ada satu hal menarik yang dapat kita teladani dari tokoh agama Islam Indonesia yang sepulang menunaikan ibadah haji mereka melakukan perombakan-perombakan dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, politik dan budaya. Sebut saja nama K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari yang berkontribusi besar bagi bangsa dengan mendirikan ormas sebesar Muhammadiyah dan NU yang sampai saat ini telah melahirkan aktor intelektual di level lokal, nasional maupun internasional.
Setelah mereka pulang dari Mekkah tidak memahami ajaran Islam dengan cara-cara radikal, ekstrem, dan menakutkan seperti stereotipe yang dilontarkan “Barat”. Hal ini terbukti telah dipraktikkan Haji Ahmad Dahlan dengan mendirikan Majlis Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) ketika masa awal pendirian Muhammadiyah yang ditujukan untuk memberikan bantuan kepada fakir miskin tanpa melihat keyakinan religinya.
Bahkan ketika Haji Ahmad Dahlan mengajarkan kepada muridnya Surah 107, Al-Ma’un (Pertolongan) berkali-kali ia menekankan untuk tidak memahami saja, tetapi sampai pada tahap mempraktikkannya. Dia juga menyerukan untuk merenungkan penderitaan tetangga miskin dan hendaknya membantu mereka (Alwi Shihab, 1998: 117).
Dalam tradisi NU juga nilai-nilai transformatif kyai yang bergelar haji dapat disaksikan dari bertebarannya lembaga-lembaga pendidikan tradisional (pesantren) yang telah berkontribusi mencerdaskan kalangan bawah. Sebab, latar belakang sosial-ekonomi santri di pesantren kebanyakan berasal dari kaum marjinal, meskipun untuk pesantren modern seperti gontor; banyak santri yang berasal dari kalangan menengah ke atas.
Uraian di atas mengindikasikan bahwa gela r haji haruslah disandang oleh oran g-orang yang dapat membumikan ajaran-ajaran langit, karena agama itu turun ke dunia (bukan ke akhirat) dan eksistensi ajaran tersebut diturunkan hanya untuk kepentingan umat manusia. Lantas, sudahkah kita bergelar haji transformatif? Seorang haji yang hidupnya tidak gila kelas!
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: