14 January 2007

"Huhujanan" dan Wujud Kearifan Ekologis

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
Tanpa mengenakan baju, segerombolan anak kecil dipedesaan berlari-lari sembari berdendang riang: “hujan sing gede karunya ka budak gede” (hujan semoga membesar kasihan pada anak dewasa/orang tua). Kegiatan itu populer dengan istilah “huhujanan”. Dilakukan anak-anak berusia sekolah dasar ketika musim hujan tiba, karena mereka rindu dan senang dengan kedatangan air hujan.
Apalagi setelah berbulan-bulan di daerahnya tak kunjung turun hujan. Dapat dipastikan jika kegembiraan barudak leutik (anak-anak) akan terlampiaskan dalam wujud aktivitas “huhujanan”. Salah satu aktivitas yang menggambarkan kegembiraan rasa tatkala usum halodo berganti dengan usum ngijih (musim hujan). Saking rindunya anak-anak pada air hujan, ketika musim kemarau yang lalu kerap kali ada diantara mereka yang melakukan ritual memandikan Kucing (ngamandian ucing) untuk mengundang datangnya air hujan.
Atau, dalam ajaran Islam terdapat ibadah yang ditunaikan kala musim kemarau dengan maksud memohon agar diturunkan air hujan dan populer dengan istilah “shalat istisqha” (shalat meminta hujan). Malahan dalam tradisi masyarakat modern yang banyak menggunakan perkakas teknologi juga, mereka acapkali menciptakan air hujan buatan. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap orang pasti merasa rindu akan datangnya air hujan di kehidupan.
Pamenta (do’a)
Dalam khazanah pribahasa Sunda ada kalimat yang menarik untuk menggambarkan diijabahnya doa ketika mengucapkan: “hujan sing gede karunya ka budak gede” dari anak-anak yang sedang huhujanan. Yakni kalimat: “saciduh metu, saucap nyata” (kata-katanya sering nyata terjadi). Sebab, anak kecil yang masih bersih dari noda dan dosa, biasanya, akan diijabah kata-kata ataupun doanya. Jadi, ketika mereka mengucapkan perasaannya pikeun ngagedekeun turunnya air hujan, Tuhan juga serta merta akan mengijabahnya.
Selain itu, ketika anak-anak lalumpatan sembari mendendangkan nyanyian rakyat “hujan sing gede karunya ka budak gede” adalah bentuk pamenta kepada Tuhan dan wujud kanyaah mereka, misalnya, kepada para petani yang sawahnya kekeringan (tarelaan). Sebab, dari haleuang tersebut terkandung sebuah muatan doa (pamenta) anak kecil yang bebas dari segala bentuk kepentingan pribadi yang memohon turunnya air hujan semakin membesar agar bermanfaat bagi pertanian.
Dalam acara “huhujanan” juga terkandung nilai-nilai kearifan ekologis yang dapat menanamkan kesadaran manusia bahwa musim hujan sangat berkait erat dengannya hingga dirinya sangat menunggu-nunggu kedatangan cai hujan. Apalagi bagi para petani di pelosok desa yang pada musim kemarau sawahnya kering. Dapat dipastikan jika air hujan adalah salah satu substansi dari materi yang selalu diselipkan ketika dirinya berdoa kepada Tuhan.
Jadi, wajar dan logis sekali jika “huhujanan” dipraktikkan anak-anak karena menjadi satu-satunya ajang untuk menyambut kedatangan musim hujan yang dinanti-nantikan warga. Meski tidak menutup kemungkinan bagi warga kota , musim hujan banyak dipandang sebagai salah satu pemicu terjadinya banjir, namun bagi saya dan anak-anak desa, kejadian banjir tersebut lebih disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah ekologis.
Relasi harmonis
Huhujanan” dalam kehidupan barudak leutik secara sosiologis adalah aktivitas yang dilakukan untuk mengisi waktu luang dengan cara memanfaatkan gejala alam yang diciptakan Tuhan. Tak salah kiranya jika praktik “huhujanan” kita kategorikan sebagai satu dari sekian banyak permainan rakyat (folklore) yang memanfaatkan potensi naturalistik dari gejala alam bernama air hujan.
Dengan huhujanan juga, sebentuk kesadaran perennial untuk membina relasi yang harmonis dengan alam bakal tertanam dan bangkit kembali dari alam bawah sadar anak. Tidaklah heran jika pada akhir aktivitas huhujanan, warga Sunda sering melontarkan senandung: “hujan sing leutik karunya ka budak leutik” (hujan semoga mereda, kasihan pada anak kecil). Mengapa demikian? Karena air hujan yang turun telah dirasa cukup untuk saat itu, hingga anak kecil mesti ngampih ka imah dan bebersih karena takut terserang penyakit balideug, flu, dan panas dingin.
Dengan akibat (penyakit) yang bakal diperoleh mereka yang huhujanan, kesadaran purba bahwa gejala alam dapat membahayakan kesehatan dan ketentraman manusia dapat dijadikan modal awal untuk mengembangkan kesadaran bahwa mereka tidak boleh menyepelekan alam. Dalam bahasa lain, mereka mesti membina relasi yang harmonis dengan ekosistem lingkungan (baca: alam), agar terjalin hubungan yang saling menguntungkan antara alam dengan manusia pada musim hujan.
Kesadaran ekologis yang semestinya dimiliki seluruh warga karena air hujan (cai hujan) dalam kehidupan merupakan elemen terpenting yang tidak boleh dianggap sepele, disia-siakan, bahkan tidak boleh dihambur-hamburkan. Maka, musim hujan tidak lantas jadi musim yang dijibuni aneka ragam bencana alam, sebagai imbas dari ketidaksadaran kita pada bahaya-bahaya ekologis.
Jika saja sekarang saya masih kecil, hari ini ketika turun hujan; mungkin akan membuka baju dan berlari-lari menyambut kedatangannya sembari engklak-engklakan dan bernyanyi riang: “hujan sing gede, karunya ka budak gede”. Namun, jika di daerah yang sering terkena banjir, longsor, gempa dan sebagainya; saya akan bersenandung lirih: “hujan sing leutik, karunya ka budak leutik”.
Sebab, bagi warga disekitar hutan, umpamanya, mereka akan berlari-lari (bukan gembira) karena takut terkena longsor dan warga diperkotaan juga lulumpatan untuk mengungsi karena “inggis ku risi rempan ku sugan” (takut) terkena banjir di musim hujan. Bukan kegembiraan rasa yang bergelayutan di wajah mereka. Melainkan ketakutan yang teramat sangat parah terlukis di wajah warga (rawan bencana) ketika turun cai hujan didaerah tempat tinggalnya. Wallahua’lam
SUKRON ABDILAH
Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda.
No HP: 081394562192
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: