14 January 2007

Menggagas Pemahaman Multikultural

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
Masyarakat sadar budaya adalah determinator konstruktif untuk mewujudkan hubungan antar etnis yang harmonis dalam medan sosial. Dengan menyadari secara penuh kebudayaannya sendiri, eksistensi kebangsaan pun jangan ditumpur-habiskan, direpresi, dan dikhianati karena dapat memudarkan kolektivisme, integralisme, dan kedamaian.
Ketika kebudayaan dijadikan sebuah mesin ideologi sampai-sampai menyaingi nilai-nilai pemersatu pancasila, retaknya bangunan yang menopang keajegan bangsa Indonesia tidak dapat dimungkiri dan dihindari lagi. Alhasil, bangsa ini bakal lemah-lunglai tak berkutik ketika arus intervensi kebudayaan “asing”, umpamanya, menerjang dan mereduksi keaslian budayanya. Maka, paradigma kultural masyarakat mesti terpola pada bentuk empatisisasi kebudayaan etnis lain, guna mewujudkan sikap-sikap inklusif, toleran, dan menghargai eksistensi kebudayaan warga lain di Indonesia .
Lantas, bagaimana dengan eksistensi kebudayaan Indonesia yang memiliki keanekaragaman, keunikan, namun bernilai konstruktif bagi persatuan bangsa? Apakah keragaman mesti diseragamkan sembari menghancurkan kearifan lokal (local wisdom) hingga identitas asli (genuine identity) kesukuan warga meredup bagai cahaya lilin yang terembusi angin malam?
Kenapa harus ada nama Indonesia jika saja kita masih mempermasalahkan perbedaan di tubuh bangsa, khususnya perbedaan etnis yang kerap memicu bertebarannya konflik di suatu daerah? Andaikan seluruh masyarakat yang secara sosio-geografis berada pada ranah yang dipenuhi keberbagaian strata sosial, tingkat kebudayaan, dan aneka keyakinan memiliki kesadaran penuh akan identitas kebudayaan sendiri dan kebudayaan warga lain, nis caya kemajemukan dapat diapresiasi.
Kesadaran eksistensial
Kesadaran eksistensial akan keragaman budaya adalah kepompong yang akan melahirkan segenap cita rasa yang bebas dari arogansi, narcisistik, dan rasis-fasis kesukuan. Maka, pendidikan berorientasi Bi-Cultural atau multikulturalistik untuk bangsa yang majemuk dengan identitas kultural mesti dirangsang-ulang agar secara psikologis bangsa kita lebih inklusif, toleran, dan mengakui perbedaan.
Di dalam analisis pemikiran Michel Foucalt, kebudayaan sebagai sistem pengetahuan manusia bisa berubah menjadi penghantar langgengnya sebuah kekuasaan. Akibatnya, sikap merendahkan local wisdom bakal dirasakan, umpamanya, bisa kita lihat dari banyaknya kebijakan-kebijakan yang bersifat atas-bawah dan tidak mendengarkan suara-suara lokal masyarakat daerah. Masih berseliwerannya gejala diskriminatif ini mengindikasikan bahwa paradigma kultural kita masih linear dan tidak integral, bahkan cenderung sentimental. Tidaklah heran jika bangsa cenderung terkavling-kavling dan dideterminasi rasa kesukuan, agama, dan keyakinan tertentu.
Kita tidak mengharapkan jika pertarungan wacana etnis sampai mengerucut hingga menumbuhkan benih penyakit lama “etnosentrisme” yang acap kali memandang sebelah mata etnis luar sebagai “The Other”. Maka, paradigma kultural yang tolerantif dan integratif pada posisi demikian sangat dibutuhkan oleh bangsa yang dipenuhi diversitas kebudayaan. Wacana sosialisasi dengan memasyarakatkan keragaman budaya di tiap daerah adalah sebuah cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan bersosial bangsa yang sekarang terlihat amat mengkhawatirkan. Eksistensi kesadaran terhadap diversitas kebudayaan bangsa pun perannya sama seperti sembako dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketika sembako tidak terpenuhi secara berkecukupan, chaos yang tak berbudaya lewat pelbagai konflik horizontal akan terus menjibuni realitas objektif hidup masyarakat Indonesia .
Masyarakat berbudaya
Oleh karena itu, cetusan rekonstruksi masyarakat Indonesia ke arah pemahaman multikultural adalah gagasan argumentatif, apalagi hembusan angin konflik yang menjalari tubuh bangsa banyak bermula dari ketidaksadaran warga akan keragaman budaya. Dengan memasyarakatkan kemajemukan etnis yang ada di Indonesia , diharapkan dapat memantik kesadaran bangsa bahwa pluralitas budaya tidak bisa diingkari, dicaci-maki, bahkan di-peta-konflik-an.
Meminjam bahasa Mudji Sutrisno dalam buku Hermeneutika Pascakolonial; Soal Identitas (2004: 6) bahwa setiap politik penyeragaman hanya akan mematikan rasa keindonesiaan dalam pembekuan teks yang sekarat dan layu. Menurutnya setiap upaya merumuskan manusia dan sesamanya mesti dijadikan proyek kultural seluruh teks dan antarteks untuk menyelesaikan krisis kebanggaan “ber-Indonesia” dan perlu kiranya jika kita menjadi lebih baik, lebih beradab tanpa terkeping-keping “distrust”.
Maka, sosialisasi yang edukatif tentang tidak bisa diingkarinya keragaman kultural di bumi pertiwi ini mesti dirajut hingga mewujud dalam sebuah teks konstitusional yang diimplementasikan dalam bentuk kurikulum pendidikan multikultural. Namun tidak boleh hegemonik; melainkan menyerahkan secara penuh “otonomisasi” pengelolaan pendidikan kepada pihak daerah. Dengan syarat harus menanamkan secara intensif pada masyarakat atau anak didik bahwa keberbagaian kultur tidak boleh dikhianati. Harus diapresiasi, ditoleransi, dikonstruksi hingga bangsa ini bakal bermetamorfosa dari kepompong menjadi kupu-kupu nan ind ah, dalam hal ini adalah munculnya masyarakat yang berkebudayaan.
Sebab, syarat utama untuk bisa dikategorikan masyarakat berbudaya adalah bijaksana ketika mereka berdialektika dengan keragaman kultur dilingkungan sekitarnya. Itulah gambaran komunitas (masyarakat) yang cerdas secara kultural. Yakni warga yang arif menghadapi keberbagaian identitas budaya dikehidupannya, sehingga bijaksana dan bijaksini tatkala perbedaan menghiasi “arena sosial” didaerahnya.
Mereka juga mesti mampu menghadapi dan menanggulangi gesekan-gesekan konflik yang banyak ditimbulkan ketidakcerdasan masyarakat akan pluralitas budaya. Kecerdasan kultural seperti ini lebih mengarah pada kepiawaian mengharmonisasi keretakan relasi antar etnis manakala mereka berada di suatu tempat yang secara sosio-historis bukan tanah kelahirannya.
SUKRON ABDILAH, Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda
sumber: FORUM (Kompas Jawa Barat, 13 Januari 2007)
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: