1 February 2007

Wudlu Lingkungan

BAGIKAN

Oleh SUKRON ABDILAH

SETELAH sekian bulan lamanya kita kepanasan, kekeringan, dan susahnya mendapatkan air bersih. Akhirnya, rasa suntuk di jiwa pun tumpur seketika manakala guyuran air hujan mulai basahi bumi tercinta ciptaan-Nya ini. Maka, petani bakal bersenyum ria karena tanah kering pesawahannya bisa kembali ditanami, warga kota seperti urang Bandung juga tak akan kegerahan lagi.

Pokoknya air hujan kembali segarkan udara yang dijibuni, katanya, pemanasan global ini. Namun dibalik gelak tawa, keriangan hati dan kegembiraan rasa tatkala musim hujan tiba; ada satu hal yang mesti kita perhatikan baik-baik.

Satu hal itu adalah tradisi masyarakat kapungkur yang acap kali bergotong royong membersihkan selokan, jalan, halaman rumah dari jibunan sampah dan rerumputan yang dapat menghalangi laju air. Aktivitas tersebut di tempat kelahiran saya, Garut tea, pada tahun 1990-an sangat populer betul.

Pada saat saya sedang berumur delapan tahun sering kali menyaksikan masyarakat di kampung turun bersama-sama untuk ngabersihan kampung. Tujuannya agar suasana kampung resik tur bersih, bebas dari tumpukan ilalang dan sampah yang tak sedap dipandang. Apalagi kalau musim hujan. Boleh jadi banjir kecil maupun besar bakal rutin terjadi. Dan, tentu saja kegiatan beberih tersebut dilaksanakan pada hari Jumat.

“Jumsih”!

Itulah istilah yang dikenal masyarakat kita tempo dulu untuk menyebut kegiatan membersihkan halaman rumah, gang, dan selokan dari sampah yang berserakan. Bila diuraikan, istilah “Jumsih” adalah singkatan dari Jumat bersih. Sebuah istilah yang menggambarkan bahwa di hari Jum’at kita mesti berkumpul (berjamaah) membersihkan diri dan lingkungan sekitar. Sebab, kebersihan merupakan salah satu tiang penyangga keimanan kita.

Bukankah ketika hendak mendirikan ibadah salat, kita diwajibkan berwudlu terlebih dahulu? Ya, wudlu itu mesti dilaksanakan untuk membersihkan diri kita dari aneka macam kotoran dan najis yang menempel di tubuh. Lantas, bisakah kita juga membersihkan lingkungan dengan wudlu?

Karena pada konteks kekinian lingkungan kita juga sangat memerlukan upaya pembersihan dan pelestarian, dalam istilah Islam adalah berwudlu. Tak salah kiranya kalau kita menyebut program pembersihan yang dilakukan masyarakat tersebut sebagai wujud dari wudlu lingkungan. Aktivitas membersihkan lingkungan dari sampah berserakan yang dapat mengganggu kesehatan.

Maka, perintah berwudlu tatkala hendak melaksanakan salat, tentunya bisa kita terapkan juga untuk lingkungan sekitar. Itu juga kalau kita masih memegang teguh bunyi hadits: “Kebersihan merupakan sebagian dari iman”.

Andai saja hari ini warga kota dan pemerintahan, mampu mempraktikkan kegiatan bebersih di tiap daerah, suasana lingkungan juga bakal enak katembong dan ditembongkeun. Namun, entah kenapa sekarang ini gaung tradisi bebersih di hari Jumat seakan disubordinasi oleh acara-acara televisi seperti sinetron, film, dan acara lawakan yang telah membuat warga malas keluar rumah hanya untuk membersihkan jibunan sampah.

Maka substansi hadits “Al-nadhafatu min al-iman”, kebersihan adalah sebagian dari iman, seakan lekang dari kesadaran. Apalagi bila menginjak perkotaan yang hari ini susah mencari tempat pembuangan sampah, boleh jadi pepatah Nabi Saw tersebut hanya berujud teks yang tak bernilai perubahan.

Di dalam Al-quran dijelaskan bahwa: “kaburot maqtan indallahi antaqulu maala taf’aluun”, artinya: teramat sangat murka Allah SWT kepada orang yang berkata-kata namun hampa perbuatan. Berarti, bila kegiatan bebersih merupakan salah satu perintah dari-Nya; teramat jahat rasanya kalau lingkungan kita masih tak sedap dipandang. Bahkan, banyak timbulkan masalah berupa bencana alam yang lebih banyak ditengarai oleh kesalahan (disengaja) manusia.

Ah, katanya manusia itu tempatnya salah dan lupa (al-insanu mahalu al-khaththa wa al-nisyan); jadi, wajar dan logis bila banyak berbuat kesalahan (?). Saya pikir kalau kesalahan tersebut telah menyebabkan munculnya kerusakan-kerusakan, tidak bisa ditolelir. Sebab, Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (di muka bumi) (Q.S. Al-Qashash; 77).

Apalagi dengan kerusakan alam, tentunya akan mengakibatkan bertebarannya aneka macam bencana sebagai peringatan bagi umat manusia. Agar mereka sadar bahwa lingkungan juga mesti berwudlu (bebersih) sehingga kententraman dan ketenangan jiwa serta merta bakal diraih bersama.

Bukankah ketika kita menyingkirkan duri dari jalanan pun, hal itu adalah sebuah manifestasi keimanan? Mengapa? Sebab, dengan membersihkan jalan dari sesuatu yang dapat merugikan atau mencelakakan orang banyak, hal itu termasuk ke dalam perilaku yang cerminkan kebaikan (al-ma’ruf). Itulah inti dari sisi kemanusiaan kita. Ya, untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

Bentuk kebaikan tersebut salah satunya adalah menggiatkan kembali tradisi bebersih di hari Jumat, agar lingkungan sekitar tidak rusak. Namun, akan lebih baik lagi kalau bisa dilakukan saban hari. Karena, kita juga rutin setiap hari berwudlu tatkala hendak melaksanakan salat. Semoga saja! Wallahua’lam

Penulis, Peminat Masalah Lingkungan Hidup, Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: