3 March 2007

“Kaulinan Barudak Sunda”

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

ENGKLAK-engklakan meuni lalucu pisan. Barudak urang ngariung di buruan”

DERETAN kata di atas, acapkali menggiring kesadaran saya pada kenangan masa silam tepatnya 15 tahun ke belakang. Kala itu, ketika wanci menginjak tabuh empat sore, saya bersama anak-anak sebaya (saentragan) sedang bermain di halaman seluas beberapa meter persegi milik Mang Adang. Ketika kegiatan itu berlangsung, kegembiraan rasa pun mengatmosfer hingga muncul nyanyian rakyat: “engklak-engklakan meuni lalucu pisan”.

Mengapa demikian? Sebab pada saat itu “barudak urang (Sunda) ngariung di buruan” untuk memainkan ragam jenis kaulinan seraya bergembira ria. Tanpa ada beban berat yang disandang. Tanpa ada protes (demonstrasi) kepada orang tua seperti barudak sekarang yang kokosehan ceurik balilihan ingin dibelikan rorobotan, momobilan, pepestolan dan PS 2.

Sangat berbeda dengan anak-anak saentragan saya waktu harita. Jika menginginkan momobilan, saya membuatnya sendiri dari bambu dan kayu. Begitu juga kalau mau pepestolan, anak-anak baheula berlomba (fastabiqul-khairot) mengkreasi beubeuletokan dari dahan bambu. Pada waktu itu juga, kami sering membuat wawayangan dari pohon sampeu sebagai representasi dari rorobotan saat ini. Pokoknya, tidak usah repot-repot menangis keras tatkala menginginkan sesuatu.

Kreatif bukan? Ya, kreatif betul ketimbang anak-anak sekarang. Kala itu setiap barudak Ki Sunda telah menjadi individu yang produktif, tidak konsumtif. Berbeda sekali dengan anak-anak sekarang yang banyak menjadikan air mata sebagai upaya mewujudkan keinginan memiliki sesuatu hal. Dulu, anak kita kreatif-produktif; sekarang banyak yang reaktif-konsumtif. Lantas, apa penyebabnya? Kemajuan teknologiskah? Atau ada semacam ketidaklekatan rasa barudak ayeuna pada alam? Ah, bisa juga penyebabnya itu semua.

Coba bandingkan kaulinan anak-anak yang hidup pada zaman modern dengan anak-anak dusun di tatar Sunda dulu yang tradisional. Misalnya aneka macam perkakas kaulinan kontemporer dengan – bisa dibilang – tradisional, tapi mengasyikkan! berbeda betul. Perkakas kaulinan dulu langsung dari alam. Sekarang lebih cenderung ilmiah, tetapi menyingkirkan keberadaan alam. Tak heran kalau banyak terjadi keterasingan diri (alienasi) generasi muda dari alam sekitar.

Dalam bahasa lain, dulu alam adalah “fartner sejati” yang dibutuhkan dan saling membutuhkan. Sekarang, anak-anak kita tidak merasa membutuhkan karena bisa langsung membeli aneka permainan dari toko. Meskipun bahan dasarnya dari alam. Tapi saya rasa cenderung merupakan hasil dari pengeksploitasian kekayaan ekologis.

Kalau ada kemauan dari stakeholders, bakat barudak seperti seangkatan dengan saya ini bisa lebih digenjot ke arah yang menjanjikan. Mengarahkan mereka hingga dapat menciptakan permainan yang asyik dan mengasyikkan. Tidak lantas asyik dan menyakitkan kantong orang tua saja. Apalagi di tengah kondisi perekonomian yang degradatif. Boleh jadi permainan lokal masyarakat Sunda baheula harus dihidupkan kembali karena murah-meriah. Masalahnya, apakah masih ada anak-anak Sunda, apalagi di kota , yang sudi bermain sambil bernyanyi riang: “perepet jengkol salawean/kadeumpet……jejeretean”.

Biasanya kaulinan yang dilakukan barudak lalaki adalah perepet jengkol, ucing lumpat, ucing sumput, boy-boyan, galah tawan, galah porog, dan sebagainya. Sedangkan barudak awewe lebih banyak memainkan jenis kaulinan yang feminin seperti sondah, bekleus, ucing bancakan, dan lain sebagainya. Anak lelaki secara tidak langsung dipupuk menjadi generasi yang kuat, cerdas, dan mampu berkelit dari terjangan masalah. Kalau anak perempuan, diajarkan untuk lebih pintar dan piawai menjaga lanskap rumah tangga kekuasaan dari terjangan perilaku patologis masyarakat modern. Mengapa?

Sebab, dengan memainkan jenis kaulinan itu, barudak akan mendapatkan manfaat untuk pengembangan intelektual, emosional dan sosial. Bahkan spiritual. Misalnya, dalam permainan ucing sumput seorang anak secara intelektual akan belajar menghitung bilangan dari 1 sampai 25. Lantas juga bakal mendapat keuntungan emosional. Sebab, di dalam permainan tersebut biasanya mereka harus mengelola rasa dan mengucapkan 25 ketika menemukan teman sepermainan yang sedang bersembunyi.

Bahkan secara sosiologis, anak-anak anu arulin di halaman bakal piawai membina hubungan yang harmonis dengan sesama, terjalin ikatan kolektif dan berjiwa integratif. Jadi, anak zaman baheula lebih memiliki kecerdasan sosial yang tinggi ketimbang barudak sekarang. Anak sekarang lebih asyik dengan permainan yang hanya bisa dimonopoli secara individual. Sementara itu, barudak masa dulu, meski sebagian, bersama-sama tertawa dan menari (baca: engklak-engklakan) dengan gembira. Ya, sekarang barudak teh cenderung konsumtif dan ind ivualistik.

Contoh kasus anak konsumtif dan individualistik dapat dirasakan dari fenomena menjamurnya alat permainan PS. Seperangkat PS hanya bisa dimainkan oleh satu-dua orang saja. Ketika ada anak lain yang menginginkan permainan PS, biasanya anak yang punya PS keukeuh peteukeuh tidak mau berbagi. Sekarang ini kegembiraan hanya milik segelintir orang. Betul sekali bahwa barudak dulu gembira bersama. Sebab, ketika saya memiliki wawayangan, beubeuletokan, dan momobilan; orang lain juga akan berusaha membuat dan memilikinya. Tak ada rasa iri, dengki, pidik, sirik, jail dan kaniaya.

Itulah kreativitas kaulinan barudak Sunda. Mengajarkan anak-anak untuk mandiri, berjiwa sosial, dan lebih utama lagi menciptakan generasi yang tidak konsumtif. Tidak gampang terpana produk bangsa luar. Tetapi berusaha menciptakan dunia kaulinan secara arif dan bijaksana menurut potensi lokal. Betul. Kaulinan merupakan identitas yang bisa menandakan eksisnya suatu peradaban. Bahkan wujud dari kecerdasan spiritual, karena anak-anak diajarkan untuk tidak iri, dengki, pidik, sirik, jail, dan kaniaya. Walahua’lam
(Pikiran Rakyat, 24 Pebruari 2007)

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: