12 April 2007

Berkah “Muludan” Untuk Bangsa

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Bulan Mulud di pulau Jawa tentunya mengingatkan kita pada keunikan dan keragaman budaya. Kita dapat menyaksikan atraksi kebudayaan di Yogyakarta yang mewujud dalam bentuk tradisi grebeg mulud atau sekaten. Di Cirebon kita akan menemukan wujud tradisi panjang jimat yang rutin dilaksanakan pihak Keraton. Bahkan, masyarakat di Palabuhan Ratu (Sukabumi) kerap memeringati hari kelahiran kanjeng Nabi Muhammad dengan menggelar prosesi nyeukeutkeun diri.

Perkawinanan kultural antara Islam dengan tradisi lokal menurut kekhasan masing-masing daerah memberikan atraksi kebudayaan yang unik dan beragam. Tidaklah heran jika setiap tahun kita akan menemukan tradisi “muludan” dilakukan masyarakat secara khas. Sebuah aktivitas kebudayaan yang memanfaatkan kearifan budaya masyarakat lokal, meskipun dalam rangka merespon secara kultural atas fenomena (global) kelahiran kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Muludan diartikan sebagai ragam aktivitas menyedekahkan sesuatu seperti hasil tanaman bertani pada tanggal 12 bulan Mulud (Rabiulawal) untuk memeringati hari kelahiran kanjeng Nabi Muhammad. Salah satu kegiatan tersebut adalah marhabaan, yakni membaca sya’ir yang dikarang Syekh Al-Barzanji dalam ritual Muludan. Mungkin dari sinilah urang Sunda mengenal pribahasa “kokoro manggih mulud”.

Mengapa? Sebab, setelah selesai melantunkan (maca marhaba) sya’ir tentang kanjeng Nabi Muhammad, masyarakat akan membawa dan menyantap aneka hidangan yang tersedia. Maka, peribahasa “kokoro manggih mulud” ini digunakan untuk merepresentasikan oran g yang kokomoan barang dahar seperti yang kelaparan saja. Segala yang tersedia dibabat habis sampai-sampai saling berebutan satu sama lain.

Ajaran moral

Muludan sebagai sebuah prosesi sakral dan profan yang sarat akan makna simbolik mengandung berkah tak terkira bagi kelangsungan budaya kita. Dalam konteks ini, tradisi muludan harus dipahami secara kontekstual oleh bangsa kita. Agar tidak sebatas ritual yang kering dari nilai-nilai transformasi sosial. Sebab, dalam khazanah keyakinan masyarakat lokal, terutama seperti yang tercermin dalam praktik Muludan di wilayah Priangan, terkandung ajaran moral untuk mengasah kepedulian sosial.

Misalnya, prosesi “marhaba” yang dilakukan sembari menyediakan aneka macam panganan dan makanan untuk dikonsumsi masyarakat adalah cermin dari kepedulian sosial. Nasi tumpeung, sangu koneng, leupeut, dupi, dan sebagainya yang tersedia tatkala memeringati hari kelahiran sang Nabi yang terkenal dengan sebutan muludan, mengindikasikan pentingnya berbagi kesenangan dengan sesama. Ketika mereka saling berebutan mengambil makanan, terkandung suasana yang menggembirakan karena setiap oran g ingin memeroleh berkah darinya. Istilah tepatnya adalah “ngalap berkah”.

Dengan demikian, secara kontekstual kita dapat menarik benang merah bahwa masyarakat berkewajiban memiliki solidaritas sosial dan pemerintah juga harus memerhatikan nasib rakyat. Tidak boleh memperkaya dirinya ataupun kerabat dekat karena mereka adalah seorang manusia yang semestinya mengayomi hak asasi untuk hidup dalam kesejahteraan. Oleh sebab itu, muludan pada konteks kekinian mesti dijadikan alat untuk memandikan pribadi supaya bersih dari sikap individualistik, antiintegratif, jahat dan korup.

Ketika di tatar Sunda sedang digerayangi kecemasan akibat mengguritanya angka kemiskinan, umpamanya, berkah Muludan akan terwujud jika saja sebagai local indigeunos ditafsirkan secara kontekstual. Sebab secara psikologis, terciptanya sebuah kebudayaan dalam komunitas masyarakat tertentu adalah cermin dari upaya penciptaan media untuk meredakan kecemasan (tension relief) yang dirasakan masyarakat sekitar. Salah satunya kecemasan yang muncul diakibatkan kemiskinan.

Menyatukan rasa berindonesia

Dalam konteks kebangsaan, tradisi muludan juga sebagai local wisdom kerap melembaga sehingga bertransformasi menjadi pengetahun, selera dan bahkan sarat akan makna simbolik. Prosesi muludan dengan ciri khas masing-masing mengandung daya gugah baru untuk menyatukan rasa berindonesia di tengah keanekaragaman budaya. Secara sosiologis dalam perspektif Bouerdieu: pengetahuan, selera, dan makna pada dasarnya bersifat sosial dan memiliki hubungan antara kelas dengan bagian-bagian kelas dalam “ medan sosial” (Scott Lash, Sosiologi Posmodern; 2004).

Begitu juga dengan Muludan. Artinya, sebagai sebuah pengetahuan yang masih bisa berkembang dalam konteks ruang dan waktu modernitas, sangat terkait erat dengan keharmonisan relasi sosial di tubuh masyarakat. Maka, pragmentasi etnik ke arah primordialisme di bulan Rabiulawal yang lebih populer dengan bulan Mulud pada masyarakat Sunda dan Jawa, semestinya tidak dipelihara.

Sebab, diversitas kebudayaan merupakan keniscayaan bagi manusia yang memiliki akal sehat kolektif. Prosesi Muludan sangat sarat dengan muatan-muatan simbolik yang mengajarkan manusia untuk tidak mengesampingkan eksistensi kebudayaan masyarakat lain. Tidak hanya dilaksanakan untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad an sich. Namun, sampai pada upaya mengikat rasa koletif secara kultural di tengah-tengah merebaknya gejala keterpecahan relasi sosial akibat kian memudar dan meredupnya semangat kolektif-integratif.

Perkawinan kultural antara nilai-nilai agama (Islam) dan adat-istiadat masyarakat lokal berbentuk Muludan ini merupakan salah satu usaha menghargai keberbedaan budaya dan media pereda kecemasan. Prosesi muludan dalam konteks kekinian sarat dengan berkah tak terkira bagi bangsa. Berkah itu adalah perjanjian kultural yang kekuatannya lebih dahsyat ketimbang perjanjian politik. Sebab, dengan ikatan perjanjian kultural akan muncul kekuatan kolektif untuk berbhineka-tunggal-ika di bumi nusantara ini.

Berkah tak terkira dari prosesi Muludan lainnya, yaitu dapat menjadi daya gugah bagi kemelempeman “sense of integrity” masyarakat. Rasa persatuan dan kesatuan melalui hantaran budaya ini, semestinya ditafsir ulang sehingga hari kelahiran Nabi Muhammad dapat mengikat rasa kolektif meskipun berada di tengah-tengah keberbedaan kultural. Walahua’lam


BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

Dildaar Ahmad said...

Artikel anda sungguh menarik. salam kenal ya

Sukron Abdilah said...

terima kasih...salam kenal juga.