15 April 2007

"Sakola Ka Bandung"

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

NENG nele nenggung/geura geude geura jangkung/geura sakola ka Bandung .
WAjib Belajar sepanjang hayat (life long education) adalah kado berharga untuk buah hati kita. Kado yang harus diberikan untuk keberlangsungan hidup mereka. Sebab, dengan memiliki elmu, mereka akan memiliki “pangaweruh” sehingga mampu ngigeulan zaman yang semakin maju pesat ke arah globalisasi. Ya, sekarang kita memerlukan sebuah kota yang mempasilitasi tergapainya cita-cita ideal tersebut.

Istilahnya adalah kota pendidikan. Bandung kota pendidikankah? Ataukah sekadar kota pakean? Ah, mungkin kota pendidikan dan pakean adalah predikat yang tidak bisa lepas dari Bandung . Disamping terdapat Mall, Factory outlet, Supermarket, minimarket, dan PKL; terdapat juga universitas, institute, lembaga pendidikan dan sekolahan.

Patutkah predikat Bandung sebagai tempat pendidikan disandang? Tempat menimba ilmu (sakola) generasi muda dari pelosok desa, yang secara jelas merupakan impian tiap orang tua. Impian tersebut tergambar jelas pada lirik nyanyian rakyat yang saya kutip di atas. Sebuah harapan futuristik dari orang tua di tatar Sunda untuk menyekolahkan anak-anaknya ke Bandung . Meskipun secara geografis berasal dari Garut, saya umpamanya, atas doa dan usaha secara kebetulan kuliah di Bandung .

Kondisi Bandung telah berubah. Dari dilingkung ku gunung, sekarang malah dilingkung ku gedung. Mall, factory outlet, supermarket, minimarket, kafe, dan papan reklame menambah kota ini bergeser dari kota pendidikan ke kota “cangkang luar”. Ini bisa dilihat di pusat perkotaan. Tidaklah heran jika almarhum Harry Rusli pernah bertanya retoris dan bikin kita nyinyir atas kondisi kota Bandung , kurang lebih kalimatnya begini:“emangnya kita akan makan calana dan pakean?”. Saking banyaknya pusat-pusat perbelanjaan di kota bermartabat ini.

Pramoedya Ananta Toer juga dalam buku bertajuk: Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2006) beropini tentang Bandung . Mulai pemberian julukan Paris van Java semasa kolonial, julukan “Bandung lautan api” semasa revolusi fisik, konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955, “mojang priangan” yang disenandungkan dalam lagu “Panon Hideung” yang melodinya sama dengan lagu “Far Over The Sea”, hingga legenda Sangkuriang yang punya kemiripan dengan cerita Yunani kuno, Oedipus Rex (hlm 64-69).

“Orang yang meninggalkan Bandung untuk mengelilingi dunia akan kembali lagi ke Bandung ”. Begitulah sepenggal kesan dan pandangan dari seorang kolumnis Belanda, M.A.W Brouwer ketika dirinya pernah singgah di kota Bandung . Memberikan bergalon-galon ilmu tentang Psikologi di Universitas Padjadjaran. Kemudian, ia menyanjung Bandung lagi sebagai kota yang pantas dicintai karena merupakan ratunya Provinsi Jawa Barat (M.A.W. Brouwer, 2003).
***
TAK salah kiranya jika saya sakola ka Bandung . Istilah sakola bersanding kuat dengan kata School yang berarti tempat belajar (sekolah). Secara teoritis, proses pendidikan memerlukan peran serta infrastruktur untuk dapat terus eksis. Tanpa kehadiran infrastruktur, out bound learning, yakni belajar di luar adalah salah satu solusi yang tidak mahal biayanya, lho. Itu juga kalau pemerintahan tidak ma(mp)u menganggarkan biaya rehabilitasi gedung sekolah dari APBD (?). Tapi saya yakin, mereka mampu merealisasinya!

Maka, arti sakola jika harus dilaksanakan seperti di atas diambil dari bahasa Latin, yakni: skhole, scola, scolae atau schola yang berarti “waktu luang” atau “waktu senggang” (Roem Topatimasang, 1998). Dalam konteks ini, arti sakola mengacu kepada pemanfaatan waktu luang yang digunakan untuk belajar (leisure devoted to learning). Mengapa? Sebab pada masa lalu, ketika orang-orang sedang beristirahat selalu diisi dengan kegiatan mempelajari sesuatu hal.
Waktu luang itu dapat digunakan untuk mempelajari dan mengkaji falsafah hidup seperti yang dilakukan Socrates, Plato, Aristoteles dan filosof generasi selanjutnya. Bahkan seperti yang rutin dilakukan tokoh imajinatif Sunda, Si Kabayan, ketika ngadaweung di pesawahan. Hasil refleksi (daweungan) si Kabayan juga anehnya acap kali mengandung kearifan-kearifan yang menggelitik rasa dan mengobati kegelisahan. Ia pada posisi demikian telah sakola dalam artian tidak formal, karena telah mampu mengeluarkan sebuah ide yang cerdas dan cergas.

Dalam konteks kekinian, urang Bandung pituin atau warga imigran dari daerah seperti saya, sudah sepatutnya kreatif dan inovatif untuk bersama-sama melahirkan generasi yang “ngelmu”. Namun tidak lantas menanggalkan jati diri kesundaannya. Agar terwujud apa yang diistilahkan dengan Bandung kota bermartabat. Sebuah replika kebudayaan yang dihasilkan masyarakat madani yang hidup dalam bingkai (ke)beradab(an). Cita-cita ini dapat nyata terjadi jika saja kota Bandung , ratunya Jawa Barat ini, kita jadikan sebagai “lautan sakola”.

Sebuah kota yang dipenuhi oleh orang-orang yang bergairah mengurai benang kusut kehidupan sehingga menjelma menjadi elmu pangaweruh. Oleh sebab itu, sebagai sebuah kota yang sempat menjadi “lautan api” pada tanggal 24 Maret 1946, hari ini Bandung harus menjadi “lautan sakola”. Sesuai dengan sepenggal lirik yang telah saya kutip di atas, Geura sakola ka Bandung ! Wallahua’lam***
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: