19 May 2007

Membangkitkan Daya Hidup Bangsa

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

ANGKA kemiskinan dari tahun ke tahun merangkak naik jumlahnya. Masalah klasik ini terus menggenangi bumi nusantara yang sempat diberi label sebagai tetesan surga. Sayangnya, kesejahteraan dan ketentraman di surga tidak serta merta berujud nyata. Mungkin, hanya baru sebatas keindahan dan kekayaan sumber daya alam saja yang bertetesan sehingga banyak wisatawan mancanegara berdecak kagum.

Untuk konteks kekinian kita sangat memerlukan daya hidup agar optimisme tak serta merta tenggelam dan mati guna membangkitkan bangsa dari keterpurukan. Apalagi ketika hari kebangkitan nasional berada dihadapan dan hanya menunggu hitungan hari saja. Boleh jadi merefleksikan segala macam sikap, tindakan dan buah pikiran (berbentuk kebijakan yang dikeluarkan) adalah keniscayaan yang tak nisbi.

Mengevaluasi secara cermat, akurat dan terencana terhadap kebijakan-kebijakan untuk kepentingan masa depan rakyat, tentunya aktualisasi dari hasrat biofilia (mencintai kehidupan) yang ada di dalam diri. Lantas, masihkah bangsa kita memiliki hasrat mencintai kehidupan? Yakni daya dorong untuk bangkit dari pelbagai keterpurukan serta mampu memawasi segala tindakan yang salah dan merugikan publik.

Ya, betul. Sebab, dengan hasrat mencintai kehidupan yang tertancap kuat di dalam diri, sebetulnya setiap kejadian akan menjadi perantara perubahan ke arah yang konstruktif. Kita akan terus merenungi dan berusaha menjabarkan hasil permenungan hingga mewujud dalam bentuk tindakan/kebijakan pro-kerakyatan dimaksudkan agar bangsa bisa keluar dari aneka macam kesulitan yang mengimpit.

Doa dan usaha

Tatkala hidup bangsa kita dihujani kecentang-perenangan aneka bencana, umpamanya, hal itu akan dijadikan alat penyadaran untuk bersama-sama menyelesaikannya. Menanggulanginya juga tidak hanya sebatas berdoa di tempat ibadah saja. Berusaha pun pada posisi demikian selalu dipraktikkan. Sebab, tanpa ada usaha sungguh-sungguh, nasib kita tidak akan pernah beranjak.

Doa dan usaha adalah dua aktivitas yang tak terpisahkan bagi manusia beragama, tatkala hendak keluar dari jerat-jerat bencana alam dan bencana kemanusiaan. Belajar pada kisah perjuangan seorang bayi yang sedang belajar berjalan pada posisi demikian layak disimak, direnungkan, diinternalisasi, dan diaktualisasikan dalam hidup keseharian.

Seorang bayi mungil umpamanya. Tentu saja tidak mungkin bisa berjalan tanpa berusaha menjejakkan kakinya di tanah. Belajar berjalan meskipun harus terus terjatuh, seorang bayi pantang menyerah. Jatuh-bangun , jatuh-bangun kembali, dan terus-terusan jatuh-bangun. Ia terus berusaha menggerakkan kedua kakinya. Kalaupun ia terjatuh, seorang ibu di tatar Sunda akan segera mengucapkan “jampe-jampe harupat geura gede geura lumpat”. Kurang lebih artinya cepat besar kalau ingin bisa berlari.

Anak itu pun sudah pasti akan meredakan tangisannya dan kembali memulai aktivitas berjalan yang sempat terganggu. Alhasil, setelah satu tahun lebih belajar berjalan tanpa bosan-bosan; kini ia pun sudah mulai bisa berlari-lari kecil. Itulah hasil akhir yang menggembirakan dari aktivitas berusaha dan kekuatan doa seorang ibu untuk kepanjangan umur anaknya (geura geude).

Karenanya, meskipun bangsa ini terus dihantui teror bencana alam (natural disasters) dan bencana kemanusiaan (seperti kemiskinan), tidak menjadi alasan untuk menenggelamkan semangat hidup. Tanpa usaha keras pendakian yang melelahkan kita tidak akan pernah sampai ke puncak gunung. Begitu juga dengan nasib bangsa kita. Tanpa melakukan doa dan usaha, tak akan pernah bersemangat untuk bangun kembali dari keterpurukan akibat bencana alam dan bencana kemanusiaan.

Ud’uni astajib lakum (berdoalah kepada-Ku niscaya akan dikabulkan), mengindikasikan bahwa setiap permohonan kita kepada Allah akan terkabul. Tentunya jika ada usaha sungguh-sungguh. Sebab, bangsa yang karut-marut di ranah sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan dan lain-lain tidak dapat menggeliatkan diri hanya dengan menengadahkan tangan atau berdoa an sich. Sangat membutuh kesejalanan antara doa dan usaha. Itulah hakikat inti dari daya hidup bangsa yang meruang dan mewaktu.

Bukan kita malas

W.S. Rendra (2001) mengatakan bahwa ciri dasar manusia adalah berdaya hidup. Sebelum ada daya eknomi, daya sosial, daya filsafat, daya seni, daya politik, dan pelbagai daya lainnya, daya yang utama dan pertama adalah daya hidup. Tanpa daya hidup, daya-daya lainnya menjadi lesu, beku dan sirna. Ya, menurut saya daya hidup sama posisinya dengan stamina kebudayaan yang mencerminkan tegarnya suatu bangsa.

Soal kemiskinan yang mendera saat ini, misalnya, bukan diakibatkan kita bangsa malas. Buktinya, bisa kita saksikan kiri-kanan. Banyak betul warga yang banting tulang mencari nafkah hidup. Di kampung saya, masih ada warga yang setiap pagi hari pergi ke sawah. Di kota besar juga masih ada warga yang berprofesi sebagai tukang ojek, pedagang kaki lima , tukang becak, supir angkot, dan sebagainya.

Bukankah mereka juga sebagian dari warga masyarakat yang berdaya hidup? Lantas, kenapa kita harus mengklaim bahwa kesengsaraan merupakan imbas dari kemalasannya? Saya rasa, pola pikir naïf ini mesti diluluhlantakkan. Prasangka penuh kecurigaan semacam ini tak layak terus disandang. Kita tidak berdaya hidup kiranya jika dijibuni prasangka yang tidak dapat menyelesaikan masalah. Malah memperumit dan akan memecah belah keutuhan relasi dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Dalam konteks ini kita memerlukan kehadiran pejuang sosial. Seorang manusia yang mampu menghapus penjajahan dan perbudakan yang dilakukan bangsa sendiri yang mengeluarkan kebijakan teu ingeut ka kaum cacah kulicah. Inilah yang mengakibatkan bertebarannya kemiskinan. Tidaklah heran bila Pramoedya Ananta Toer sempat menulis dalam novel sejarahnya bertajuk Jalan Raya Pos, Jalan Daendels sbb: “ Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.

Berita yang mengebohkan di daerah Malang juga, di mana seorang ibu dan 4 anaknya tewas minum racun potasium akibat tak kuat menanggung beban persoalan ekonomi, bukti nyata dari penindasan struktural. Kasus bunuh diri ini mengindikasikan masyarakat kita telah menanggalkan solidaritas sosial dan bukti dari ketidakpedulian pemerintah terhadap rakyat miskin. Kasus ini bukan diakibatkan mereka malas bekerja. Kondisilah yang mengakibatkannya tidak dapat memompa daya hidup.

Maka, eksistensi pejuang/pekerja sosial pada konteks ini mesti digusur pada mampunya mengentaskan keberbagaian persoalan yang melilit rakyat hingga dapat membebaskan diri dari pelbagai kungkungan yang membuat kita nyinyir. Apalagi jika kondisi ekonomi kian degradatif, birokrasi yang dijibuni perilaku korup, dan bencana banyak diderita warga pelosok. Dapat dipastikan jika pejuang sosial sangat mutlak keberadaannya.

Oleh karena itu, memompa daya hidup agar dapat keluar dari aneka ragam persoalan yang memilukan ialah keniscayaan. Ingatkah kita dengan firman Tuhan: “Innamaal-usri yusro”, dibalik kesulitan terhampar segala kemudahan? Ya, dimana aya kahayang, didinya aya sarebu jalan. Bahkan bisa-bisa jalan untuk keluar dari kemelut kesulitan jumlahnya lebih dari seribu. Wallahua’lam
(SUMBER: Pikiran Rakyat, Sabtu 19 Mei 2007)

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: