24 June 2007

Mengenal Masyarakat Sunda Air (Cimanuk)

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

BAHASA mencerminkan pengalaman hidup masyarakat. Berbeda pengalaman hidup, berbeda juga bahasanya. Tak heran jika ada bahasa yang populer betul di suatu daerah, tapi ketika hadir di daerah lain ia (bahasa itu) akan terasa asing di dengar. Begitu juga dengan masyarakat di tatar Sunda, yang menurut sebagian ahli, terdiri dari masyarakat Sunda gunung dan Sunda air.

Masyarakat Sunda gunung adalah oran g-orang yang hidup di tengah pegunungan. Sedangkan masyarakat Sunda air, adalah sebuah komunitas yang hidup kesehariannya begitu akrab dengan air sungai. Maka, sebagai urang Sunda yang hidup berdekatan dengan sungai Cimanuk, saya memiliki khazanah kekayaan bahasa yang berbeda dengan urang Sunda pegunungan. Saya akan begitu kenal dengan hal-hal yang berbau perairan, susukan, solokan, atau walungan.

Bahkan, saya akan memiliki bahasa yang unik dan beragam sebagai hasil dari pengalaman hidup selama saya berinteraksi dengan walungan (atau Sungai). Istilah-istilah seperti neuger, nguseup, ngaraas, nganyay, ngalun, ucing teuleum, nyeot, dan lain sebagainya sebagai hasil dari pengalaman hidup saya dengan sungai Cimanuk; menambah perbendaharaan kata dalam bahasa Sunda. Mestinya, kita memerhatikan kebiasaan-kebiasaan masyarakat (baca: pengalaman hidup) yang membentuk bahasa di pelbagai daerah menurut kondisi lingkungannya, yakni sesuai dengan klasifikasi masyarakat Sunda gunung dan urang Sunda air.

Ketika sebuah istilah-bahasa telah dikenal luas oleh masyarakat yang berbeda, pengayaan wawasan kebahasaan pun akan menjelma menjadi sebuah alat penyeimbang dalam hidup. Sebab, mereka akan memahami bahwa perbedaan (terutama dalam berbahasa) adalah suatu keniscayaan yang tak pernah nis bi. Alhasil, ketika seseorang ngomong tentang suatu pekara, si pendengar atau pembaca akan menghargainya. Tidak lantas, melontarkan kata-kata yang menyudutkan dan bahkan sampai menghancurkan rumah kebudayaan orang lain.

***

MENURUT Sejarawan Sunda, almarhum Edi S. Ekadjati dalam buku Kebudayaan Sunda; Suatu Pendekatan Sejarah (2005) di wilayah Jawa Barat terdapat 51 daerah yang dialiri aliran sungai (DAS). Sungai Cimanuk, di mana ia telah menjadi sahabat saya untuk menciptakan bahasa lewat pengalaman hidup, adalah salah satu dari 28 DAS yang menuju dan berakhir di Laut Jawa. Bahkan, sungai Cimanuk juga adalah batas pemisah antara tanah Sunda dengan tanah Jawa dan Cimanuk merupakan kota pelabuhan yang terletak di muara sungai, bagian ujung timur wilayah kerajaan Sunda.

Siapakah yang menamakan sungai dekat rumah saya itu dengan Cimanuk? Dulu adalah kota , sekarang berubah menjadi sungai. Dulu daerah perbatasan antara Jawa dan Sunda, sekarang merupakan pabrik penghasil kebudayaan. Sebab, ketika saya tidak hidup berdampingan dengan sungai Cimanuk, tentunya tak akan mengenal jenis ikan jongjolong, sengal, berod, dan tidak pernah tahu apa itu neuger, ngaraas, ngalun serta nganyay.

Bahkan tak tahu makna filosofis dari memantrai jumlah tegeran seperti yang suka dihaleuangkeun oleh kami: seksek, noyek, kademong, kosong. Ketika jumlah teger (pancingan) jatuh pada mantra seksek berarti tidak akan pernah mendapatkan ikan. Berbeda posisinya jika jatuh pada kata noyek, tentu saja tegeran akan banyak disangut oleh ikan. Namun, ketika jumlah tegeran tepat pada jampe (kata) kademong, berarti kail atau useup akan disangut hanya satu ikan saja. Kosong, tentunya menandakan bahwa tegeran hari itu tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali kacape dan kareuseup. Tetapi, ketika itu kami (anak-anak) memiliki kepuasan tersendiri kendati tidak membawa lauksengal ke rumah.

Keyakinan itu sampai tahun 1990-an masih dipegang anak-anak kecil, tapi sekarang karena ikannya sudah langka akibat pendegradasian oleh pelbagai limbah; kepercayaan turun temurun tersebut pun seakan lekang dimakan usia. Satu hal lagi yang terlewatkan dalam tulisan ini. Bahwa dalam masyarakat Sunda yang hidup dekat air (salah satunya di dekat sungai Cimanuk), bahasa yang berkenaan dengan kehidupan sungai akan begitu kaya menghiasi kosa kata bahasa Sunda. Umpamanya, istilah Palika. Ia adalah sebuah gela r istilah yang diberikan kepada oran g yang memiliki kecekatan dan kecakapan untuk menyelam selama beberapa menit di dalam air.

***

TAPI, ada gela r istilah yang diberikan masyarakat Sunda sekitar Cimanuk untuk seekor ikan besar, yang agak sama dengan istilah Palika. Ya, ikan tersebut namanya adalah Lika. Dalam mitologi masyarakat sekitar Cimanuk, terutama anak-anak kecil, tedapat keyakinan bahwa usia ikan tersebut sangat tua sekali. Sampai-sampai tubuhnya lamokot ku lukut saking tuanya. Mungkin, mito s seperti ini diciptakan masyarakat untuk menakuti anak-anak agar tidak keseringan ngojay di Cimanuk. Ketika mereka belum juga merasa takut, biasanya ditakuti dengan leled samak atau dengan rangkaian bahasa bernada larangan awas nanti ada sandekala.

Pada masyarakat Sunda air juga seringkali menggunakan bahasa ekologis untuk menamai sebuah perkampungan. Ketika ada kampung yang memiliki nama yang sama, biasanya kami suka menyebut daerah itu dengan girang dan hilir. Misalnya, kampung saya adalah Waruga dua yang sama dengan Waruga satu. Kami suka menyebut kampung Waruga dua dengan Waruga hilir karena berada di hilir sungai Cimanuk. Sedangkan Wa ruga satu diberi nama Waruga girang, karena berada di hulu sungai Cimanuk.

Wah, pasti berbeda dengan daerah-daerah yang berada di pebukitan atau pegunungan untuk menyebutkan kampung yang memiliki kesamaan nama. Ketika berada di daerah pebukitan atau pegunungan, istilah landeuh dan tonggoh mungkin lebih populer dipergunakan masyarakat. Sementara itu, Wetan-Kulon atau Kaler-Kidul mungkin banyak digunakan di daerah bertofografis dataran rendah.

Memang betul bahwa bahasa itu merepresentasikan nilai transenden, tetapi tesis bahwa bahasa sebagai representasi dari realitas juga tidak boleh direpresi ke alam bawah sadar kita. Seperti halnya, kreativitas karuhun Ki Sunda yang mencoba mencipta bahasa dengan bahan baku dari realitas lingkungan sekitarnya. Alhasil, eksistensi bahasa tepat kiranya jika menjadi wakil dari hal-hal yang transenden dan realitas duniawi. Sebab, kehidupan manusia terdiri dari dua entitas yang berbeda itu. Tetapi satu kesatuan.

Seperti yang ditulis Fatimah Djajasudarma (Khazanah, “PR”, 24/02/2007) bahwa “penelitian terhadap bahasa Sunda dapat dikatakan langgeng karena kesadaran akan identitas dan ekosistem yang menuntut untuk sejalan, seiring dalam kehidupan berbahasa atau berbudaya sesuai lingkungannya”. Ya, betul bahwa bahasa itu sesuai (atau ditentukan) kondisi lingkungan sosial-geografis, dimana si pembahasa itu hirup dan hurip. Begitu juga dengan bahasa masyarakat Sunda air di sekitar Cimanuk. Cag sakitu!

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: