24 June 2007

Menjaga Masa Depan Hutan Kita

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Pada tahun 2008 mendatang, Indonesia akan menjadi kandidat pertama pemecah rekor penghancur hutan tercepat di dunia. Sesuai data FAO, setiap tahun di Indonesia seluas 1,871 juta hektar hutan dihancurkan dan terjadi antara tahun 2000 hingga 2005. Ini berarti tingkat kehancuran hutan mencapai 2 persen setiap tahun atau 51 kilometer persegi per hari, bahkan Indonesia diperkirakan telah menghancurkan hutan seluas 300 lapangan sepakbola per jam (Kompas, 4 Mei 2007).

Bagaimana peran Islam yang memiliki sumber pertama (masdar al-awwal) al-Quran dalam memberikan sumbangsih untuk kelangsungan ekosistem lingkungan hidup, terutama hutan? Sebab, kekritisan salah satu sumber daya alam ini adalah ancaman berat bagi pembangunan yang berkelanjutan. Jika kekritisan hutan tidak segera ditanggulangi, saya rasa sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, mungkin hutan kita tidak akan memberikan keuntungan bagi kehidupan.

Maka, pengelolaan sumber daya alam (SDA) mesti menyertakan paradigma agama hingga pemanfaatannya tidak menguras habis-habisan ketersediaan alam. Sebab, di dalam ajaran Islam terkandung penghargaan atas alam, sesuai dengan firman-Nya: “wala tufsidu fi al-ardh” (dan janganlah kamu sekalian melakukan perusakan di muka bumi). Dari sinilah pembangunan berbasis kearifan religius, penting diprioritaskan agar bangsa dapat bepijak secara kokoh dan kukuh ketika hendak mewujudkan kesejahteraan melalui pembangunan sepanjang hayat.

Islam Ajarkan ramah lingkungan

Agama Islam mengajarkan bahwa arah pembangunan semestinya berpijak pada prinsip keteraturan yang mengikuti kaidah-kaidah alam. Ada firman-Nya yang bermakna pentingnya menjaga keteraturan ekologis dan ekosistem, yakni surat Ar-Ruum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah (eksploitasi dan eksplorasi tak berkaidah) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka (akibat) perbuatannya, agar mereka kembali (ke program konservasi alam)”.

Esensi ayat di atas menjelaskan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yakni dari kalimat “agar mereka kembali”. Terma “kembali” kalau ditinjau dengan kerangka pembangunan berwawasan ekologis, bersanding kuat dengan program pelestarian. Misalnya, program konservasi alam, reboisasi, pajak perusahaan untuk kelestarian alam, pendidikan lingkungan hidup untuk anak didik dan pengurusan izin analisis dampak lingkungan (amdal).

Kearifan ekologis berbasis agama juga dapat dilihat dari nama-nama surat tentang keragaman ekosistem dan fungsi ekologis, semisal Al-Baqarah (sapi betina), Al-Adiyat (kuda perang), An-Naml (semut), Al-Ankabut (Laba-laba), Ath-Thur (bukit thur) dan masih banyak lagi. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi alam beserta ekosistemnya memiliki sisi fungsional yang wajib dipelihara sebaik-baiknya. Karena itu, arif rasanya jika bangsa mulai merefleksi kearifan ekologis yang dipesankan oleh-Nya melalui teks suci dan dikontekstualisasikan dengan kondisi lingkungan saat ini hingga bersesuaian dengan perkembangan zaman.

Tujuannya agar menghasilkan arah pembangunan berhiaskan etika-moral agama, dan ketika berinteraksi dengan hutan tidak memanfaatkannya sembari “angkat tangan” melestarikan atau malah “cuci tangan” ketika ia merusaknya. Setiap penganut agama (baca: umat Islam) yang berbudaya diajarkan untuk tidak bersikap dan berperilaku destruktif seperti melakukan perusakan secara membabi buta terhadap lingkungan hidup (khususnya hutan) atas dalih apapun. Termasuk atas segala macam dalih pembangunan, yang tak berkaidah tentunya!

Lantas, mengapa kerusakan hutan seakan menjadi-jadi? Apakah ada yang salah dengan sikap kita atas hutan sehingga kita menempatkannya sebagai sesuatu yang bukan amanah dari-Nya? Saya kira kehancuran hutan Indonesia terletak pada sikap kita terhadap alam sekitar sehingga muncul stigma bahwa hutan diciptakan hanya untuk dieksploitasi besar-besaran. Dalam posisi ini, kita menempatkannya sebagai sesuatu yang transenden (berjauhan) dan bukan sesuatu yang imanen (berdekatan) dengan kehidupan sehingga kebutuhan timbal-balik dinodai oleh perusakan-perusakan.

Menggagas “biokrasi”

Kita tahu bahwa kesejahteraan ekonomi dari hasil pemanfaatan hutan yang diperoleh warga bukan untuk hari ini saja. Melainkan untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan generasi mendatang (sustainable). Hal ini akan terrealisasi jika saja kita sudi menengok kembali kondisi hutan dan lingkungan hidup lainnya dalam mengeluarkan setiap kebijakan. Ya, kebijakan dari pemerintahan yang sensitif lingkungan tentunya.

Menurut Eef Saefullah Fatah dalam artikelnya bertajuk: MenimbangBiokrasi” (Kompas, 4 Mei 2007), kegagalan demokrasi berdamai dengan lingkungan telah menyadarkan tentang pentingnya menimbang lingkungan hidup dalam kerja demokrasi. Ia (demokrasi) dituntut membangun sistem politik sensitif lingkungan, keaktifan partai politik untuk mengusung isu lingkungan sebagai platform utamanya, dan anggaran belanja negara atau daerah (APBN dan APBD) pun harus menimbang aspek pengelolaan lingkungan. Maka, para pejabat publik dan politisi juga dituntut memiliki sensitivitas lingkungan yang layak (green politicians) agar keberlangsungan alam dapat dipertahankan. Inilah apa yang disebut oleh para pengamat politik dengan model pemerintahan “biokrasi”.

Sebetulnya kita juga bisa meneladani kebijakan yang pernah dilontarkan oleh Nabi Muhammad Saw ketika umat Islam akan pergi berperang, di mana beliau selalu memeringatkan kaum muslim untuk tidak menghancurkan dan merusak pepohonan, bangunan rumah dan segala hal yang berkaitan dengan penyangga keseimbangan alam. Ini mengindikasikan bahwa secara historik, 1400 tahun lebih yang lalu kita telah diberi petunjuk (term of reference) untuk selalu memperlakukan alam sebagaimana kita berhubungan dengan sesama manusia lain.

Maka, model pemerintahan demokrasi yang mendesak diwujudkan saat ini adalah yang menempatkan eksistensi lingkungan hidup sebagai bahan dasar dari peramuan kebijakan. Mengapa? Sebab, kekayaan ekologis di negeri ini merupakan titipan dari anak cucu kita dan mestinya dipelihara agar kelak mereka dapat bersenyum ria pada kehidupan. Untuk mewujudkan generasi makmur dan sentosa juga, bijaksana rasanya jika semangat untuk berharmoni dengan alam mulai pada bulan ini kita tancapkan dalam diri.

Alhasil, konstruksi ideologis kebijakan pembangunan akan berpijak pada paradigma agama, kearifan masyarakat lokal dan perhatian penuh terhadap kelangsungan alam. Oleh karena itu, mari kita hunjamkan dalam diri bahwa saat inilah moment tepat untuk memelihara hutan karena merupakan tugas mulia dari Allah SWT yang mesti dijabarkan dalam hidup keseharian. Dengan memeliharanya agar tidak tumpur-ludes, kita tentunya sedang menunaikan perintah suci dari sang pencipta alam raya ini, Allah SWT. Wallahua’lam

BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

el7cosmos said...

mari membaca Al-Quran!

ada situs yang bisa baca al-quran online trus ada audio playernya...

Sukron Abdilah said...

ya..bagus sekali idenya...