24 July 2007

"Adu Jotos" di Jatos?

BAGIKAN
DULU, di daerah saya para pemudanya suka adu jotos dengan pemuda dari kampung lain. Wajar, saya kira, karena pemuda di kampung saya banyak yang tak sekolah. Hanya satu-dua orang saja. Tak lebih. Apalagi ketika hari raya Idulfitri, pasti di sana-sini Polsek Banyuresmi dibikin sibuk. Sekarang, itu jarang terjadi. Mungkin zaman telah modern, hingga banyak pemuda yang sekolah atau urban ke kota.

Jadi, pemuda di kampung saya sudah pada cerdas dan terbuka. Tak suka lagi berkelahi rame-rame, keroyokan tea. Dan, lebih menghargai perbedaan. Buktinya, antara pemuda kampung saya dengan kampung yang lain, sekarang jarang terjadi bentrokan. Saya sih, gembira betul melihatnya.

Tapi, kaget juga ketika ada dugaan Praja IPDN mengeroyok Warga tidak lagi sampai babak belur. Ya, sampai korban yang dikeroyok meninggal dunia. Adu jotos di Jatos dilakukan sekelompok Siswa berkepala plontos. Itulah kalimat yang bikin kita merinding.

Kita pun tersadar kembali betapa sistem pendidikan masih menyisakan gaya militeristik. Lulusan IPDN yang semestinya dicetak jadi pamong, yang bertugas ngemong atau melindungi rakyat; ternyata malah jadi pangreh, yang kerjaannya mangreh atau menguasai dan menindas rakyat. Bagaimana nasib bangsa ke depan? Ketika calon pemimpinnya hanya dengan persoalan sepele sampai-sampai berani merenggut nyawa orang. Ironis!

Bahkan, belum juga menjadi pemimpin, mereka sudah berani menyiksa sampai meninggal dunia hanya karena sebatang rokok. Malunya lagi, kejadian ini terjadi di tempat Biliar, pada pukul 22.30, di mana seharusnya siswa tidak keluar. Calon pemimpin, kok, liar begitu?

Ada kisah tauladan yang menarik dari pribadi Nabi Muhammad. Ketika ada seorang Arab pedalaman (baduy) yang (maaf) kencing di Mesjid, ia tidak lantas menjambretnya. Bahkan tidak memukulnya. Apalagi sampai membunuhnya. Beliau malah melemparkan senyuman dan mencegah Umar bin Khaththab yang hendak memukul orang Arab pedalaman itu. Mulia bukan?

Sekarang ini, zaman tidak lagi sedang berada di era "barbarian". Atau bukan lagi masyarakat Machiavelis yang menghalalkan segala macam cara – termasuk kekerasan – untuk menyelesaikan masalah. Kita dianugerahi Tuhan akal-pikiran yang semestinya difungsikan sebagai alat pencerna segala sikap dan tindakan, hingga melahirkan tindakan arif dan luhung.

Karenanya, untuk yang suka memperlihatkan kekuatan fisik ("ngadu jajaten") ketika menyelesaikan masalah, saatnya berkaca pada para pemuda di kampung. Mereka, kendati tidak pernah dibiayai pemerintah untuk sekolah tinggi-tinggi, sudah bisa menanggalkan kebiasaan "adu jotos".

Mungkin, lebih tepat jika para perenggut nyawa warga tak berdosa itu, di simpan di sasana tinju, tempat mencetak petinju handal. Biar jadi samsat para atlet tinju, dan merasakan sakitanya di-jebs oleh orang lain. Seperti dalam pertandingan tinju di televisi. Oh iya, Chris Jone juga kepalanya plontos kan? Tapi, ia tidak pernah nojos nyawa orang lain!. Apalagi sampai adu Jotos di Jatos, setelah bola biliar selesai di-tojos. Ah, teu kahartos! Katanya pukul 21.00 pintu gerbang dikunci? Kuncinya macet barangkali. Alasan saja! (Sukron Abdilah)***

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: