17 July 2007

Sarkanjut

BAGIKAN
Suatu hari kampung tetangga saya di Banyuresmi, Kab. Garut, kedatangan peserta KKN dari Universitas Swasta Jakarta. Katanya, setelah ada persiapan selama satu minggu, karena jarang melakukan kunjungan, kampung tersebut tidak terdata. Karuan saja, pak RT dan pak RK marah. Karena merasa dianaktirikan. Ini penyakit urang Sunda. Kalau tidak ada yang memerhatikan, mereka akan merasa tersinggung. Makanya, ketika acara pernikahan kakak saya, kalau tetangga tidak diajak untuk babantu mereka akan merasa tidak diakui sebagai tetangga.

Ya, kalau ibu saya sih, asyik-asyik saja. Dengan sigapan, setiap kali ada kakak saya yang menikah selalu menggunakan jasa para tetangga yang rido lillahita'ala bekerja. Pemuda juga hanya dengan memberikan sebungkus rokok, semangat betul ketika disuruh membuat janur kuning. Nini-nini, aki-aki dan orang yang kekar, rela memberikan suluh untuk digunakan memasak idangan. Paling juga, akan mengeluarkan uang sebesar panto (kalau ada) untuk membayar jasa tukang ngarias panganten saja. Yang lainnya, pasti beres dengan uang yang tak sebegitu besar.

Tapi, sekarang bagaimana? Ah, meskipun hanya sedikit saja yang masih memegang teguh falsafah hidup sabilulungan itu, tapi tetap mereka masih menyisakan solidaritas tinggi. Ya, namanya juga kampung yang hanya dihuni oleh 30 suhunan imah, Waruga 2 sekarang sedang berada di era transisi!

Bangunan rumahnya sudah banyak yang bertingkat dan gedong sigrong, tapi ada juga yang masih menggunakan bilik atau rumah panggung tea, yang keharuman palupuhna masih menyisakan kenangan masa lalu bagi saya ketika nganjang ke rumah nenek. pokokna sengit kampung pisan euy!

Kata mahasiswa KKN mah, "waduh betah banget ya..KKN di sini!"
Tibra sare, napsu barangdahar!


Ketika mereka hendak keluar ke suatu kampung..., ada orang yang menanyakan sebuah kampung di dekat Bagendit. "eh.., Neng dan Ujang dupi kampung Sarkanjut palih mana nya?

Sepuluh mahasiswa itu mengernyitkan dahi "...emang ada kitu kampung Sarkanjut?"

"Ya ada atuh jang, di sini...," kata orang asing itu sambil merogoh ke dalam saku celana.
Eit.., ternyata hendak mengambil undangan.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: