14 August 2007

“Lembur” dalam Sastra Sunda

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
TERM lembur pada judul di atas bukan dalam pengertian pekerjaan. Melainkan istilah sosio-geografis dan geo-kultural yang digunakan masyarakat Sunda untuk menyebut tempat tinggal sekelompok warga. Tulisan ini – entah apa genrenya – hadir dipicu rasa heran dan ingin tahu saya atas karya sastra Sunda yang kerap menyertakan setting cerita di lembur.
Apakah karena sastra Sunda itu identik dengan bahasa Sunda hingga perlu menyertakan sebuah situasi dan kondisi lembur, di mana warganya masih banyak berbahasa Sunda. Ataukah hal itu dideterminasi latar belakang sosio-kultural sastrawan Sunda yang mayoritas dilahirkan di pedesaan. Ah, bisa juga sebentuk sikap sastrawan Sunda yang dikedalaman imajinasinya masih menyisakan relief-relief kenikmatan dan ketentraman hidup di lembur.
Hirup dilembur mah tiis ceuli herang panon. Itulah alasan Andika, seorang tokoh cerita dalam novel karya Aam Amilia bertajuk: Buron (terbit tahun 1985 dan 2006), ketika mengajak istrinya (Umi) meninggalkan salah satu kota yang diberi inisial B pergi menuju sebuah lembur di daerah berinisial T. Kepindahan dia dari kota menuju lembur karena merasa tidak nyaman hidup di tengah kota yang banyak menampilkan kemunafikan. Terutama ketika dirinya ditipu klien bisnisnya.
Karya sastra mengemas fakta-fakta sosial secara naratif dan sederhana hingga kesadaran represif pembaca menyeruak ke permukaan alam sadar. Mereka yang telah sekian lama meninggalkan lembur dan menetap di kota akan merasa rindu pada kampung halaman tatkala hirupna katalangsara. Maka, ketentraman, ketenangan dan keindahan kampung yang sejak lama terpenjara di kedalaman rasa, dengan membaca karya sastra Sunda – novel, cerpen, puisi, frosa, roman – seolah hadir kembali.
Andika ternyata memiliki kesamaan afeksi dengan kita. Ia merasakan bahwa praktik kehidupan di kota telah menimbulkan ketidaktenangan. Karenanya, ia berusaha buron (kabur) dari kejaran nilai-nilai hidup kota yang semakin tergerus pada tingkah polah hedonis, individualis, dan banyak menggadaikan idealisme. Pemendaman ketidaksetujuan Umi atas sikap Andika juga membuahkan kesadaran bahwa orang kota dan orang kampung bisa bersatu hidup di daerah yang bukan lembur. Bukan pula kota . Lebih tepat, daerah transisi!
Daerah semacam ini bisa dilihat dari surat yang ditulis Andika kepada Umi, sang istri yang masih mengharapkan Andika untuk hidup di kota B. Isi sebagian surat itu sbb: Akang tos insap kana harti hirup saeunyana. Urang reureuh sareng, nya. Di kampung CK Akang mendak hiji kombinasi kahirupan kota sareng lembur. Di ieu kampung parantos lebet kamajuan elektronik, tapi pangeusina angger keneh nyeupeung kabudayaan nu nyunda. Umi moal keueung kawas di S. Di dieu mah tos aya listrik, TV, blue jean. Cai teu keudah ka walungan, aya kamar mandi, sumur kompa. (hlm. 156).
***
KETIKA pembahasan tentang lembur ini saya tulis, ada beberapa karya sastra Sunda yang menarik ditelaah. Di antaranya: Buron (Aam Amilia), Jodo Pakokolot (Memed Sastrahadiprawira), Baruang Ka Nu Ngarora (D.K. Ardiwinata), dan Gunem Rencep Sidem (Enas Mabarti). Di dalam keempat teks literasi sastra Sunda itu, mereka kerap menggambarkan kehidupan di lembur secara unik dan beragam. Tapi, tetap bermuara pada satu gambaran. Ya, keindahan alamnya!
Penilaian sastrawan Sunda tersebut memberikan pelajaran pada kita. Bahwa lembur merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri, bahkan mengasingkan diri seperti yang dilakukan Raden Suria ketika ia berbuat kriminal (mencuri dan dihukum) karena jalinan cintanya dengan Enden Ratna kandas di tengah jalan (Memed S, 1913 dan 2000). Memed Sastrahadiprawira dalam karyanya berjudul Jodo Pakokolot ini menulis sbb: Puncak gunung katenjona ruhruy, ngempur, koneng lir emas sinangling, kahibaran layung hurung, matak rusras matak kagagas, ku tina bawaning waas (hlm. 41).
Ruang dan waktu di lembur dalam imajinasi empirik sastrawan yang lahir di Manonjaya (1897) itu menggambarkan kaendahan eksotik alam Priangan dan posisi lembur sebagai medium asosiasi bebas Freudian, karena dapat memompa kesadaran retrospektif manusia hingga kenangan hidup muncul kembali. Paragraf selanjutnya menjelaskan keteringatan (rusras, kagagas, waas) Raden Suria pada pengalaman masa lalu. Ras anjeuna emut ka alam baheula, waktu keur lubak-libuk senang taya ka kurang…butbat kacipta jalan-jalanna dayeuh urut anjeunna calik ti aalit, riung mungpulung jeung sepuh, … bruy bray tarembong deui: breh Enden Ratna nu geus cidra tina subaya…(hlm. 41).
***
LAIN halnya dengan Nyi Piah – istri Jang Kusen dalam roman modern Baruang Ka Nu Ngarora (Cetakan Pertama, 1914) – ia sangat tidak menyukai alam pilemburan yang berada di sisi dayeuh dan terkesan sepi. Bahkan tidak menjanjikan secara sosiologis dan ekonomi. Nyi Piah pun kabengbat lelaki lain bernama Aom Usman yang tinggal di dayeuh dan disinyalir sebagai biang keladi keretakan rumah tangga Jang Kusen dengan Nyi Piah. Alasan yang dikemukakan Nyi Piah ketika mengadu pada orang tuanya pun digusur pada persoalan ekonomi di lembur yang begitu susahnya sehingga keluarganya menuntut keluarga Jang Kusen untuk menceraikan Piah.
Ketidakbetahan Nyi Piah pada suatu hari ditumpahkan pada Jang Kusen dalam rangkaian kata sbb: “Kang, kumaha kuring teh geus teu kuat cicing di dieu teh; lain kuring teu ngawula. Teu biasa ti tadina, kudu turung gunung unggah gunung, ka cai sakitu haresena…jeung kahayang kuring mah montong nyangsara teuing maneh, da akang putra nu beunghar, bapak kuring oge teu malarat ” (hlm. 83). Untuk konteks kekinian sebagian orang kota (dayeuh) yang terbiasa hidup ngaheunang-ngaheuning, ketika menjalani kehidupan di pilemburan akan mengalami ketidakbetahan. Itu terjadi karena ia telah terbiasa dengan life style kota yang kebanyakan hedonis, individualis, dan jalinan interaksi sosial yang mekanik. Tapi rasional.
Namun, tidak demikian halnya dengan masyarakat lembur. Irasionalitas, mitologi, altruisme, harmonisasi dengan alam, kesederhanaan dan sabilulungan masih dipegang kuat. Bahkan jika ada warga lembur yang urban ke kota – tapi masih memegang nilai-nilai pilemburan – akan menjadikan lembur sebagai medium penguatan spiritualitas. Salah satu karya sastra berbentuk prosa religius karangan Enas Mabarti bertajuk: Gunem Rencep Sidem (2000) mengindikasikan hal itu.
Pada halaman 45-47, Enas Mabarti dengan rekayasa bahasa yang memukau dan ngadeudeulan manah (estetik, artistik dan profetik) membawa kesadaran kita bahwa pengalaman hidup bisa dijadikan alat mengingatkan diri pada asal-usul (purwadaksina) kemanusiaan. Alhasil, merefleksikan eksistensi “lingkaran spiritualitas” yakni: Gusti Allah, kanjeng Nabi Muhammad, jasa kedua orang tua dan alam sekitar adalah ketaknisbian hidup. Refleksi atas gejala kehidupan – meminjam bahasa Jakob Oetama – adalah providentia Dei, penyelenggaraan Tuhan yang bukan kebetulan-kebetulan. Ya, bisa juga disebut sunnatullah!
Sastrawan Sunda telah melakukan hal itu. Seperti yang terdapat pada serpihan tulisan Enas Mabarti: “Jungjunan. Mugi salira maparin ka pun bapa, syafaat, oge ka pun biang, nu parantos teu aya dikieuna”. Itulah deretan kata yang disusun sastrawan kelahiran Tasikmalaya ini, sebagai permohonan purifikatif atas ayah dan ibunya yang berada di alam kalanggengan. Jadi, eksistensi lembur yang meruang dan mewaktu – di mana saya, anda, dan sastrawan Sunda pernah mengukir pengalaman hidup –memberikan andil bagi pengarahan jalan hidup seseorang. Dan karya literal sastrawan dan sastrawati Sunda telah membuktikan hal itu. Wallahua’lam
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: