22 September 2007

Elastisitas Diri Ki Semar

BAGIKAN

Oleh SUKRON ABDILAH

Unik betul jika kita menyaksikan keluarga salah satu tokoh pewayangan, yakni Ki Semar. Ia memiliki tiga anak yang penuh keanekaragaman bentuk, karakter, dan pribadi yang disikapi secara arif olehnya. Di tengah perbedaan fisik dan psikis dalam keluarga Ki Semar itu, kita tidak menemukan adanya pertentangan dan diskriminasi kasih sayang.

Tak berlebihan jika Ki Semar dengan jambul dan perut buncitnya yang selalu menyimpan tangan kanan di belakang dianggap sebagai prototipe manusia paripurna yang siap mengayomi anak-anaknya ketika tertimpa masalah. Secara simbolis, tangan yang disimpan ke belakang mengindikasikan ia tengah memberikan berkah kepada anak-anaknya yang duduk bersama di belakangnya. Dalam bahasa lain, ia mampu menyikapi perbedaan dengan perlakuan sama. Tak ada pemilahan diskriminatif kepada putra pertama, kedua, dan terakhir.

Lantas, bagaimana dengan bangsa ini? Ingatkah kita bahwa Indonesia merupakan negeri yang dipenuhi lebih kurang 17.000 pulau, 400-an bahasa lokal, dan 600-an suku?

Falsafah hidup berbangsa juga selayaknya memantulkan elastisitas diri agar secara praksis dapat memperlakukan anggota dalam bangunan NKRI secara adil. Sama persis dengan yang diejawantahkan secara nyata oleh Ki Semar ketika di tengah-tengah keluarganya terdapat perbedaan dengan perlakuan yang tidak diskriminatif. Apalagi, ketika realitas sosial di negara kita sedang berada di ambang kesedihan, sosok pemimpin yang dapat menampung dan menyelesaikan aspirasi rakyat boleh jadi merupakan harapan yang niscaya harus terjadi.

Kekinian menyedihkan

Memang betul, jika kekinian yang terjadi pada bangsa adalah kekinian yang menyedihkan. Peralihan dari pemerintahan Orde Baru ke pemerintahan Reformasi justru melahirkan pelbagai peristiwa memilukan dan memalukan. Kekerasan antaretnik di medio era reformasi kerap terjadi, bahkan upaya penafsiran agama dan identitas etnik secara rigid menjadi hal lumrah bagi bangsa kita.

Maka, diperlukan sosok manusia seperti Ki Semar yang memiliki elastisitas diri sehingga bisa berperan aktif dalam menanggulangi persoalan kekerasan, misalnya teror, pemiskinan struktural, dan kebijakan mengimpor bahan pokok, secara arif dan bijaksana. Sebab, sebagai seorang punakawan yang menjadi penasihat raja dan kesatria di kubu Pandawa, Ki Semar memiliki kearifan yang tiada tanding. Meski hanya seorang hamba yang hina dan lucu, kehadirannya merupakan suatu kritik terhadap nilai-nilai satria, bahkan acap kali menjadi seorang pemberi arahan etis-moral ketika negerinya tertimpa masalah (Benedict R O'G Anderson, 2000: 42).

Kita tidak mengharapkan jika masalah kerawanan sosial di tubuh bangsa akibat primordialisme berbungkus tribalisme menggejala ke permukaan. Misalnya, pemekaran wilayah acap kali dibungkus dengan dalih efektivitas pengelolaan sumber daya alam yang sentralistis, padahal atas kepentingan pribadi dan kelompok. Selain itu, pluralitas etnik, keyakinan religi, bahkan berbagai ideologi juga menjelma menjadi "kutukan terselubung" yang ditahbiskan Tuhan.

Kita tidak sadar bahwa sebagai sebuah negara, suasana masyarakat Indonesia dipenuhi keragaman budaya, agama, dan keyakinan yang unik. Maka, jika saja kita mau dan sudi belajar pada tokoh Ki Semar -meskipun berasal dari cerita mitos- sebagai seorang punakawan yang tidak pernah mempersoalkan keragaman di tubuh keluarganya, bangsa ini akan terikat oleh tali komunalisme yang kokoh dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Ketika bangsa ini tidak bisa bertenggang rasa satu sama lain, itu merupakan upaya pengingkaran terhadap eksistensi orang lain, yang tentunya memiliki pernyataan budaya yang majemuk.

Adalah keniscayaan mengkaji ulang warisan karuhun dengan semangat yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Apalagi, dalam konteks kekinian, di Tatar Sunda wacana penggalian tentang kesundaan mulai merebak kembali. Ketika tidak berpegang pada sikap dan tindakan yang multikulturalis, boleh jadi wacana penggalian budaya lokal itu akan menjebak warga pada paradigma rasis bahwa budaya "aing anu pang alusna".

Bangsa elastis

Dalam tulisan bertajuk "Negeri dengan Elastisitas Diri" oleh Radhar Panca Dahana (Kompas, 30/5/7), ada tesis menarik, bahwa betapa pun baru dan mutakhirnya kondisi, masyarakat yang ada di negeri ini tetap menggunakan satu modus yang khas dalam berekspresi dan mengaktualisasi diri. Ia mengistilahkannya sebagai modus of cultural expression, yakni semacam ekspresi kultural untuk mengembangkan kualitas diri secara kolektif melalui proses mencipta dengan membaca simbol-simbol budaya yang ada di sekitar kehidupan.

Ketika kita telah sedemikian asyik melumuri diri dengan arogansi, eksklusivitas, dan intoleransi, hal itu akan menghancurkan keragaman yang saat ini telah menjadi kesepakatan bersama lewat wujud NKRI. Maka, saya pikir kebersamaan di tengah keberagaman bisa menggiring lahirnya kesatuan dan persatuan di Indonesia tercinta ini. Ki Semar telah menyampaikan hal itu dengan memperlakukan anak-anaknya secara sama, tanpa diskriminasi terselubung.

Lantas, bagaimana dengan bapak bangsa kita? Sudahkah mengamalkan kebijaksanaan sikap dan laku lampah Ki Semar ketika berposisi sebagai seorang pemimpin? Semoga saja bapak bangsa mampu dan sudi berguru kepada Ki Semar kendati tokoh ini hanya ada dalam cerita pewayangan. Sebab, secara filosofis, seni pertunjukan wayang merupakan bayangan, gambaran, dan atau representasi hidup manusia.wallahua'lam

Sumber: Kompas Jawa Barat, Sabtu, 15 September 2007
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: