11 September 2007

"Munggahan"

BAGIKAN
Hari Senin (10/09/2007) ibu saya menelpon dari kampung. Hendak menanyakan, bagaimana keadaan saya. Kemudian, beliau juga menanyakan apakah saya akan munggahan di kampung.

Ah, di Kota saja. Sekalian ngajaran bagaimana sahur jauh dari keluarga. Paling, pertengahan atau akhir sasih siyam saya mudik ke kampung. Mau belajar mandiri, Ma. Ucap saya.

"O.., teu ku nanaon atuh, jang. Omat kudu ngajaga puasa ulah nepi ka bocor. Kecuali, aya halangan. Nya maksad teh, geuring. Lain halangan kawas istri." Ujarnya sedikit bercanda.

Insyaallah, Ma. Yang penting, ketika hari pertama puasa (munggah), Roron -- sebutan saya sejak kecil -- gembira dan senang. Jawabku.

Munggah memiliki arti mancad atau naik dari kondisi yang lama ke kondisi yang baru. Maka, ndak salah kalau di Sunda ada tradisi munggahan. Gejala kebudayaan ini mengindikasikan bahwa urang Sunda hendak mempersiapkan diri menyongsong hari kesucian. Ekspresinya beragam. Ada yang ziarah, botram, piknik ke gunung, nyadran, dan sebagainya.

Intinya sama, yakni untuk mempersiapkan diri memasuki sasih siyam. Warga yang pergi ziarah, umpamanya, bermaksud menyucikan diri dan mengingatkan diri pada kematian. Di kampung saya, ada yang pergi ke sawah untuk botram bersama warga sekampung. Tapi, kebiasaan ini sekarang agak sedikit menghilang. Lagi-lagi globalisasi yang dipersalahkan. Kemudian, bagi orang Sunda yang masih kental memegang tradisi dari Islam Jawa, akan melakukan prosesi nyadran atau menggelar malam nifsyu syaban. Ya, tujuannya sama yakni untuk bersiap diri menghadapi rongkahna gangguan di bulan Ramadan.

Maka, betul ketika Ki Guru (Budhiana) -- punten ku abdi dikutip -- menulis di web blog, (budhiana.blogspot.com, 10/09/2007) sbb:

Semakin banyak dosa, semakin banyaklah titik jelaga.
Semakin banyak jelaga, semakin tertutuplah hati oleh jelaga.
Semakin hitamlah hati hingga dia tak mampu menangkap sinar ilahi.
Apakah manusia berhati jelaga bisa menangkap Nur Ilahi.
Bisa...
Asalkan dia rajin menggosok hatinya, sehingga jelaga hitam terkikis.
Bagaimana menggosok hati berjelaga sehingga menjadi bening kembali?
Berpuasalah...
Bertaubatlah...
Kendalikan mulutmu.
Kendalikan telingamu.
Kendalikan matamu.
Kendalikan auratmu.
Kendalikan nafsumu.

Ya, bulan puasa adalah moment tepat untuk melatih diri. Mengendalikan mulut, telinga, mata, aurat, dan nafsu. Tentunya agar tidak melakukan hal-hal kotor dan tercela. Sumuhun, kalau kata pepatah kolot, hidup mesti menjaga 10 palawangan agar tidak dimasuki aib dan cela. Kalau begitu, apa dong 10 palawangan itu?

Jawabannya ada pada hari pertama puasa. Munggah tea! Sebab, di hari itu kebanyakan umat Islam betul-betul hidmat menjalankan ibadah puasa. Setelah puluhan hari, puasa terasa biasa lagi. Bahkan, perilaku kita masih biasa-biasa, tidak luar biasa. Untuk sekadar memberi motivasi, maka Gusti Allah menjanjikan berkah dan maghfirah pada malam lailatul qadar.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: