9 September 2007

Puasa dan Kemanusiaan

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Aku heran pada orang yang mencari karena kehilangan sesuatu, namun tidak memerhatikan untuk menemukan dirinya yang hilang. (Ali bin Abi Thalib).

BANGSA kita sangat mengakrabi hal-hal yang berdimensi religius sebab mayoritas penduduknya meyakini eksistensi Tuhan beserta ajaran-Nya. Namun, sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah sebagai makhluk-Nya telah menemukan di dalam diri ini ada sesuatu yang hilang? Saya pikir, tepat apa yang dikatakan Imam Ali bin Abi Thalib di atas, bahwa kita cenderung malas mencari dan menemukan sesuatu yang hilang dari diri kita.

Sesuatu yang hilang tersebut adalah akar-akar kepedulian dalam diri ketika berinteraksi dengan sesama. Dalam bahasa lain, kita telah menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan dan melupakan bahwa ajaran Tuhan mesti dibumikan secara praksis dalam realitas sosial kemasyarakatan. Disyariatkannya puasa pada bulan Ramadan, boleh jadi merupakan salah satu trik untuk menghidupkan kembali "matinya" rasa kemanusiaan di dalam setiap pribadi umat Islam.

Sebab, puasa merupakan ibadah yang sarat akan nilai-nilai kemanusiaan yang bisa dilihat dari pelatihan diri untuk mengempati penderitaan rakyat miskin. Berpantang dari makan, minum, pemenuhan kebutuhan biologis, dan berperilaku kotor bisa dikategorikan ke dalam aktivitas yang berimplikasi sosial. Mengapa? Dengan berpantang dari makan dan minum sehari penuh, umat Islam diajarkan untuk tidak konsumtif dan mesti merasakan penderitaan orang yang tak makan seharian.

Bahkan, menjauhkan diri dari aktivitas kotor, misalnya korupsi, ketika sedang menjalankan puasa, adalah indikasi puasa sarat dengan etika moral sosial dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Mungkin saja selama bulan-bulan ke belakang, sisi kemanusiaan dalam diri kita tertimbun aktus yang sarat dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Martabat kita juga terdegradasi hanya karena untuk memenuhi kebutuhan perut dan nafsu. Misalnya, korupsi berjamaah yang di Indonesia sudah sedemikian meningkat secara kuantitas. Itu terjadi karena rasa kemanusiaan dalam diri menghilang, dan tentunya harus kita temukan kembali dengan pelbagai cara.

Pencarian yang hilang

Maka, bulan Ramadan dapat dijadikan bulan untuk menemukan sisi kemanusiaan kita yang selama 11 bulan hilang. Pada sebelas bulan ke belakang mungkin saja jiwa kita terkotori aneka perilaku kotor. Kita tidak peduli dengan rintih-rengek rakyat miskin, merasa bahwa kebijakan yang dikeluarkan tidak mencekik rakyat, bahkan kita acap memperjualbelikan suara rakyat hanya untuk mendulang perolehan suara pada pemilihan kepala daerah.

Kasarnya, perilaku kita telah jadi habitus yang mementingkan diri sendiri, dan mengenyampingkan penderitaan orang lain. Rasa kemanusiaan kita pun menghilang seiring dengan perputaran ruang dan waktu. Adalah suatu keniscayaan untuk menghidupkan rasa kemanusiaan dalam hidup keseharian sebagai manifestasi religiusitas yang berdampak secara sosial. Ketika bertugas di instansi, misalnya, Tuhan akan terasa memerhatikan dan kita pun akan berusaha menghindarkan diri dari perilaku jahat dan korup sebagai implikasi dari ketulusan atau keikhlasan.

Ahmad Syafii Ma'arif (2005) berpendapat bahwa ketulusan berarti kejujuran, kebersihan, dan keikhlasan. Ikhlas (dalam bahasa Arab) dapat diartikan dengan pengabdian yang tulus (sincere devotion), karena itu perkataan sincere mesti melukiskan manusia yang suci-bersih, dipercaya, bebas dari tipuan dan kepura-puraan, jujur, tulen, murni, serta terus terang. Maka, ketika menunaikan puasa di bulan Ramadan ini, sebetulnya kita sedang belajar berperilaku jujur, ikhlas, dan bersih dari cela.

Coba rasakan, ketika puasa dijalankan penuh kejujuran, kendati tidak ada orang di sekeliling kita. Kalau kita tidak jujur dan ikhlas, bisa jadi kita akan berbohong, pura-pura berpuasa di hadapan manusia, tetapi kita tidak mungkin berbohong kepada diri sendiri dan Allah SWT. Tak salah jika ada yang mengatakan bahwa puasa merupakan ibadah yang privacy, personal, atau pribadi. Hanya dirinya dengan sang Tuhanlah yang mengetahui aktivitas berpuasa. Kejujuran dan keikhlasan adalah dua entitas yang menghilang dari kedalaman jiwa kita dan akan ditemukan saat puasa dilakukan tanpa ada motif-motif sesaat.

Kekuatan pembebas

Dengan puasa sebulan penuh, sisi kemanusiaan kita sebagai implikasi religiusitas ketika menjawab permasalahan sosial akan menampakkan geliat yang membebaskan manusia dari determinasi berhala-berhala yang menjajah (thagut). Berhala tersebut bisa berwujud dalam aneka bentuk, bisa berupa apa saja harta, kekuasaan, atau situasi politik, ekonomi, kultur, serta institusi-institusi kemasyarakatannya.

Islam--meminjam bahasa Dawam Rahardjo--merupakan kekuatan pembebas, baik dari kebodohan maupun perbudakan. Oleh karena itu, Islam yang membebaskan dan emansipatoris bukanlah pengertian yang abstrak. Namun, dalam konteks kini makna Islam sebagai ideologi pembebas dan emansipatoris telah menjadi abstrak. Buktinya, perhatian umat masih terpusat kepada Tuhan, sementara itu sisi horizontal terlupakan.

Yang lebih parah dan harus kita perangi adalah berhala kekuasaan dan harta karena dengan mendewakan kekuasaan dan harta, sisi kepedulian kita terhadap kesedihan, keperihan, dan kesengsaraan rakyat miskin akan tercerai-berai dari pribadi. Gejala seperti ini akan melahirkan manusia-manusia yang memakan harta warisan dengan rakus, tidak bertanggung jawab terhadap persoalan kemiskinan, dan tidak mau menyantuni rakyat miskin walaupun sekadar memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. (M Dawam Rahardjo, 2004)

Itulah kehilangan terbesar seorang manusia yang tidak bisa melepaskan diri dari penjajahan nafsu keserakahan hingga mengakibatkan menyeruaknya penindasan dalam pelbagai bentuk. Dengan demikian, realitas sosial bangsa negara saat ini membutuhkan peran agama yang membebaskan rakyat dari penjajahan dan kemiskinan. Sebab, perilaku kapitalis, yakni menumpuk-numpuk harta dengan cara mencekik napas kesejahteraan rakyat merupakan bentuk perilaku kongkret dari "mendustakan agama".

Seperti yang tertera pada pokok isi surat Al-Ma'un yang menjelaskan ancaman terhadap mereka yang tergolong mendustakan agama yakni mereka yang menghardik anak yatim, tidak menolong fakir miskin, riya' (ingin dipuji sesama manusia) dalam salatnya, serta enggan menolong dengan barang-barang yang berguna (ayat 1-7). Andai pelaksanaan puasa tidak membebaskan diri dari penjajahan harta dan kekuasaan, dengan tidak memedulikan kalangan miskin, itu merupakan bentuk dari pengingkaran terhadap misi kemanusiaan agama Islam.

Hidup terperiksa

Nilai-nilai kemanusiaan sebagai tanda dari eksistensi jika tak terperiksa secara kritis akan terseret arus kepentingan sesaat. Akibatnya, relasi sosial dipenuhi sekat-sekat kepentingan yang mengenyampingkan eksistensi wong cilik sebagai tanda menggejalanya dehumanisasi. Tak salah jika Socrates pernah berujar, hidup yang tak terperiksa, tidak layak untuk diteruskan.

Salah satu jalan untuk memeriksa diri dan menghidupkan rasa kemanusiaan adalah dengan berpuasa karena ibadah ini bisa dikategorikan sebagai personal religiousity dan social religiousity, yakni kesalehan individual yang berimplikasi terhadap kemanusiaan. Dengan berlapar-lapar, haus, dan menahan hasrat, kita bisa belajar untuk mengempati orang lain dan menahan diri untuk tidak berlaku jahat dan korup. Kita akan sangat menyadari bahwa hidup di dunia profan sangat memerlukan kehadiran orang lain. Ini artinya, sebagai seorang manusia, mestinya terus mempertanyakan apa dan bagaimana fungsi kita di dunia profan ini.

Lantas, sudahkan puasa kita mengantarkan diri untuk menyadari fungsi kemanusiaan di dunia riil ini? Karena, tak bisa kita sangkal lagi bahwa ajaran Tuhan itu diturunkan ke dunia dan bukan di akhirat sana. Jadi, seyogianya keberagamaan kita mesti menampakkan tanggung jawab sosial sebagai aktualisasi misi kemanusiaan puasa. Manusia, secara eksistensial selalu punya keterangan yang jelas tentang dirinya dan menunjukkan kesalinghubungan bersama melalui cara hidup dalam ruang sosial berhiaskan empati terhadap sesama.

Puasa ternyata mampu menempa diri setiap umat Islam untuk mengempati segala penderitaan rakyat miskin, sebagai misi kemanusiaan yang selama 11 bulan telah hilang dari jiwa kita. Dan, puasa betul kiranya jika dikatakan sebagai salah satu ritual yang berfungsi menemukan sisi kemanusiaan yang hilang dari diri. Sebab, inti dari pembebanan (syariat) ibadah puasa adalah untuk menyadarkan manusia bahwa dirinya harus merasakan penderitaan sesama.***

Penulis, pegiat Tepas Institute, aktivis IMM Jawa Barat, alumnus Universitas Islam Negeri SGD Bandung.

sumber : Pikiran Rakyat, Jumat, 07 September 2007

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: