10 September 2007

Setelah Wisuda

BAGIKAN
Wah, hari Sabtu (08/09/2007) kemarin saya baru beres menunaikan prosesi wisuda di UIN SGD Bandung. Ibu saya tentu saja senang dan gembira. Hampir lima tahun anaknya menimba ilmu hingga meraih gelar sarjana. Namun, di satu sisi saya termenung memikirkan jalan hidup ke depan. Akankah saya mampu membalas jasa orangtua -- yang hanya sendirian -- banting tulang membiayai pendidikan saya sejak SD, Pesantren sampai perguruan tinggi. Terlihat jelas dari wajahnya yang ceria dan ngagusur saya untuk berpose di depan kamera, katanya untuk oleh-oleh urang kampung.

Ada yang unik dan menggelitik ketika berlangsung prosesi Wisuda angkatan 2006/2007 kemarin. UIN Sunan Gunung Djati Bandung seakan berubah menjadi UIN "Sunda" Gunung Djati. Sebab, dari awal disajikan lagu penghibur seperti Mojang Priangan, lengser, dan diiringi tetabuhan degung klasik serta suara suling yang ngageulik. Yang lebih menyentuh saya adalah prosesi ngaistrenan wisudawan dan wisudawati dengan pemberian pituah dan nasihat yang membuka katup kesadaran.

Petatah-petitih itu adalah "bral geura miang. geura usaha soson-soson". Ya, dunia nyata tengah menghadang kita. Para sarjana yang harus bisa memberikan secercah harapan bagi rakyat miskin desa maupun kota. Jangan sampai usaha atau pekerjaan kita mencekik kesejahteraan rakyat, bahkan banyak yang menipu rakyat. Gelar ternyata tidak bisa membuktikan bahwa dirinya akan terus mengada dan berada pada ruang-waktu. Namun, yang membuat kita terus mengada adalah berfungsinya sisi kepedulian kita terhadap sesama. Ini akan menghasilkan semangat mengeluarkan orang lain dari impitan beban hidup.

Misalnya, cara yang dilakukan Muhammad Yunus, ia bertukar pikiran dengan kita, bahwa sebagai seorang akademisi, tugas selanjutnya bukan hanya duduk di kursi jabatan. Melainkan melakukan pembenahan dan pengembangan terhadap rakyat miskin sesuai dengan disiplin ilmu yang kita kuasai. Saya, karena berasal dari disiplin ilmu keagamaan, umpamanya, harus bisa memfungsikan ajaran Tuhan hingga mampu menjawab tantangan zaman. Begitu juga dengan pakar ekonomi, politik, budaya, sosial, dan filsafat; semuanya mesti memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitar. Bukankah ketika kita mengenyam pendidikan di S1, menggunakan pajak yang dihasilkan dari rakyat Indonesia?

Jadi, setelah wisuda berlalu. Mangga...geura miang. Seja milari kamulyaan hirup ku jalan anu mulya. Maluruh pakasaban anu teu ngincidkeun pangacian hirup. Pangacian eta, salah sahiji mikukuh hirup ku etika-moral katut agama.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

1 komentar:

Budhiana said...

Wilujeung diwisuda juragan. Sok geura mulang tarima ka nu jadi kolot. Teu kudu ku banda, da rejeki mah anging Allah anu ngatur. Tapi ku ngajaga ngaran kolot.
Sing jadi jalma jembar wibawa, leber wawanen, pinter tapi teu guminter, sakti diri teu kumaki.
Bral...