23 October 2007

Glokalisasi Urang Sunda

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

"Terima kasih pada komputer, terima kasih pada internet"

(Thomas L Friedman, kolumnis New York Times)

Ketika saya menjelajahi internet untuk mencari informasi tentang glokalisasi, menggunakan search engine papan atas google, sampai pada kalimat di bawah ini.

Glocalization (or glocalisation) is a portmanteau of globalization and localization. By definition, the term "glocal" refers to the individual, group, division, unit, organization, and community which and is able to "think globally and act locally". The term has been used to show the human capacity to bridge scales (from local to global) and to help overcome meso-scale, bounded, "little box" thinking (Wikipedia.org).

Terjemahan bebasnya, glokalisasi adalah perlabuhan antara globalisasi dan lokalisasi. Secara bahasa, “glokal” berarti individu, grup, divisi, unit, organisasi dan komunitas yang mampu berpikir secara global dan bertindak lokal. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan kapasitas manusia dalam menjembatani skala (dari lokal ke global) dan untuk menanggulangi pikiran-pikiran yang meso-skala, keluar batas, dan sempit.

Masyarakat lokal yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (ITC), menurut penganut teori convergence telah melakukan gerakan glokalisasi (glocalisation). Ya, globalisasi berkonvergensi dengan lokalisasi lewat pemanfaatan teknologi global untuk menghidupkan identitas budaya asli (indigenous culture). Maka, dengan menggunakan media internet, urang Sunda bisa menuangkan pikiran atau pengalaman lokal melalui blog, website, dan mailinglist sehingga ikatan lokal menguat dan bisa dilihat serta dirasakan (look and feel).

Urang sunda yang melek internet merupakan ejawantah dari pribahasa "miindung ka waktu mibapa ka zaman". Dengan perangkat komputer atau laptop yang terkoneksi ke internet, itu bisa kita jadikan alat penghantar pesan (The medium is the message). Terutama, pesan yang berisi tentang khazanah kebudayaan Sunda. Andai urang Sunda tidak ngigeulan dan ngigeulkeun perkembangan zaman, jangan heran kalau Sunda bakal termasuk kepada ribuan etnis di dunia yang akan segera punah.

Dengan memanfaatkan teknologi informasi – salah satunya internet – untuk menginformasikan soal kesundaan merupakan satu usaha dalam menjaga kelestarian seni dan budaya di tatar Sunda. Generasi muda mesti proaktif melakukan penetrasi budaya global (mancanegara) dengan cara meng-upload konten berupa teks, video, dan photo yang berisi kebudayaan lokal masyarakat Sunda di homepage pribadi, mailinglist, blog, dan website.

Oleh sebab itu, kita jangan menjadi urang Sunda yang posisinya sama dengan katak dalam tempurung. Ia tidak tahu tentang perkembangan teknologi informasi dan tidak mau menunjukkan kepada orang lain (dengan mengeksiskan diri lewat website atau blog) bahwa etnis Sunda itu eksis. Globalisasi – khususnya di bidang teknologi informasi – tentu saja mesti dimanfaatkan oleh urang Sunda untuk melakukan penetrasi budaya luar.

Apalagi eksistensi seni dan budaya di Jawa Barat saat ini kian terancam. Dari 8 cabang seni berjumlah 257 jenis yang terdokumentasikan, sekitar 124 masih berkembang, 100 tidak berkembang, dan 26 jenis kesenian telah punah. Sementara itu, untuk nilai-nilai tradisional yang terdokumentasikan sbb: 145 macam makanan tradisional, 25 permainan rakyat, 12 kampung adat, 20 cerita rakyat, 39 upacara adat, dsb.

Globalisasi, ternyata telah dihadapi kaum muda Sunda. Misalnya, membuat situs www.urang-sunda.net (website komunitas urang Sunda di internet), www.sundanet.com (portal komunitas Sunda), www.kasundaan.org (menyediakan informasi kesundaan berbahasa Sunda, Indonesia dan Inggris), www.pasundan.org, www.simpay-wargiurang.com dan masih banyak uploader dari Sunda yang memublikasikan ide-gagasan kesundaan di blogspot, wordpress, multiply, dll. Bahkan, ada juga e-kamus su.wikipedia.org (wikipedia berbahasa Sunda).

Pada alamat-alamat itu tersedia berbagai informasi tentang kekayaan seni dan budaya Sunda, yang bisa dijadikan pelepas dahaga kesundaan oleh para pengguna (user) layanan akses internet. Sebab, setiap orang bisa mengakses tentang kekayaan kultural Sunda yang dikelola oleh sebuah komunitas, individu dan pemerintahan secara langsung tanpa patal batas. Website di atas merupakan gerakan glokalisasi sebagai respon dari tekanan globalisasi yang cenderung menyeragamkan budaya dalam istilah “desa global”.

Dari sini juga, masyarakat Sunda “melek internet” akan menyadari bahwa manusia itu dipenuhi pluralitas adat-kebiasaan atau budaya. Sebab, di internet, kita bisa merengkuh seluruh isi media berupa teks, gambar-gerak, citra audiovisual, dan realitas virtual dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Tapi, jangan lantas kehadiran internet menciptakan masyarakat Sunda “melek internet” yang mengamputasi “sense of crisis” ketika berinteraksi dengan masyarakat.

Maka, saya setuju dengan Budhiana Kartawijaya (Zaman Keemasan, “PR”, 30/09/2007) – yang bersemangat memberikan pemahaman pada kita, bahwa bangsa ini sangat potensial dengan generasi yang imajinatif, jenius, ngoprek, dan mampu memenagi perlombaan internasioanl yang diselenggarakan PBB. Apalagi, pemenang pembuatan prangko dari Indonesia itu, misalnya, baru menginjak kelas dua Sekolah Dasar. Tapi, masalahnya mampukah pemerintah memperbaiki infrastruktur ICT sehingga akses internet bisa dijangkau warga miskin?

Pesan ti simkuring, orang Sunda kiwari harus berslogan “Aku melompat ke internet, karena itu aku eksis”. I jump to internet, therefore I exist. Cag sakitu!


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: