6 October 2007

Mudik, Gejala Integrasi Bangsa

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Sepekan lagi hari raya Idul Fitri atau lebaran segera tiba. Kaum urban yang bekerja di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Palembang, Medan, Bali dan Bandung bersiap-siap pulang ke kampung halaman masing-masing. Gejala seperti ini lebih populer dengan istilah mudik, yang berarti aktivitas pulang ke kampung halaman yang dipraktikkan bangsa secara kolektif dari suatu kota besar menuju ke pelosok pedesaan.

Aktivitas kebudayaan ini dilakukan serentak oleh seluruh bangsa Indonesia yang bekerja di kota agar bisa merayakan lebaran bersama keluarga dan anggota masyarakat di tempat kelahiran. Suasana kota-kota besar pada hari lebaran mungkin akan sedikit lengang karena ditinggalkan oleh sebagian penduduknya. Mereka pulang ke kampung halaman guna bersilaturahmi, bercengkrama, dan berkumpul bersama sanak saudara yang telah sekian lama tak bersua.

Tak jarang pula ketika mereka pulang ke kampung halaman, membawa dan menunjukkan berjuta gengsi, prestise, dan keberhasilan agar mendapat pujian dari anggota keluarga dan masyarakat sekitar. Sebab, kota (dayeuh) diyakini sebagai tempat mencari dan mewujudkan cita-cita atau memeroleh keberhasilan finansial oleh warga dari pelosok-pelosok desa.

Namun, tentunya banyak juga dari mereka yang tidak membawa apa-apa, bahkan hanya bisa mengirim kabar derita kepada saudaranya di kampung halaman karena tak punya ongkos atau mendapat kecelakaan di jalan raya ketika sedang mudik. Yang pasti, hari lebaran telah menjadi mobilisator bagi masyarakat Indonesia untuk sudi mengantre atau berjejal-jejal di dalam kendaraan agar bisa sampai ke tempat tujuan.

Mudik lebaran

Tak heran jika almarhum Cak Nur pernah berpendapat bahwa hari raya Idul Fitri atau lebaran merupakan puncak dari pengalaman sosial keagamaan rakyat Indonesia. Sebab, bagi orang yang mengadu nasib ke perantauan, aktivitas selama sebelas bulan ke belakang diarahkan untuk dapat merayakan hari lebaran sebaik-baiknya bersama warga pedesaan.

Saking besar daya gugah hari raya umat Islam ini, mereka (pemudik) rela berdesakan dan mengeluarkan ongkos kendati naik puluhan persen agar sampai ke kampung halaman. Tidak pernah rasanya, ada mahasiswa yang berdemonstrasi menentang kebijakan pemerintah ketika menaikkan ongkos (tuslah) atau kebutuhan-kebutuhan pokok sehari-hari warga kalau mendekati hari lebaran.

Dalam khazanah kesundaan, hari raya Idul Fitri atau lebaran dikenal dengan istilah boboran, diambil dari kata bobor yang berarti buka puasa. Istilah ini juga seringkali digunakan untuk menyebut hari raya Idul Adha, karena pada kedua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) tersebut didahului dengan ibadah puasa. Maka, hari lebaran adalah hari di mana umat Islam mengakhiri ibadah puasa karena secara lugowi, lebaran memiliki arti lubar atau bebas.

Alhasil, kita akan mendengar jika ada orang yang berujar “wilujeung lebaran puasa” untuk menunjukkan bahwa urang Sunda telah bebas dari puasa di bulan Ramadhan. Atau, dalam perspektif ajaran Islam, diri warga di tatar Sunda telah kembali kepada kesucian diri (al-fithrah) dan hari lebaran mesti disambut secara gegap-gempita, tapi harus merasa lebaran membelanjakan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat (baca: jangan konsumtif).

Apalagi, di tengah kondisi perekonomian yang tidak stabil, menjadi keniscayaan untuk urang Sunda yang mudik ke tempat kelahirannya agar membelanjakan harta untuk suatu kebaikan. Misalnya, diberikan kepada warga miskin, anak yatim, atau untuk pengembangan usaha yang dikelola pemuda-pemudi di kampung guna memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka.

Tidak lantas, hasil jerih payah kita di kota digunakan atau diberikan untuk mencekoki warga desa dengan nilai-nilai pergaulan masyarakat kota yang banyak mengenyampingkan kearifan lokal (local wisdom). Sebab, warga masyarakat pedesaan memiliki karakter interaksi sosial yang lebih mendalam, erat, dan komunalistik seperti tercermin dalam pribahasa Sunda “ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi saleubak”.

Kesatuan rasa

Oleh karena itu, hari lebaran mestinya menjadi hari di mana orang kota yang berasal dari kampung menyadari bahwa relasi masyarakat harus menampakkan keharmonisan dengan sesama agar terwujud rasa integrasi nasional bermula dari kota yang heterogen. Kendati ada perbedaan dalam penentuan hari lebaran untuk tahun ini, tapi tidak harus menjadi penghalang dalam mewujudkan integrasi bangsa. Persatuan dan kesatuan bangsa ini, setiap kali lebaran tiba – khusus di Indonesia – menampakkan wujud kongkretnya.

Mengapa? Sebab, di tengah perbedaan ini, bangsa kita yang pada tahun ini diprediksikan berjumlah 14,8 juta orang atau naik 5,6 persen dari jumlah tahun kemarin sebanyak 14 juta (Kompas, 15/09/2007), ternyata masih mempraktikkan tradisi mudik ke kampung halaman ketika hari mendekati lebaran.

Bukankah tradisi mudik (kembali ke kampung asal) ini merupakan gejala bahwa bangsa kita memiliki tali kebudayaan yang bisa mengikat keterceceran rasa nasionalisme warga di setiap daerah? Sebab, persoalan negara kita saat ini adalah akibat masyarakat kita telah tumbuh menjadi masyarakat dengan tingkat saling percaya yang rendah (low trust society) dan terkikisnya rasa nasionalisme dari jiwa.

Maka, tradisi mudik dalam merayakan hari lebaran ke pilemburan sebagai gejala persilangan budaya lokal dengan ajaran Islam – meminjam bahasa Cak Nur – semoga dapat dijadikan bahan permenungan demi pembangunan bangsa menuju masa depan yang lebih baik. Betapa tidak, di tengah perbedaan dalam tubuh umat Islam, kita bisa mempraktikkan budaya secara kolektif yang bisa mempererat dan mempersatukan bangsa ini di tengah menggejalanya berbagai pemahaman dan keyakinan. Wallahua’lam

Sumber: Kompas Jawa Barat, Kamis, 11 Oktober 2007

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: