7 November 2007

Buku Cahaya Peradaban?!

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

PAK Jacob Sumardjo dalam Fokus ("PR", 28/10/2007) menulis kalau mau miskin menulislah buku. Kalimat itu tentu saja membuat saya merasa mandeg mayong menulis. Di satu sisi, siapa yang tidak ingin kaya. Meski secara pribadi saya tidak mau kaya tapi tidak bahagia. Semenjak saya suka menulis, tidak terbesit sedikit pun keinginan untuk memuaskan kebutuhan finansial. Sudah terpampang nama saya di media cetak pun itu sudah memuaskan kebutuhan eksistensial saya.

Memang betul jika penulis -- sebagai profesi -- di Indonesia belum menjanjikan secara material. Apalagi jika sudah berhubungan dengan perusahaan penerbitan. Sebab, penerbit (publisher) lebih mengambil keuntungan dengan menggencet para penulis. Royalti yang diperoleh saya sebagai penulis "kacangan" di sebuah penerbitan di kota Bandung hanya sekitar 7 persen. Meskipun ada yang memberi 12 persen, sampai sekarang buku karya pertama saya itu tidak memberikan keuntungan material.

Bahkan, kalau dihitung-hitung lebih besar pajak penghasilan sekitar 15 persen kepada pemerintah yang dibebankan kepada penulis. Belum lagi pembayaran royalti yang hanya menyerahkan laporan, sementara itu pembayarannya terkesan mempermainkan para penulis. Mereka seakan tidak memahami bahwa untuk menghasilkan karya dibutuhkan pelbagai penunjang.

Pertama, penunjang intelektual seperti buku, browsing di internet, memfoto copy bahan, dan melakukan penelitian kecil-kecilan untuk memperkokoh substansi sebuah buku. Kedua, penunjang biologis seperti makan, minum, dan merehatkan tubuh kala kita kecapaian. Ketiga, penunjang mental dan material seperti ketahanan emosi, psikologis, atau keuangan -- yang pasti dibutuhkan para penulis untuk membeli penunjang intelektual dan penunjang biologis. Sebab, tanpa kekuatan fisik (daya tahan tubuh), akan berpengaruh pada kekuatan mental hingga memengaruhi produktivitas karya tulis seseorang.

Ketika penunjang tersebut tidak terpenuhi, kualitas sebuah tulisan tentunya akan kalah dibandingkan dengan buku-buku dari negara lain. Maka, ketika pernah membaca atau memperoleh informasi tentang gagasan "self publisher", saya merasa optimis lagi untuk menulis. Seperti yang dikatakan teman saya di Tepas Institute, bahwa gagasan self publisher adalah semacam kegiatan menulis, editing, lay out, mencetak dan memasarkan hasil karya sendiri secara mandiri. Semuanya dilakukan oleh diri sendiri, dengan keuntungan yang tetnunya berlipat ganda.

Apalagi ketika internet telah merambah negara Indonesia, hanya demi kepuasan eksistensial, seseorang sudah bisa menerbitkan tulisannya di Website, web blog, dan koran online. Jadi, tak perlu repot ketika tulisan kita ditolak oleh media cetak. Kita bisa memampangnya di dunia virtual secara berkala. Kalau sudah mapan dan kaya dengan konten tulisan yang berisi, kita bisa menerbitkannya. Bahkan, jalur penerbitan oleh perusahaan juga bisa kita lalui. Sebab, dengan terus menulis tanpa memikirkan material -- meskipun ini kebutuhan penunjang -- kualitas penulisan kita akan terasah. Dan, akhirnya nama kita tidak akan diragukan lagi dalam belantika tulis-menulis.

Alhasil, dengan popularitas nama yang kita sandang, para pembaca sudah tidak asing lagi dengan nama kita, dan ini akan memberikan keuntungan masa depan. Kita dikenal, karyanya dibaca, dan dibeli oleh orang lain. Nah, kalau kita masih "gregetan" dengan dunia tulis-baca, mari kita bangun tradisi keberaksaraan di tubuh bangsa Indonesia. Tujuannya agar tercipta bangsa Indonesia mendatang yang cerdas dan bisa menanggulangi persoalan-persoalan yang mengimpit dengan kepala cerdas. Bukan dengan nafsu keserakahan (kapitalistik) yang banyak dipraktikkan penerbit-penerbit yang berada pada narasi-narasi besar.

Bagaimana mau terbebaskan dari buta aksara, kalau toh bangsa kita susah membeli buku karena harganya mahal. Ya, mahal karena ongkos produksi dikalikan lima kali lipat, enam kali lipat, bahkan pemerintah tidak mau mensubsidi untuk memurahkan kertas.

Jadi, kalau masih seperti itu, betul juga Pak Jacob Sumardjo mengakhiri tulisannya dengan nada sinis, kalau mau miskin menulislah buku!

Itu logis, karena kekayaan bagaikan fatamorgana. Semakin kita kejar, maka akan semakin menjauh, bahkan sampai-sampai menghilang dari pandangan mata. Kalau dibandingkan dengan saya, mungkin Pak Jacob Sumardjo secara material lebih kaya. Tapi, saya yakin beliau juga memiliki kekayaan intelektual dan spiritual karena telah malang melintang bergelut dengan dunia yang dipenuhi cahaya peradaban. Buku tea! Wallahua'lam ***

Penulis, Pegiat Tepas Institute.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: