7 November 2007

"Kumaha" Ijazah dan Transkip Nilai Saya?

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Lima tahun lamanya saya kuliah di UIN SGD Bandung. Hanya untuk satu lembar ijazah dan satu lembar transkip nilai, ditandatangani Rektor dan Dekan Fakultas, orang tua di kampung banting-tulang kerja keras. Puluhan tumbak sawah titinggal ayahku pun dijual. Meskipun, dijualnya kepada salah satu kakakku yang ketiga. Sebab, si Emak tidak mau menjualnya kepada selain dari anggota keluarga. Itung-itung nginjem, katanya.

Tapi, apa yang terjadi setelah saya menerima transkip nilai dan ijazah dari pihak Fakultas? Ada kejanggalan dari nomor induk mahasiswa (NIM) saya. Di Ijazah NIM saya sesuai dengan pemberian Fakultas dari semester satu, yakni 202203506. Berbeda betul dengan yang tertera di transkip nilai, yakni 202203435. Sebelumnya, saya tidak memperhatikan NIM di transkip nilai. Saya mencoba melamar pekerjaan pada koran Harian Umum Pikiran Rakyat. Jujur saja. Baru satu kali saya menggunakannnya untuk keperluan karir.

Ketika ada lowongan di sebuah instansi pemerintahan, saya pun mengurus ijazah dan transkip nilai seorang teman yang kebetulan ada masalah. Lagi-lagi, NIM dia tidak sama antara yang tertera di Ijazah dan transkip nilai.

Sebagai sebuah perguruan tinggi Negeri, ya, seharusnya lebih berhati-hati. Lebih teliti, toweksa, dan perceka dalam mengadministrasi ijazah dan transkip nilai. Sebab, mahasiswa atau alumni yang akan dirugikan. Coba, kalau terlihat oleh pihak instansi swasta atau pemerintahan. Pasti, si pelamar akan dikira sebagai penipu dan telah melakukan manifulasi atau penipuan. Kan berabe. Boleh jadi famor UIN SGD Bandung dan Fakultas Dakwah & Komunikasi tercoreng. Gara-gara ketidakhati-hatian atau keteledoran pihak Tata Usaha (TU) Fakultas.

Buat saya itu tidak apa-apa, "easy going", gitu. Tinggal minta direvisi pihak Fakultas, asal jangan minta lagi biaya ini-itu. Tapi, kalau menimpa seorang alumni yang mencoba melamar dan diterima, kemudian kapanggih, atau meneruskan ke universitas bonafide -- dalam dan luar negeri -- pasti muncul stigma, betapa acak kadutnya administrasi di UIN Bandung.

Di dalam Al-Qur'an keluar masuk data-data harus dikelola oleh "kaatibun", diantaranya utang-piutang. Begitu pun dalam mengeluarkan ijazah dan transkip nilai. Seorang TU harusnya bisa menjadi "kaatib" (Pencatat) yang amanah dan bersungguh-sungguh. Jangan sampai ada kasus, karena sering ada pungutan biaya ini-itu, mahasiswa jadi meninggalkan ijazahnya. Paling banter diambilnya kala nanti setelah menjadi pejabat saja. Sebab, biasanya pihak universitas-lah yang memberikannya secara sukarela. Tanpa ada pungutan apa-apa. Kecuali pungutan "kepentingan politik" pihak birokrat kampus.

Atuh kumaha dengan nasib ijazah dan transkip nilai saya, pak? Direvisi atuh!

Tapi jangan birokratis ya?

Aha, atau jangan dulu direvisi. Nanti menunggu saya menjadi Calon Gubernur Jawa Barat, tahun 2040 dulu. Eiiit, karena kelamaan, nanti berkas ijazah dan transkip nilainya dijual kepada penampung kertas-kertas bekas, lho. Yang tahun-tahun ini jumlahnya di sekitar wilayah UIN mulai merebak. hehe

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: