17 December 2007

Semangat Berbagi di Bulan Rayagung

BAGIKAN

Oleh SUKRON ABDILAH

DALAM buku teranyarnya, The Road to Allah (2007), Jalaluddin Rakhmat mengatakan, ketika jutaan manusia kelaparan, sejumlah orang kaya melemparkan sisa makanannya ke keranjang sampah. Bahkan, di hotel-hotel yang mewah, miliaran uang dihabiskan untuk menghormati segelintir orang gemuk yang makan kekenyangan. Ini mengindikasikan betapa manusia asyik bergelut dengan dunianya sendiri sehingga mematikan rasa empati ketika berdialektika dengan realitas sosial masyarakat.

Ibadah kurban merupakan gerbang untuk memasuki dunia orang lain yang kekurangan secara material. Hari berkurban, pada umat Islam, boleh jadi pertanda bahwa berbagi dengan yang miskin adalah keluhuran dan keagungan laku. Dalam khazanah kesundaan, bulan ini kita kenal dengan sebutan bulan Rayagung.

Dengan berkurban, kita diajarkan Tuhan untuk tidak terjajah ketidakabadian kekayaan material (zuhud) sehingga hanya Dia yang jadi tujuan akhir (ultimate goal) ketika menggerakkan jasad. Ali Syari’ati, dalam buku Haji (Pustaka, 1983) menggedor kesadaran bahwa pengorbanan Ismail oleh Nabi Ibrahim adalah tanda tidak terjajahnya sang kekasih Allah (khalilullah) oleh sesuatu yang tak abadi, yakni kecintaannya kepada anak semata wayang.

Dalam konteks kekinian, kecintaan baginda Ibrahim pada Ismail bisa dipersamakan dengan kecintaan kita kepada jabatan, harga diri, profesi, uang, rumah, daerah kekuasaan, mobil, gaya hidup, keluarga, kelas sosial, nama besar, dan segala hal yang bisa menghalangi pengabdian kepada Tuhan.

Filosofi "Rayagung"

Dalam tradisi lokal Islam Sunda, bulan untuk memperingati proses penerimaan manusia atas tanggung jawab kemanusiaannya di muka bumi sebagai satu misi ketuhanan adalah bulan Rayagung. Pada bulan ini –mengutip bahasa Ali Syari’ati– dengan berkurban, umat Islam (di tatar Sunda) dituntun agar mengetahui setiap sesuatu yang melemahkan keimanan, merintangi arah perjalanan, mematikan tanggung jawab kolektif, dan meminggirkan rasa empati sosial adalah musuh terbesar.

Syariat Ibrahim (kurban) dalam ajaran Islam, tentu saja berpengaruh terhadap alam pikir masyarakat Sunda dalam menamai bulan Zulhijah (Arab-Islam) dengan nama Rayagung ini. Sebab, pada bulan ini terdapat ritual agung dan luhung yang tak sekadar formalistik, tetapi juga sarat muatan simbolik-substansial yang berdimensi praksis sosial, yakni ibadah kurban.

Dalam konteks kesundaan, pelaksanaan kurban merupakan wujud dari implementasi falsafah hidup nulung ka nu butuh, nalang ka nu susah, sabilulungan, atau bentuk konkret dari prinsip silih asih, silih asah, dan silih asuh, kecerdasan berinteraksi sosial sebagai fenomena budaya lokal yang sesuai dengan ajaran (kurban) Islam.

Banyak sekali warisan lokal masyarakat Sunda yang secara doktrinal tidak bertentangan dengan Islam, malahan menemukan kesesuaian, terutama dalam bidang muamalah. Konsep leuit, umpamanya, sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi Yusuf ketika negerinya diprediksi akan menghadapi musim paceklik. Menyimpan beras di leuit bukan menimbun karena dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum dari bencana kelaparan. Jadi, ketika Ki Sunda memproduksi istilah "Rayagung" dalam menamai bulan Zulhijah, itu merupakan satu bentuk pengagungan.

Di dalam Alquran ada firman, "Janganlah sebagian dari kalian memakan harta sebagian yang lain secara batil dan janganlah kalian mempergunakannya untuk dibenarkan para hakim atas pengetahuanmu. Kalian memakan hak orang lain yang sesungguhnya tidak halal bagimu" (Q. S. Albaqarah: 188).

Ayat ini mengindikasikan bahwa mendahulukan kepentingan pribadi di atas kepentingan umum merupakan keputusan yang tidak berdasar pada kearifan sikap, pikir, dan tingkah laku. Maka, ketika Ki Sunda Muslim menawarkan kata Rayagung, dimaksudkan sebagai ibadah kurban adalah langkah praksis sosial dari ajaran Islam yang "nyunda".

Pergeseran paradigma

Mengorbankan kecintaan pada Ismail bagi Ibrahim bagaikan kemenangan dalam pertempuran dahsyat karena ia telah berhasil memusnahkan pelbagai kepentingan pribadi dan nafsu individualistiknya. Dalam konteks kita di sini, yang dikorbankan berarti aneka kepentingan yang bersifat tribalistik, kesukuan, atau etnosentris guna mewujudkan Jabar yang berkeadilan dan berkeadaban. Bukan Sunda dalam kebiadaban!

Dalam filsafat Timur kita mendengar ucap-kata berisi tuntunan, yakni "Life Is Suffering", hidup adalah hasil dari dialektika manusia dengan penderitaan. Pun demikian realitas kesundaan hari ini, yang mulai diangkat dan dilirik kembali oleh generasi mudanya karena telah jengah dan lelah dengan kekacauan yang diberikan modernitas.

Secara konseptual, kesundaan akan mengalami pergeseran paradigma ketika berdialektika dengan realitas masyarakat Sunda yang hidup di tengah-tengah medan sosial yang kontemporer dan multikultural. Pergeseran itu, kata Andreas Harefa (2002), bisa terjadi dalam dua cara.

Pertama, secara sadar, sukarela, dan proaktif-antisipatif (inside out) untuk menghindari diri dari kebekuan atau kelumpuhan paradigma (paradigm paralysis). Kedua, secara terpaksa atau reaktif (outside in), tanpa disertai kesadaran karena terpicu oleh aksi-aksi dari luar.

Pergeseran paradigma Ki Sunda ketika berdialektika dengan bulan Zulhijah hingga melahirkan sebutan Rayagung diperkirakan dilakukan secara sadar, sukarela, dan proaktif-antisipatif (inside out). Alhasil, lahirlah falsafah hidup yang mikukuh budaya lokal serta minaat ajaran Islam. Salah satunya adalah menunaikan ibadah kurban bagi yang mampu sebagai wujud dari implementasi prinsip hidup sabilulungan, silih tulungan, atau silih pikanyaah.

Lantas, untuk konteks kekinian, apa yang harus kita korbankan sebagai wujud pergeseran paradigma kesundaan dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan?

Yang pasti, jauhi mental korupsi, tindakan kolusi, dan kepentingan-kepentingan sektarian yang nepotis. Dimulai dari bulan Rayagung, bagi yang baru bulan kemarin menyadari bahwa misi kemanusiaan ibadah kurban merupakan pepegon dari Gusti Allah nu murbehing alam. Dia memerintahkan umat manusia untuk berbagi dengan sesama, bukan? ***

Penulis, alumnus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda.

Sumber: Pikiran Rakyat, 12 Desember 2007

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: