30 December 2007

Wajah Maling(Siah!)

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
WAJAH manusia akan semakin menua seiring ruang dan waktu berganti. Urang
Sunda mengenal isitlah “kokoloteun” untuk menyebut penyakit menua yang diderita manusia. Keriput, bercak hitam, ubanan, tubuh ringkih, dan stamina tubuh menurun drastis. Sedikit terkena embusan angin malam, mereka mudah masuk angin, flu,
bersin-bersin, dan panas tiris. Itulah yang akan menimpa manusia kala
umurnya semakin tua.

Lantas, bagaimana dengan tahun Masehi? apakah terkena hukum perubahan? jawabannya, tentu saja tahun masehi akan berubah secara kuantitas. Hari ini misalnya, tepat berada di tanggal tua pada bulan Desember 2007. Kita menyebutnya dengan tanggal tua. Semacam neraka bagi kaum bergaji. Maka, biasanya mereka di tanggal tua ini menghemat anggaran belanja agar segala kebutuhan tercukupi secara pas. Posisinya sama dengan para mahasiswa yang ngekost. Biasanya, di tanggal tua mereka ogah keluar kamar, makan satu kali sehari, paling banter main ke kostan cewek untuk nyari makan tambahan.


Akan tetapi, upaya hemat menghemat itu tidak terjadi di tubuh pemerintahan. Di akhir tahun 2007, biasanya, bermunculan “proyek-proyek siluman” untuk menggenapkan laporan APBD atau APBN. Ah, ini bisa terjadi di negeri kita. Negeri kaya raya yang banyak ngakaya bangsanya sendiri. Kalau boleh mengutip, Pramoedya Ananta Toer, pernah melontarkan kritik sbb: kita adalah bangsa yang menjadi budak bangsa luar — parahnya lagi — budak bagi bangsanya sendiri. Miskin di negeri (yang Kaya) milik sendiri. Ah, dasar nasib!

Ya, memang nasib kadang dijadikan kata keramat untuk mengobati kepediah, kesengsaraan, dan ketertindasan. Memang bangsa kita notabene bersikukuh pada teologi pasif bagaikan batu di dasar sungai Citarum. Tak bergerak. Kalaupun bergerak, giliran para pejabat yang diam seribu kata dan tindak. Malang betul bangsa ini karena punya pejabat kayak gituan. Semalang pemuda yang ditolak cinta. Sedih, kecewa, dan membenci terus-terusan. Maka, kita butuh pemimpin yang tak sekadar tua; tapi ngeusi.

Kata Ki Lanceuk di lembur, orang tua the jangan kolot kalapaeun. Eh, pan bagus etah teh? “ujar saya menimpal”. Alus kumaha? Kalapa oge teu kabeh anu kolot ngeusi. Aya anu koclak oge geuning. tah, kolot kalapaeun anu kitu anu teu pantes mingpin rakyat. Boh bisi ngaluarkeun kabijakan anu koclak. Hehe, aya-aya wae ki lanceuk mah. Tutur saya sambil mengangguk. Sekarang memang ada satu-dua orang dari aparat dan pejabat yang kolot kalapaeun – dalam artian koclak menelurkan kebijakan. Banyak yang ngageum ajian mungpungisme. Mungpung-mungpung jadi orang, segalanya digalaksak.

Dari aras kebudayaan, kita seperti orang yang sedang mengidap penyakit deuleu humaeun. Kerjaannya melamun sehingga kala ada orang luar yang maling produk kebudayaan, kita terperanjat kaget. Bahkan sewot, marah, ngambeuk, sampai meluapkan kata “ganyang”. Relevan sekali dengan kaos malingsia, tapi saya lebih suka dengan kata malingsiah!. Kata siah lebih mengandung tekanan kepada orang Indonesia, khususnya urang Sunda. Berfungsi mengingatkan bahwa ada kebudayaan negeri ini yang sudah dicuri.

Berbeda dengan malingsia. Kata ini hanya memberikan penjelasan bahwa ada kebudayaan kita yang akan dicuri. Jadi, relevan tatkala malingsia saya tambahi dengan huruf “h” di akhirnya menjadi siah! Sehingga berbunyi malingsiah! Mengapa? Agar kita lebih waspada terhadap segala upaya pencurian warisan nenek moyang dan pengakuan budaya asli oleh bangsa luar.

Saatnya, kita berteriak Malingsiah! untuk mengingatkan bahwa ada kebudayaan-kebudayaan asli kita yang telah dibawa pulang ke negara lain. Tanpa berteriak Malingsiah! saudara-saudara kita tak akan bangkit dari aktivitas deuleu humaeun. Setelah sadar dari lamunan, ia baru berteriak kencang: saha anu maling peupeulakan urang!

Begitu juga dengan kebudayaan. Selama ratusan tahun kita mencipta, mengkreasi, dan menghibridasi kebudayaan Indonesia; tak tahunya ada yang mengaku dan mematenkannya menjadi milik negara lain. apes, deh!
Penulis, Pegiat Lingkar Studi Kearifan Lokal Sunda.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: