13 January 2008

"Kaulinan Barudak" Ketika Musim Hujan

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Tanpa baju, sekelompok anak kecil di kampung, berlari-lari sembari gogorowokan berdendang riang: “hujan sing gede karunya ka budak gede” (hujan semoga membesar kasihan pada orang dewasa). Ya, istilahnya adalah “huhujanan”, yang dilakukan barudak ketika musim hujan tiba, karena mereka rindu dengan turunnya air hujan. Biasanya, pada sepetak halaman rumah yang luas, mereka memainkan aneka ragam kaulinan barudak,
menurut kekhasan daerah masing-masing.


Ketika saya kecil, umpamanya, di saat huhujanan kerap memainkan ucing-ucingan, galah porog, ucing bancakan, galah tawan, peperangan dan lain-lain. Nilai-nilai kolektivisme dalam aneka permainan itu sangat terasa indah, hingga membekas sampai sekarang. Namun, anak-anak sekarang jarang terlihat yang huhujanan dan bergembira ria – mereka malah lebih asyik berada di depan televisi, PS, dan permainan anak-anak perkotaan.

Huhujanan merupakan bentuk permainan yang menggunakan gejala alam (air hujan) dan bagaikan sebuah acara ritual mengucap rasa syukur pada sang pencipta (Gusti Nu Ngersakeun). Pada hujan anu mimitian orang tua di tatar Sunda, biasanya, banyak yang menabukan anak-anaknya untuk huhujanan karena ditakutkan akan menyebabkan anak-anak terserang penyakit.

Musim hujan

Inti dari huhujanan – sebagai permainan – adalah untuk meluapkan kerinduan masyarakat atas datangnya air hujan. Sebab, air hujan adalah sesuatu yang dinanti-nanti para petani desa, yang sekian lama sawahnya kekeringan, agar mereka bisa tatanen. Apalagi setelah berbulan-bulan di daerahnya tak kunjung turun hujan. Maka, logis juga kalau kegembiraan barudak leutik akan terlampiaskan dalam wujud “huhujanan”, sebuah aktivitas yang menggambarkan kegembiraan rasa setelah menunggu sekian lama bergantinya usum halodo dengan usum ngijih (musim hujan).

Saking rindunya masyarakat Sunda, ketika musim kemarau yang lalu kerap kali ada di antara mereka yang melakukan ritual memandikan kucing (ngamandian ucing) untuk mengundang datangnya air hujan. Atau, dalam ajaran Islam – para tokoh dan masyarakat – ada yang menunaikan ibadah ketika musim kemarau dengan maksud memohon agar diturunkan air hujan (shalat istisqha). Malahan pada masyarakat modern yang banyak menggunakan teknologi, mereka acapkali menciptakan air hujan buatan. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap orang – dari pelbagai kalangan – pasti merindukan datangnya air hujan di kehidupan.

Tak salah kiranya jika “huhujanan” kita kategorikan sebagai satu dari sekian banyak permainan rakyat (folklore) yang memanfaatkan potensi naturalistik dari gejala alam (air hujan). Dengan huhujanan juga, sebentuk kesadaran perennial untuk membina relasi yang harmonis dengan alam bakal tertanam dan bangkit kembali dari alam bawah sadar urang Sunda.

Tidaklah heran jika di tatar Sunda, ada orang yang ahli dalam bidang perhujanan, yakni tukang nyarang hujan. Maka, pada akhir huhujanan, warga Sunda sering melontarkan senandung: “hujan sing leutik karunya ka budak leutik” (hujan semoga mereda, kasihan pada anak kecil). Nyarek hujan untuk tidak semakin membesar.
Mengapa? Karena air hujan yang turun telah dirasa cukup, hingga anak kecil mesti ngampih ka imah dan bebersih karena takut terserang penyakit balideug, flu, dan panas dingin. Mereka yang huhujanan, dari kesadaran purbanya akan muncul pandangan hidup bahwa gejala alam dapat membahayakan kesehatan dan ketentraman manusia sehingga dapat dijadikan modal untuk mengembangkan kesadaran bahwa urang Sunda tidak boleh menyepelekan alam.

Dalam bahasa lain, mereka mesti membina relasi yang harmonis dengan alam, agar terjalin hubungan yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak pada musim hujan. Kesadaran ekologis yang mestinya dimiliki seluruh warga karena air merupakan elemen terpenting yang tidak boleh dianggap sepele, disia-siakan, bahkan tidak boleh dihambur-hamburkan.

Pamenta (do’a)

Dalam khazanah basa Sunda ada pribahasa yang menarik untuk menggambarkan diijabahnya doa ketika anak-anak yang sedang huhujanan mengucapkan: “hujan sing gede karunya ka budak gede”. Pribahasa Sunda tersebut yaitu kalimat: saciduh metu, saucap nyata (ucap-katanya nyata terjadi). Mengapa? Sebab, anak kecil yang bersih dari noda dan dosa, biasanya, akan diijabah kata-kata ataupun doanya. Jadi, ketika mereka mengucapkan perasaannya pikeun ngagedekeun turunnya air hujan, Tuhan juga serta merta akan mengijabahnya.

Selain itu, ketika anak-anak lalumpatan sembari mendendangkan “hujan sing gede karunya ka budak gede” – meski tidak disadari mereka – adalah bentuk pamenta kepada Tuhan dan kanyaah, misalnya, kepada para petani yang sawahnya tarelaan. Sebab, dari haleuang berdimesi transendental itu terkandung muatan pamenta anak kecil yang bebas dari segala bentuk kepentingan pribadi yang memohon turunnya air hujan semakin membesar agar bermanfaat bagi pertanian.

Dalam aktivitas “huhujanan” juga terkandung nilai-nilai kearifan ekologis yang dapat menanamkan kesadaran manusia Sunda bahwa musim hujan sangat berkait erat dengan dirinya. Apalagi bagi para petani di pelosok desa yang pada musim kemarau sawahnya kekeringan. Dapat dipastikan jika air hujan adalah salah satu isi dari materi yang selalu diselipkan ketika dirinya berdoa kepada Tuhan. Wajar jika “huhujanan” dipraktikkan barudak karena jadi satu-satunya ajang untuk menyambut kedatangan musim hujan yang dinanti-nantikan warga.

Meski tidak menutup kemungkinan bagi warga kota, musim hujan banyak dipandang sebagai pemicu banjir; namun bagi saya dan anak-anak desa, kejadian banjir lebih disebabkan perilaku manusia yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah ekologis. Ah, jika sekarang saya berada di kampung, ketika turun hujan; mungkin akan membuka baju dan berlari sambut kedatangannya sembari engklak-engklakan dan gogorowokan: “hujan sing gede, karunya ka budak gede”.

Namun, jika di daerah yang sering terkena banjir, longsor, gempa dan sebagainya; saya akan bersenandung lirih: “hujan sing leutik, karunya ka budak leutik”. Sebab, bagi warga disekitar hutan, umpamanya, mereka akan berlari-lari karena takut (bukan gembira) terkena longsor dan warga diperkotaan lalumpatan untuk mengungsi karena “inggis ku risi rempan ku sugan”; takut terkena banjir. Maka, tepat kiranya, kalau pejabat pemerintahan belum bisa melestarikan lingkungan – malahan merusaknya – kita berdendang saja bersama kalau sedang huhujanan dan kahujanan: “Hujan sing leutik, karunya ka rakyat leutik”. Wallahua’lam

SUKRON ABDILAH, Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda.
Dimuat Kompas Jawa Barat, Sabtu, 12 Desember 2008 (Lihat Juga di weblog lain)
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: