27 January 2008

Tempe-Tahu, Oh!

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

SECARA pribadi, saya merupakan salah satu dari jutaan rakyat yang menggemari tempe. Meskipun sekarang harga kacang kedelai melambung tinggi, hingga melewati angka seratus persen, warga di pelosok desa hanya bisa pasrah. Mau demonstrasi tak akan mengubah keadaan, begitu pikirnya. Mereka hanya bisa mengurut dada sambil menumplekkan kekesalan dan kekecewaannya dengan cara ngawangkong bersama para tetangga.

Ah, pasti deh kalau sudah naik; susah turunnya. Mereka nu di luhur (maksudnya para pemimpin) teh tara dahar tempe meureun. Puguh tempe teh deungeun sangu anu murah tur memenuhi standar empat sehat lima sempurna. Ieu malah ngimpor kacang ti Amerika. Jadi, harga tahu jeung tempe naek kawas harga BBM wae. Mun tempe-tahu geus naek, rakyat dititah dalahar naon atuh?



Meskipun kalimat di atas tak pernah saya dengar, tapi yakin bahwa keluarga miskin di Indonesia bakal mengiyakan kebenaran wangkongan tersebut. Aneka rasa di jiwa, seperti kecewa, kesal, sedih, atau marah kepada pemerintah pasti nyaliara di kedalaman batin rakyat jelata. Mengapa? Sebab, tempe-tahu yang asalnya murah meriah, sekarang menjadi barang mewah.

Kalau dulu, tempe atau tahu ada di mana-mana, di keluarga miskin desa sampai penguasa terkaya yang menetap di Cendana; sekarang wayahna. Rakyat jelata tak cukup dengan mengandalkan uang seribu rupiah bisa membeli satu potong tempe sebesar telapak tangan. Paling juga membeli Gote (gorengan tempe) atau Gehu (gorengan toge dijero tahu) di pinggir-pinggir jalan yang harganya sudah naik menjadi Rp. 400.

Berbicara tentang kedelai, sebagai negara yang subur-makmur, Indonesia tak pantas rasanya kalau harus mengimpor kacang kedelai, apalagi sampai mencapai 1, 8 juta ton dari luar negeri. Begitu juga kalau kita menelisik akar sejarah kebudayaan bangsa ini. Secara kultural, tempe adalah produk kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat agraris Indonesia. Umur tempe juga sudah hampir ratusan tahun mengakrabi lidah kita.

Tak heran jika Bung Karno menyebut bangsa kita dengan bangsa tempe, mungkin karena kita mau saja dijajah bangsa luar selama ratusan tahun. Seperti tempe yang bisa dikonsumsi oleh pelbagai kalangan. Maka, ketika pemerintah di Indonesia tidak bisa ber-swasembada pangan -- salah satunya ber-swasembada kedelai, sehingga mengakibatkan tahu-tempe harganya naik -- itu merupakan potret para pemimpin kita bermental tempe. mau saja disetir oleh Negara Adidaya Amerika, karena merasa kahutangan budi ku IMF (International Moneter Found).

Dari sisi hermeneutis, gejala kekacaubalauan harga kebutuhan dapur (terutama tempe-tahu) dalam tubuh bangsa, adalah pertanda bangsa ini tidak memenuhi syarat sebagai sebuah keluarga. Mengapa? Sebab, tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga di dalamnya terhadap hak untuk sehat (fisik) dan tentram (psikis), karena rakyat merupakan satu bagian dari bangsa ini, termasuk bagian dari anggota keluarga para pemimpin.

Niels Mulder (2001), seorang Antropolog dari negeri kincir angin, mengatakan bahwa landasan atau dasar kehidupan bangsa Indonesia adalah terletak pada azas "kekeluargaan" ditambah semangat "gotong royong". Menurutnya, dengan kedua prinsip hidup itu, bangsa kita dalam kehidupan harus mementingkan kepentingan-kepentingan bersama bagaikan sebuah keluarga, karena dengan memenuhi kepentingan bersama secara otomatis kepentingan individu akan tergapai.

Namun sebaliknya, tatkala bangsa ini mementingkan kepentingan pribadi, kepentingan bersama boleh jadi tidak akan tercipta. Saya terharu ketika di Pesantren dulu, sang ustadz meriwayatkan bahwa khalifah Islam (Umar bin Khaththab) rela memikul gandum dari gudang negara (semacam bulog) untuk diberikan kepada keluarga miskin yang tidak bisa memberi makan anaknya. Ia tidak mengambil upah dari pekerjaan itu.

Harga kedelai di awal tahun 2007 sebesar 300 dollar AS per ton, dan di akhir 2007 naik menjadi 600 dollar AS per ton. Impor kedelai tahun 2007 saja sekitar 1,3 juta ton dari total kebutuhan 1,9 juta ton. Ini mengakibatkan, harga produk berbahan baku kedelai, seperti tempe, tahu, dan susu, ikut meroket. Nah, ketika kita mengimpor kedelai sebanyak 1, 3 juta ton tahun 2007, umpamanya, apakah pejabat kita mengambil untung sebesar Rp. 100 saja dari impor itu? Coba jika kita kalikan dengan Rp. 100. Anda jumlahkan sendiri, pasti moal beak tujuh turunan. Belum lagi income dari impor beras, jagung, dan banyak lagi. Berapa yang diperoleh para pejabat kita, atau Negara ini. Lantas, apakah rakyat meraih untung darinya? Alih-alih untung, saya kira rakyat malah buntung (nasibnya).

Penulis, Peminat Masalah Sosial-Budaya.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: