12 February 2008

Bahasa (Sarat) Kepentingan di Jabar

BAGIKAN
Oleh : Sukron Abdilah

12-Feb-2008, 00:04:21 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Pemilihan umum, kadang sering dijadikan indikasi telah diakuinya demokrasi di Indonesia. Dari mulai Pilkades, Pilbup, Pilgub, sampai Pilpres; itu dijadikan alat membanggakan diri oleh para elit politik untuk mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang asyik untuk berdemokrasi. Tapi, apa buktinya? Rakyat masih banyak yang miskin, pengangguran mencapai 10,3 juta jiwa (itu yang punya kartu kuning mungkin), pangan sangat mahal untuk diperoleh rakyat, dan sejuta macam pengkhianatan terhadap demokrasi telah terjadi di bumi Indonesia.


Daripada menginvestasikan APBN atau APBD untuk pendidikan atau kemajuan ekonomi rakyat, kita lebih baik menginvestasikannya demi sebuah ritual perebutan kekuasaan. Maka, slogan "Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat" pun itu hanya bahasa yang menggelegar di mulut para calon pemimpin; sedangkan dalam laku, itu nihil besar. Jadi, benar bahwa kaum elit lebih piawai memberikan pidato-pidato yang bergelora, tapi ketika kemiskinan menyerangnya, dia bungkam seribu bahasa.

Misalnya pada Pilgub 2008 di Jabar yang sangat unik untuk dibahas. Ada semacam pemanfaatan kata yang dilakukan para calon. Misal, Danny+Iwan disingkat menjadi Dai, yang sebelumnya sempat memasukkan kalimat “pinilih urang sararea” (calon pemimpin kita semua) Dany-Iwan (Pusdai). Meski secara pribadi saya mempertanyakan kata sararea dalam slogan tersebut, dan sekarang menjadi DAI. Begitu juga dengan Agum+Nu’man, yang kebagian kata “Aman” untuk meninabobokan para pemilih di Jabar. Mengapa? Sebab, siapa dong yang tidak tahu tentang makna aman? Jadi, lagi-lagi pilihan katanya sangat akrab di telinga.

Tak ketinggalan juga dengan Ahmad dan Dede Yusuf, kedua calon yang diusung PKS dan PAN ini lebih lekat lagi memilih slogan kampanyenya. Ya, HADE! yang dalam bahasa Sunda berarti sesuatu yang baik, bagus, hebat, dan hal-hal yang positif. Tapi, saya tidak tahu kalau mereka berdua dapat memperbaiki kondisi warga di Jabar jika saja terpilih nanti.

Nah, tulisan ini tidak selesai sampai di sini saja. Sebab, saya yakin dari para pembaca semua punya pandangan sendiri tentang kata — sebagai satu unsur dari bahasa — yang banyak “diperkosa” oleh kekuasaan. Betul kata si Om K.F. Holle, bahwa: Kata adalah kekuasaan!

Yang pasti sangat sarat dengan kepentingan kelompok. Begitu juga ketika mereka menciptakan slogan yang seolah aman, baik, dan menyebarkan kesejahteraan; tapi pada kenyataannya itu untuk menarik simpati massa.

Menyikapi hal itu, Ibn Ghifarie, mengtakan: solusi untuk meminimalisir ketidaksesuaian kata dengan laku adalah dengan menggalakkan pendidikan politik agar mereka tidak dibobodo (dibohongi), selain itu juga harus ada semacam lembaga pengawasan bagi calon agar kelak mereka dapat bertanggungjawab atas semua janjinya.

Lantas bagaimana dengan kepercayaan rakyat yang mulai merosot (distrust)?

"Ya, tentunya harus ada semacam kontrak politik dengan masyarakat, tapi lembaga pengawas itu harus netral, tidak condong kepada satu pemimpin," ujarnya tegas. ****


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: