5 February 2008

Pesona Doa

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
"Aku diutus ke dunia untuk menyempurnakan Akhlaq baca: kepribadian)", ujar Nabi Muhammad Saw.

Sebelum beliau bersabda seperti itu, sudah jauh hari menjejali diri dengan kemuliaan pribadi. Tak heran jika para tetua kaum Quraisy sempat menggelarinya dengan "Al-Amin". Gelar yang diberikan khusus kepada orang-orang yang memiliki kemuliaan pribadi karena dipercaya. Beliau sangat disukai dan dicintai orang banyak karena rajin memupuk diri dengan doa serta kebaikan-kebaikan laku dan kata. Bahkan, semenjak bangun tidur sampai hendak tidur, Nabi kita semua tidak lupa berdoa terlebih dahulu.

Kejujuran, kecerdasan, kepedulian terhadap sesama, kepercayaan diri dan kebaikan selalu beliau atraksikan dalam hidup keseharian. Maka, dari kepribadiannya terpancar sejuta pesona yang membuat orang di sekitar berdecak kagum. Subhanallah, memang tepat jika Tuhan mengutusnya menjadi seorang penyampai ajaran Islam (rasul) di tengah-tengah masyarakat yang dijibuni pribadi-pribadi tercela (jahiliyah).

Seorang manusia yang semenjak masih muda memancarkan pesona kepribadian meski kerap menerima – dari orang yang sinis – caci-maki. Beliau tak pernah membalas cacian dengan cacian, tapi tetap konsisten menampakkan keramahan, kesopansantunan, dan menghargainya penuh kasih sayang. Mulia bukan?

Mengapa dia bisa demikian? Rahasianya, terhampar pada doa-doa yang sering dilantunkan sehari-semalam, ada di dalam hadits, dan utamanya di dalam kitab suci Al-quran. Dengan berdoa, kepribadian kamu tidak akan menjelma menjadi syetan yang sombong. Kamu akan terus merasa bahwa hidup mesti diserahkan secara penuh kepada sang pencipta alam raya, Allah SWT. Dan, dengan berdoa juga akan memberikan motivasi pada diri untuk terus berbuat kebajikan di dunia. Tak percaya? Coba buktikan, ketika kamu selesai berdoa, perasaan yang tadinya gelisah akan berubah tenang. Bukankah hal itu merupakan tanda bahwa syari'at berdoa bisa mengubah seseorang?

Itulah mengapa Alexis Carrel berpendapat bahwa doa bisa memunculkan kekuatan dari dalam diri untuk mengubah diri sendiri dan masyarakat. Maka, tak heran jika kita pernah membaca atau mendengar kisah Nabi Muhammad yang menggambarkan bahwa beliau sering berdoa tatkala ada perlakuan tak senonoh dari kaum kafir. Tapi, isi doanya tidak jelek. Tentunya, berisi tentang permintaan untuk menyadarkan orang yang telah berlaku kejam kepada beliau.

Latar belakang buku ini saya tulis, karena setiap manusia pasti ingin disukai dan dicintai oleh manusia dan Tuhan. Oleh karena itu, menjejali dengan doa-doa yang bisa membentuk pribadi kita hingga memancarkan pesona adalah sebuah keniscayaan. Sebab, dengan pancaran pesona kepribadian yang indah, kamu akan disukai banyak orang. Bahkan dicintai oleh Allah. Orang seperti inilah yang saya namakan kekasih Allah. Ia akan disukai oleh manusia karena memiliki karakter yang menenangkan jiwa ketika orang lain berinteraksi dengannya. Ia tidak akan pernah mengkhianati, menyakiti, mencaci, dan perilaku-perilaku yang tercela lainnya.




BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: