5 February 2008

Sayangilah Anakmu

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

SAYA merasa terharu ketika dalam perjalanan pulang ke Garut, duduk bersama seorang bapak yang penuh kasih dan sayang menggendong anak berusia satu setengah tahun. Bahkan, ketika anak tersebut menangis keras; dengan penuh perhatian dia pun mencoba untuk melerainya sembari mendendangkan sebuah "nada" lagu dari bibir keringnya. Namun, anak tersayangnya pun masih terus-terusan menangis. Tak lama kemudian, tanpa disengaja ia berdiri dari tempat duduknya. Seketika itu, anaknya pun langsung berhenti menangis.


Coba bayangkan oleh anda, sejauh kiloan meter (Km) bapak tersebut harus rela berdiri karena setiap kali duduk, anaknya akan langsung menangis kuat-kuat. Bayangkan pula ketika bapak tersebut harus menahan kantong berisi peralatan rumah tangga sembari menggendong anaknya demi menyenangkan. Bahkan saking sayang dan cintanya pada anak tersebut, ia (bapak itu) tidak melemparkan begitu saja anaknya ke luar bus meskipun ia terus meronta-ronta.

Hikmah yang dapat diambil dari cerita di atas adalah perlu kiranya bila kita menumbuhkan kasih dan sayang pada anak-anak (buah hati) tanpa pandang bulu. Tanpa memiliki rasa tersebut, kekerasan pada anak pun akan terus-terusan tak terbendung membanjiri kehidupan. Mengapa kita mesti mengasihi dan menyayangi anak-anak? Sebab, anak merupakan titipan dari Allah SWT yang mesti dijaga dengan penuh rasa kelembutan sebagai cermin dari kasih dan sayang.

Kasih dan sayang adalah anugerah terindah yang pasti didambakan setiap manusia. Karena itu, amat berbahagia kiranya bila kasih dan sayang selalu menyertai ke mana pun ia pergi. Begitu juga dengan jiwa seorang anak yang rindu akan perhatian orang tuanya. Ketika dirinya tidak memperoleh perhatian, jiwanya pun dipastikan bakal mengalami kehampaan. Akibatnya, saat dewasa nanti sikap dan tindakan anak tersebut bakal terus menjauh dari nilai-nilai kebaikan (al-ma'ruf).

Apalagi setiap tahun kita sering kali memperingati "hari keluarga nasional" (harganas) sebagai wujud dari kepedulian orang tua terhadap darah dagingnya. Arif rasanya bila sejak saat ini kita merenungi diri. Apakah selama ini kita telah memenuhi kebutuhan anak-anak secara materil, moril, dan mental-spiritual? Jangan-jangan kita telah terjebak pada pemaknaan kasih dan sayang materialistik? Karena, kebanyakan orang akan merasa bangga, cukup dan senang hati ketika buah hati (anak-anak) telah terpenuhi kebutuhan materinya, tapi kebutuhan akan jiwa yang tenteram dan tenang diabaikan.

Patut kiranya bila kita bercermin pada Rasulullah saw, karena beliau satu-satunya figur teladan seorang ayah. Dengan penuh kasih dan sayang, beliau mendidik keempat putrinya dengan sempurna hingga melahirkan generasi yang berkualitas. Misalnya, hasil didikan itu tercermin pada pribadi Fathimah Az-Zahra hingga dijuluki sebagai ibu bagi orang-orang mukmin (ummu al-mukminun) dan ibu bagi orang-orang miskin (ummu al-masaakin). Memang dahsyat, tangan Nabi Muhammad saw. Belum pernah diriwayatkan bila beliau menghardik putrinya, mencaci anak-anaknya, bahkan tidak pernah sama sekali memukul buah hatinya.

Tak heran bila Allah SWT memujinya dalam Alquran: "wa innaka la'alla khuluqin adhim", sesungguhnya dalam pribadi (Muhammad saw) terdapat kemuliaan dan kesempurnaan akhlak. Akhlak yang mulia ketika memperlakukan darah dagingnya, membina hubungan dengan anaknya, dan memiliki rasa bertanggung jawab untuk menjaga titipan Allah SWT (yakni anak-anak).

Berkenaan dengan proses pendidikan anak, dalam salah satu hadis dijelaskan bahwa: "kullu mauludin yuuladu 'ala fitrah" (setiap orang dilahirkan dalam keadaan bersih dan suci). Tapi, lingkunganlah yang menentukan apakah ia akan terus bersih atau malahan menjadi kotor. Karena itu, ayah dan ibu merupakan lingkungan pertama yang menentukan (significant other) bagi perkembangan pribadi anak-anaknya. Maka, dari kisah keteladanan seorang bapak yang berkorban dalam Bus di atas, bijaksana rasanya bila dijabarkan ketika sedang mendidik dan menjaga buah hati. Agar tercipta generasi yang dihiasi dengan sikap dan tindakan lemah lembut, tidak kasar, dan penuh dengan kasih sayang.

Allah SWT berfirman: "Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah menjadikan untukmu berpasang-pasangan supaya kamu cenderung merasa tentram terhadapnya dan dijalin-Nya rasa kasih dan sayang (dalam keluarga)" (Q.S. Al-Ruum: 21). Artinya, kehadiran anak-anak dalam berumah tangga merupakan obat bagi segala keresahan, kegundahan, dan kedukaan jiwa. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita semua menyayangi anak-anak?***


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: