24 February 2008

Sunda Belia dan Kaum Sepuh

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
“Malu dong ah, Belia yang asli Urang Sunda malah nggak pernah memakai bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari. Keun weh, pabaliut jeung basa nu lain. Nu peunting mah, basa Indung urang teh, ulah kapohokeun. Satuju?” (Suplemen Belia, 19/02/2008).

Kalimat di atas, saya kutip dari lembar khusus remaja di H.U. Pikiran Rakyat pekan ini, tepatnya hari Selasa kemarin. Unik, asyik, dan remaja banget rangkaian kalimat tersebut, hingga membikin saya tak perlu mengernyutkan dahi untuk mencari arti dari kamus bahasa Sunda. Maka, sebagai Urang Sunda Asli (USA) saya salut atas sebagian nonoman Sunda kiwari yang masih menyisakan kata-kata yang dicutat dari bahasa Sunda, meskipun percakapannya direumbeuy dengan bahasa Indonesia.
....

Hari Kamis, tanggal 21 Februari 2008 ini, urang Sunda yang masih meminati bahasa Sunda digunakan dalam percakapan sehari-hari, seolah berada pada dua ujung pengharapan. Punah ataukah akan tetap lestari basa Sunda di masa mendatang? Ketinggalan zaman ataukah masih tetap up to date bahasa Sunda dipakai dalam berkomunikasi? Lantas, bagaimana dengan nonoman Sunda kiwari yang telah membuka diri dengan globalisasi? Apakah kita menyetujui mereka mencampur bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia, ataukah menentangnya?

Secara pribadi, saya sependapat dengan apa yang ditulis dalam suplemen belia tersebut, yang demokratis betul menyikapi fenomena berbahasa anak muda Sunda kiwari. Oleh karena itu, ketika menyikapi pertanyaan dalam kalimat yang saya kutip dari koran kebanggaan urang Sunda ini, adalah jawaban SETUJU!

Katanya, sekitar 15-20 juta penutur bahasa Sunda di Jawa Barat. Ini sebuah angka yang pantastis. Mengingat eksistensi bahasa Sunda kian terpinggir, sebagai salah satu dari jutaan bahasa etnis lain yang disinyalir akan segera punah. Maka, United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) PBB, pada tanggal 17 November 1999 menetapkan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

Dan, itu sudah beberapa hari berlalu. Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk melestarikan bahasa Sunda? Kata, beberapa inohong SUnda,dalam mewujudkannya harus menghargai bahasa Sunda yang berada dalam alam pikir remajanya. Biarkan mereka mencampur aduk bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia atau tidak mengindahkan undak usuk basa. Yang terpenting, ada kemauan dan kepercayaan diri dari para nonoman Sunda ketika berkomunikasi dalam bahasa Sunda.

Maka, langkah beberapa media massa dalam menerbitkan bacaan bagi "bahasa pop" remaja SUnda (belia) harus mulai digodok sematang banget. Tentunya, bahasa SUnda akan tetap lestari, meskipun hal itu berwujud dalam bentuk struktur bahasa yang lebih baru. Ketika ada yang menganggap bahasa Sunda itu mati, maka sebetulnya tidak mati. Sebab, bahasa Sunda terlahirk kembali dengan cara memperbarui dirinya sehingga lebih dikenal oleh kalangan belianya. Wallahu'alam

BAGIKAN

Penulis: verified_user

3 komentar:

UWES FATONI said...

Enya kitu basa Sunda moal leungit di alam dunya kucara ngobrol basa sunda pasaran? Ah duka nu penting mah, manfaat weh ngobrol basa sunda jang ngawangkong bari ngadu bako.

UWES FATONI said...

Kron, Padahal mah saena dicentang weh persetujuan komentar, ngarah nu ningali bisa langsung nulis komentarna. Nuhun

Sukron Abdilah said...

sumuhun kang uwes...