30 March 2008

Film "Fitna" yang Provokatif

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH (artikel ini sebagiannya telah di muat H.U.Pikiran Rakyat)

“Kita hanya perlu mengajari pemirsa bagaimana cara “membaca” pesan,
mengkritisi, hingga terbuka peluang untuk meraih era kebebasan intelektual, era
kesadaran kritikal…” -- (Umberto Eco, Tamasya dalam Hiperealitas, 2004).

SUATU keniscayaan bahwa di era keberlimpahan informasi, tentunya memberikan tekanan bagi sebuah komunitas yang mengatasnamakan ideologi, politik, dan agama. Tekanan tersebut bisa berupa caci-maki, penyelewengan makna dalam doktrinasi agama, dan bahkan sampai mendiskreditkan sebuah komunitas dengan menciptakan wacana kekerasan simbolik. Misalnya, kasus pemuatan Film Fitna karya Geert Wilders di situs LiveLeak.com yang berdurasi 17 menit dengan latarbelakang ideologis bahwa Islam merupakan agama yang terkait erat dengan praktik teror-meneror.

Geert Wilders merupakan politikus sayap kanan Belanda yang anti terhadap kitab
Al-quran, bahkan terhadap umat Islam dan kaum imigrasi. Di Parlemen Belanda, ia memegang jabatan sebagai ketua Fraksi Partai Kebebasan (PVV) dan di negeri kincir angin itu ia sangat getol mengkampanyekan pelarangan Al-quran di rumah-rumah dan
Mesjid di seluruh Belanda, sebagai bentuk fhobia yang akut terhadap umat Islam.

Ketika ditanya soal Film Fitna yang mengidentifikasi al-quran sebagai kitab kekerasan itu, ia mengatakan: "Of course not all Muslims are terrorists, but they have a culture and ideology that harms democracy and which is not compatible with democracy". Tentu saja, katanya, semua muslim bukanlah teroris, tetapi mereka (muslim) memiliki kebudayaan dan ideologi yang bisa merusak/menghalangi demokrasi dan tidak bersesuaian dengan wacana demokrasi.

Ia juga mengaku tidak memiliki problem dengan seluruh umat Islam, tapi ada persoalan yang silang-sengkarut dengan tradisi Islam, kebudayaannya, dan ideology yang terkandung didalamnya (I have a problem with Islamic tradition, culture, ideology. Not with Muslim people) begitu ujarnya angkuh. Kemudian, ia juga mengatakan bahwa Islam bukanlah sebuah agama, lebih pantas disebut sebagai suatu ideologi (Islam is not a religion, it's an ideology, tukas Geert Wilders seorang londo pembenci Islam (informasi ini dikutip dari www.liveleak.com).

Secara psikologis, Geert Wilders memiliki ketakutan yang akut akan perkembangan agama Islam di negerinya yang pada tahun 2007 lalu mencapai sekira 1 juta orang dari 16 juta penduduk Belanda. Perlu juga diketahui bahwa ide anti-muslim dan anti-Quran ini telah dikumandangkan Geert Wilders sejak tahun 2007, di mana ia pernah melontarkan ide provokatif tentang larangan terhadap Al-quran seperti halnya buku “Mein Kampf” yang berisi pemikiran-pemikiran dan ideologi pemimpin Nazi, Adolf Hitler.

Agenda tersembunyi

Perkembangan teknologi informasi di setiap belahan dunia mengakibatkan arus informasi datang begitu cepat, dan tentunya akan menciptakan “gambaran dalam benak kita” (picture in our head) tentang sesuatu hal. Misalnya, ketika dalam film bertajuk Fitna itu terdapat potongan-potongan rekaman adegan kekerasan, seperti penghancuran gedung WTC dan adegan tidak manusiawi lainnya, dengan diselingi kutipan ayat-ayat suci Al-quran, akan membentuk lingkungan simbolik (symbolic environment) masyarakat dunia bahwa Islam mengajarkan kekerasan.

Jelas sudah bahwa Geert Wilders sangat membenci ajaran Islam, karena ia meyakini bahwa perilaku teror-meneror dalam film Fitna tersebut diidentifikasikan kepada penganut agama Islam. Jadi, ada semacam agenda tersembunyi, salah satunya memerangi perkembangan Islam di Eropa dengan slogan “Stop Islamisasi Barat”. Untuk menggapai cita-cita tersebut, ia pertama kali berusaha menggandeng stasiun televisi untuk mempublikasikan film Fitna, namun ditolak karena alasan terlalu mendiskreditkan salah satu agama; setelah itu ia pun memperoleh dukungan dari media online, yakni website LiveLeak.com.

Ia menganut logika yang dikategorikan oleh Sigmund Freud sebagai sebuah upaya rasionalisasi, yakni menunjuk pada suatu ajaran agama sebagai biang kerok kemunculan laku teror, sementara itu manusia sebagai si penafsir ajaran tidak terkena penyalahan. Di dalam perspektif cultural studies, jika ditelisik dengan pendekatan strukturalisme, di dalam film Fitna tersebut ada struktur ideologi, berupa term “kekerasan dan teroris” yang dialamatkan kepada agama Islam dan umatnya, serta berusaha dicekokkan kepada umat muslim dan non-muslim dunia.

Tak bisa disangkal lagi kalau proses dialog antar-agama, dengan dipublikasikannya film Fitna yang oleh ahli perfilman dikategorikan sebagai kolase, yakni kumpulan adegan tanpa konteks yang jelas; boleh jadi komunikasi dialogis itu akan semakin sulit dijalin. Maka, bagi bangsa Indonesia yang pernah mengalami pengalaman pahit dijajah Belanda (walanda) dan dihuni umat Islam terbesar; bersikap elegan, legowo, menjauhkan diri dari tindak kekerasan dan bersikap dewasa terhadap film Fitna adalah modal pertama mencitrakan Islam sebagai agama cinta perdamaian.

Caranya dengan mencegah agar umat tidak melakukan aksi-aksi keras atau kasar dan melakukan pencitraan yang baik terhadap ajaran Islam dengan mempraktikkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh tentunya bisa merontokkan serangan provokasi ala Fitna. Mudah-mudahan kita menjadi manusia Indonesia yang bisa menghargai perbedaan dan berusaha merontokkan kekerasan-kekerasan teror dengan cara-cara yang jujur dan berimbang, tidak melakukan cara-cara adu domba (devide et empera), seperti yang dilakukan Geert Wilders.

Dengan demikian, kutipan yang saya ambil dari pandangan Umberto Eco pada pendahuluan tulisan ini, layak kiranya kita praksiskan di bumi Indonesia agar lahir sikap dan perilaku yang mencerminkan kedewasaan bangsa sebagai homo religius dan homo etikos.
Ketika bangsa ini memperoleh informasi dari dunia filmis yang subjektif dan mengandung muatan ideologis tertentu, dapat mencerna informasi itu (tabayun) sehingga dengan kesadaran kritikal, mampu menentukan mana yang batil dan mana yang hak.***

Penulis, Alumni Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, Kader Muda Muhammadiyah Jawa Barat, mantan Ketua Lembaga Pers Ikatan (LPI) PC. IMM Kota Bandung 2005-2006.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: