5 March 2008

Letak Kebijaksanaan Kita

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Kadang kita bisa bersikap bijak tatkala berjumlah sedikit. Namun, kala berada pada posisi mayoritas, kita membalikkan kebijaksanaan menjadi kebijaksinian. Pemahaman atau ideologi yang tak sepenasib dan sepenanggungan dengan apa yang kita anut, diterabas habis sampai akar-karanya. Maka, tak salah jika bangsa Indonesia sebagai bangsa besar, mengecil akibat konflik yang kerap terjadi ketika beradunya dua kepentingan yang berbeda.

....

Dalam pemilihan calon pemimpin di daerah, misalnya, banyak kasus yang mengindikasikan bahwa bangsa ini mulai kembali terjebak pada logika: "Kita" dan "mereka". Barangsiapa yang memilih calon anu, sok pasti dong, ia bakal sejahtera dan mendapatkan keadilan. Lantas, pertanyaannya bagaimana dengan para pemilih lain? Itu baru pada praktik berdemokrasi di Indonesia.

Dalam ranah religiusitas juga, hal itu kerap terjadi. Kita menempatkan komunitas yang kita anut dan diami sebagai komunitas yang tercerahkan dan terberkahi oleh-Nya. Tapi, bagaimana dengan orang yang menetap dalam komunitas lain? apakah mereka masuk surga atau neraka? Saya tidak tahu!

Memang benar, bahwa bangsa kita masih bisa berbijak pada diri sendiri. Belum mampu berbijak kepada orang diluar dirinya. Maka, pantas saja jika Van Peursen mengatakan orang seperti ini baru mampu memiliki kebijaksinian. Ia belum mampu mengoptimalkan kebijakan hidup menjadi sebuah paradigma kehidupan yang mengarah pada bentuk penghargaan dan pengakuan "mereka" di luar dirinya. Ia mengakui bahwa semua manusia adalah "kita" yang secara eksistensial adalah "Kita" yang berbijaksana.

Yang harus mulai dipertanyakan sekarang adalah, sudahkan rasa yang kita asah itu berubah menjadi semacam panduan hidup bagi generasi setelah kita? panduan yang bisa diambil dari kebijaksanaan-kebijaksanaan kalangan agamawan, ilmuan, dan budayawan dalam mengaktualisasikan pemahamannya ketika berdialektika dengan kehidupan yang sedemikian plural dan multikultural.

Indonesia, sebagai sebuah bangunan sosial, yang dipenuhi diversitas kebudayaan, keyakinan, dan pemahaman, bahkan gaya hidup; menjadi mutlak memerlukan orang-orang yang beraura bijak"sana" dan bijak"sini".

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: