21 March 2008

Pikiran Rakyat dan Jabar Multikultural

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

TANGGAL 24 maret adalah hari yang memuat catatan historik bagi harian umum Pikiran Rakyat. Sejak tahun 1966, di awal berdirinya sampai tahun 2008, Koran kebanggaan warga Jawa Barat ini telah “mengabdikan diri” untuk bangsa dan negara. Tidak berlebihan jika media cetak yang berslogan “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” ini memeroleh penghargaan kebudayaan. Namun, dengan kondisi masyarakat Jawa Barat yang multikultural dan plural, setidaknya membuat pihak redaksi dan marketing harus bekerja ekstra untuk menampung ide-gagasan yang dilontarkan kebudayaan selain Sunda.

Sebab, kita tidak bisa memungkiri jika wlayah Jawa Barat tak hanya dihuni oleh satu klan etnik tertentu saja, yakni suku Sunda. Di wilayah ini (Jabar) terdapat pelbagai masyarakat yang berasal dari kebudayaan Cirebon , Indramayu, bahkan mayarakat dari kalangan etnik China . Hal ini ternyata telah dijawab oleh Koran Pikiran Rakyat dengan menghadirkan suplemen Khazanah yang lebih konsisten terhadap konten kebudayaan dan sastra dari pelbagai generasi, baik kalangan tradisional maupun modern. Bahkan tidak terpaku kepada budaya Sunda an sich, melainkan sampai menembus kebudayaan-kebudayaan dan seni yang masih diminati masyarakat Cirebon, Indramayu dan kebudayaan lainnya. Ini mengindikasikan bahwa PR, memang tepat mendapatkan piala penghargaan pada bidang kebudayaan, sebagai media cetak yang cukup konsisten mengangkat seni dan budaya , bukan saja Sunda; tapi produk kebudayaan Pantai Utara juga acapkali ditampilkan.

Pikiran Rakyat sebagai sebuah perusahaan Pers dengan wilayah penggalian berita dan informasi yakni daerah Provinsi Jawa Barat yang secara sosial-budaya dihuni pelbagai keunikan, kemajemukan, dan keberbedaan; memiliki peran sebagai mediator terwujudnya nilai-nilai demokrasi. Hal ini sesuai dengan garis konstitusional dalam pasal 6 UU Pokok Pers No. 40/1999, yang menyatakan Pers harus menjalankan peran sbb: 1). Memenuhi keingintahuan masyarakat, 2). Menegakkan nilai-nilai demokrasi dan hak-hak asasi manusia serta menghormati kemajemukan, 3). Memberikan informasi secara tepat, akurat dan benar, 4). Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran untuk kepentingan publik, dan 5). Memperjuangkan keadilan beserta kesejahteraan.

Mediasi multikulturalisme

Levi-Strauss (Ras dan Sejarah, 1999), seorang antropolog dan filosof, mengatakan bahwa keanekaragaman budaya merupakan keniscayaan dan tidak bisa dinyatakan sebagai primitif atau rendah, bahkan menyebutnya liar. Sebab, kebudayaan itu secara eksistensial memiliki khazanah tersendiri namun ada “kesamaan” antara yang satu dengan yang lainnya. Ini mengindikasikan, etnik tertentu memiliki kebudayaan yang ragam dan majemuk, dan untuk konteks wilayah Jawa Barat tidak bisa dipukul rata bahwa Sunda adalah kebudayaan tinggi, sementara itu kebudayaan non-Sunda rendah sekali.

Secara eksistensial, Sunda tidak lebih baik daripada Jawa. Pun demikian, Jawa juga tidak lebih baik daripada Sunda. Kedua etnis ini dan etnis-etnis yang hidup di West Java lainnya adalah ekspresi dari pengalaman hidup lokal masyarakat di suatu daerah yang diwujudkan menjadi kebudayaan yang berbeda satu sama lain. Ia (tradisi lokal) akan menjadi local wisdom tatkala nilai-nilai, simbol-simbol, ilmu pengetahuan dipresentasikan ke dalam tataran praksis kehidupan secara beragam untuk menyelesaikan pelbagai kerusakan yang diakibatkan laku manifulatif manusia modern.

Misalnya, di dalam tradisi lokal Sunda, mungkin secara geografis karena kehidupannya dekat-akrab dengan hutan, warga adat mengenal hutan belantara (leuweung geuledegan) sebagai daerah yang tidak boleh dieksploitasi. Dan, saya kira untuk warga Jawa Barat yang hidup serta dekat dengan laut di daerah Cirebon , Indramayu, dan daerah Pantura lainnya memiliki local wisdom dalam memperlakukan alam sekitarnya. Masalahnya, ide-gagasan masyarakat lokal itu jarang yang mempublikasikan dan menafsirkannya. Oleh karena itu, tugas jajaran redaksi, wartawan dan penulis lepas di harian umum Pikiran Rakyat adalah menggali warisan kebudayaan itu sehingga bisa dikonsumsi oleh khalayak pembaca. Tujuannya, agar warga di Jabar memiliki kedewasaan sikap ketika menyikapi kemajemukan yang mewujud di lingkungan masyarakat.

Menurut almarhum Kuntowijoyo (2005: 8) ketika kebudayaan kehilangan fungsinya karena tidak didukung lembaga-lembaga sosialnya, akan mengakibatkan terjadi semacam anomali kebudayaan yang berujung pada merebaknya konflik di Jabar. Koran Pikiran Rakyat kalau hendak menempatkan eksistensinya sebagai lembaga mediasi wacana multikulturalisme di Jabar menjadi keniscayaan tak nisbi untuk menggali, melestarikan dan mengenalkan keterserakan selain budaya Sunda kepada warga Jabar yang multikultural dan plural. Setelah masyarakat Jabar mengetahui informasi dan memiliki keluasan wawasan karena membaca Koran PR, kebudayaan pun akan berfungsi sebagai pendukung terciptanya kembali peradaban bangsa yang berlapang dada atas perbedaan ke depan.

Akhirul kalam, kebudayaan lokal ketika diinterpretasi secara kontekstual akan menjadi mediator memulihkann krisis peradaban dan kerusakan ekologis yang diakibatkan manifulasi masyarakat modern – yang banyak mendewakan alur pikir positivistisme an sich. Kearifan lokal (local wisdom) dengan kejamakan atau kemajemukan yang melingkarinya, akan berfungsi sebagaimana mestinya, ketika Koran kebanggaan warga Jawa Barat ini mengangkat khazanah budaya masing-masing daerah secara berimbang. Wilujeng milangkala ah, Koran Pikiran Rakyat.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: