12 April 2008

Cimanuk dan Bahasa Sunda

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Artikel ini telah dimuat di Kompas Biro Jawa Barat, Sabtu, 12 April 2008)

Bahasa mencerminkan pengalaman masyarakat ketika berdialektika dengan lingkungan hidup. Berbeda pengalaman hidup, berbeda juga bahasanya. Tak heran jika ada bahasa yang populer di suatu daerah, tapi ketika hadir di daerah lain ia (bahasa itu) akan terasa asing di dengar. Begitu juga dengan masyarakat di tatar Sunda, yang menurut sebagian ahli, terdiri dari masyarakat Sunda gunung dan Sunda air.

Masyarakat Sunda gunung adalah orang-orang Sunda yang hidup di tengah pegunungan. Sedangkan masyarakat Sunda air, adalah sebuah masyarakat Sunda yang hidup kesehariannya begitu akrab dengan air sungai. Maka, sebagai urang Sunda yang hidup berdekatan dengan sungai Cimanuk, saya memiliki khazanah kekayaan bahasa yang berbeda dengan urang Sunda pegunungan. Saya akan begitu kenal dengan hal-hal yang berbau perairan, susukan, solokan, atau walungan.

Bahkan, saya akan memiliki bahasa yang unik dan beragam sebagai hasil dari pengalaman hidup selama saya berinteraksi dengan walungan (atau Sungai). Istilah-istilah seperti neuger, nguseup, ngaraas, nganyay, ngalun, ucing teuleum, nyeot, dan lain sebagainya sebagai hasil dari pengalaman hidup saya dengan sungai Cimanuk; menambah perbendaharaan kata dalam bahasa Sunda.

Mestinya, kita memerhatikan kebiasaan masyarakat ketika berdialektika dengan lingkungan (baca: pengalaman hidup) sehingga membentuk bahasa di pelbagai daerah menjadi unik, asyik dan beragama. Ketika sebuah istilah-bahasa telah dikenal luas oleh masyarakat yang berbeda, pengayaan wawasan kebahasaan pun akan menjelma menjadi sebuah alat penyeimbang dalam hidup.

Sebab, mereka akan memahami bahwa perbedaan (terutama dalam berbahasa) adalah suatu keniscayaan yang tak pernah nisbi. Alhasil, ketika seseorang ngomong tentang suatu pekara, si pendengar atau yang diajak bicara akan menghargainya. Tidak lantas, melontarkan kata-kata yang menyudutkan dan bahkan sampai menghancurkan rumah kebudayaan orang lain.

Cimanuk dan mitologis

Ketika saya tidak hidup berdampingan dengan sungai Cimanuk, misalnya, tentu saja tak akan mengenal jenis ikan jongjolong, sengal, berod, dan tidak pernah tahu apa itu neuger, ngaraas, ngalun serta nganyay. Bahkan tidak akan tahu makna filosofis dari memantrai jumlah tegeran seperti yang suka dihaleuangkeun oleh kami: seksek, noyek, kademong, kosong.

Ketika jumlah teger (pancingan) jatuh pada mantra seksek berarti tidak akan pernah mendapatkan ikan. Berbeda posisinya jika jatuh pada kata noyek, tentu saja tegeran akan banyak disangut oleh ikan. Namun, ketika jumlah tegeran tepat pada jampe (kata) kademong, berarti kail atau useup akan disangut hanya satu ikan saja. Kosong, tentunya menandakan bahwa tegeran hari itu tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali kacape dan kareuseup. Tetapi, ketika itu kami (anak-anak) memiliki kepuasan tersendiri kendati tidak membawa lauksengal ke rumah.

Keyakinan itu sampai tahun 1990-an masih dipegang anak-anak kecil, tapi sekarang karena ikannya sudah langka akibat pendegradasian oleh pelbagai limbah; kepercayaan turun temurun tersebut pun seakan lekang dimakan usia. Satu hal lagi yang terlewatkan dalam tulisan ini. Bahwa dalam masyarakat Sunda yang hidup dekat air (salah satunya di dekat sungai Cimanuk), bahasa yang berkenaan dengan kehidupan sungai akan begitu kaya menghiasi kosa kata bahasa Sunda.

Umpamanya, istilah Palika. Ia adalah sebuah gelar istilah yang diberikan kepada oran g yang memiliki kecekatan dan kecakapan untuk menyelam selama beberapa menit di dalam air. Tapi, ada istilah yang diberikan masyarakat Sunda sekitar Cimanuk untuk seekor ikan besar, yang agak sama dengan istilah Palika. Ya, ikan tersebut namanya adalah Lika.

Dalam mitologi masyarakat sekitar Cimanuk juga, terutama dalam alam pikir anak-anak kecil, tedapat keyakinan bahwa usia ikan tersebut sangat tua sekali. Sampai-sampai tubuhnya lamokot ku lukut. Mungkin, mitos seperti ini diciptakan masyarakat untuk menakuti anak-anak agar tidak keseringan ngojay di Cimanuk. Ketika mereka belum juga merasa takut, biasanya ditakuti dengan leled samak atau dengan rangkaian bahasa bernada larangan awas nanti ada sandekala.

Bahasa eko-geografis

Pada masyarakat Sunda air yang berada disekitar sungai, acap kali menggunakan bahasa ekologis untuk menamai sebuah perkampungan. Ketika ada kampung yang memiliki nama yang sama, biasanya kami suka menyebut daerah itu dengan girang dan hilir. Misalnya, kampung saya adalah Waruga dua yang sama dengan Waruga satu. Kami suka menyebut kampung Waruga dua dengan Waruga hilir karena berada di hilir sungai Cimanuk. Sedangkan Wa ruga satu diberi nama Waruga girang, karena berada di hulu sungai Cimanuk.

Wah, pasti berbeda dengan daerah-daerah yang berada di pebukitan atau pegunungan untuk menyebutkan kampung yang memiliki kesamaan nama. Ketika berada di daerah pebukitan atau pegunungan, istilah landeuh dan tonggoh mungkin lebih populer dipergunakan masyarakat. Sementara itu, Wetan-Kulon atau Kaler-Kidul mungkin banyak digunakan di daerah bertofografis dataran rendah.

Memang betul bahwa bahasa itu merepresentasikan nilai transenden, tetapi tesis bahwa bahasa sebagai representasi dari realitas eko-geografis juga tidak boleh direpresi ke alam bawah sadar kita. Seperti halnya, kreativitas karuhun Ki Sunda yang mencoba mencipta bahasa dengan bahan baku dari realitas lingkungan sungai (air) yang mengakrabinya selam ia hidup. Alhasil, eksistensi bahasa tepat kiranya jika menjadi wakil dari hal-hal yang transenden dan realitas duniawi. Sebab, kehidupan manusia terdiri dari dua entitas yang berbeda, tapi satu kesatuan. Ya, bahasa Sunda masyarakat pesungaian ternyata ditentukan oleh kondisi eko-geografis, di mana si pembahasa itu hirup dan hurip.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

yoyo budiman dan konservasi said...

Punten pak tuamros dupi lauk lika aya keneh di cimanuk, sapertos kumaha laukna pak ?
salam
yoyobudiman@gmail.com

Sukron Abdilah said...

lauk lika teh duka kmh tah bentukna...saur kolot mah,,,bentukna siga sengal..mirip hiu tapi saageng eneng. warnana sapertos batu...pinuh ku lukut alatan kolot umurna. nya pami nju alit abdi sok rajen disingsieunan maksadna supaya teu lila nguyang di cimanuk. eta panginten da lauk lika tos teu aya panginten.