23 April 2008

Petani "Melek Internet"?

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah

Tahun 2007 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 20 juta jiwa. Bahkan, tahun 2008 ini disinyalir akan semakin bertambah banyak. Saya tertegun ketika membaca berita ini. Negara Indonesia dengan penduduk yang mencapai 250 juta jiwa lebih ternyata menyimpan potensi bagi pasar teknologi informasi dan komunikasi dunia. Dengan 20 juta pengguna internet ini, tak salah jika pihak google.com menyetujui pemblokiran film Fitna untuk seluruh wilayah Indonesia. Mengapa demikian? Sebab mereka jeli membaca pangsa pasar Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Apalagi ke depannya, masyarakat Indonesia secara kultural akan semakin beralih ke dunia maya ketika melakukan interaksi, berkomunikasi, dan bertransaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Peralihan dari masyarakat cetak ke masyarakat digital akan menemukan titik puncaknya empat puluh tahun ke depan. Di tahun itu, uang akan berubah menjadi sesuatu yang tak terlihat. Aktivitas pemasaran akan menggunakan jaringan internet. Dan, media massa pun akan melakukan upaya-upaya konvergensi dengan menghadirkan multi-media kepada khalayak.
....
Namun, tesis di atas serasa bertabrakan dengan realitas sosial ekonomi bangsa ini. Utamanya ketika saya pulang kampung ke daerah Garut. Bagaimana nasib para petani ke depan? Ketika anak-anaknya tak mau menggarap sawah. Mereka malah asyik berselancar di dunia cyber karena telah menjadi seorang manusia cyber. Akankah ada seorang manusia pada masa depan yang sanggup mengelola sawah untuk memenuhi kebutuhan fisikal manusia lain?

Saya terkejut ketika pulang ke kampung, kakak bertanya soal internet. Padahal pendidikannya hanya sampai tingkat menengah pertama (SMP). Ia mengatakan bahwa popularitas internet itu bakal seperti hand pone. Dulu, ketika pertama kali muncul hanya segelintir orang yang memilikinya. Sekarang, tukang ojek atau pengamen jalanan pun memilikinya. Pasti internet juga akan sama posisinya dengan hand pone. Sekarang masih segelintir orang mengakrabi internet, nanti akan akrab di kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hebat juga pantikan idenya. Coba bayangkan kalau setiap petani di desa bisa mengakses internet karena murah. Saya seketika itu juga berpikir pada pagi hari pak petani pergi ke sawah. Siang harinya mereka mengakses internet di rumah. Setelah hari panen tiba, mereka pun memampangnya di weblog. Dan, alamat blog itu dibuka oleh konsumen yang berada di daerah lain. Si petani pada posisi itu menentukan harga sendiri sesuai pengeluaran dan kualitas hasil tatanen. Transaksi pembayaran juga melalui transfer elektronik. Hebat bukan? Ah, gelo maneh mah!

Hal itu akan mewujud jika saja kita menjadi bangsa sejahtera. Nasib petani diperhatikan dan diberi pendidikan agar melek internet. Sehingga mereka mampu menggunakan perangkat komputer yang terakses ke internet secara efektif dan efisien. Fasilitas internet murah masuk desa akan dimanfaatkan untuk kepentingan pemasaran produksi pertanian. Sedangkan sang istri di rumah memproduksi panganan yang diproduksi menggunakan bahan-bahan lokal yang khas. Misalnya, produk ladu yang dibikin dari beras ketan.

Hasil produk home industri itu dipasarkan juga lewat internet. Maka, perempuan desa harus diberi pengetahuan tentang membuat blog memanfaatkan web hosting gratisan. Memang asyik rasanya jika segala karya kreatif masyarakat desa bisa diakses internet. Kemungkinan karya mereka akan dilirik oleh masyarakat melek internet lain sampai ke penjuru daerah. Global village, adalah satu kemungkinan yang akan terjadi di Indonesia ketika kita piawai memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Masalahnya, kapan hal itu terwujud? Mungkin saya termasuk orang gila jika menulis ada petani yang bisa memanfaatkan akses internet untuk menaikkan harkatnya. Tapi, untuk membuktikannya saya akan menjadi petani pertama yang melakukannya. Itu juga kalau punya sawah, internet sudah murah, dan utamanya telah masuk ke pedesaan-pedesaan. Dalam bahasa lain, petani kita ke depan akan menjadi masyarakat "melek internet". Sebuah komunitas yang bisa menggunakan produk kemajuan teknologi dan informasi untuk menaikkan harkat dan martabatnya di dunia maya.

Menunggu empat puluh tahun lagi, ketika saya sudah sepuh dan pesakitan; memang sangat lama. Mungkin juga saya sudah berada di alam baka ketika internet banyak digunakan oleh para petani sebagai masyarakat agraris, yang berpindah menjadi masyarakat cyber.
Penulis, Pemilik blog http://alakpaul.multiply.com,



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: