26 May 2008

Nyanyian Religius Urang Sunda

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Artikel ini dimuat di H.U.Kompas Jawa Barat, Sabtu 24 Mei 2008)

Dalam seni suara, kita pasti pernah mendengar lantunan “pupujian” bertajuk “Anak Adam” di mesjid-mesjid atau di tajug pada masyarakat agraris, sebagai berikut: “Anak Adam urang di dunya ngumbara/umur urang di dunya moal lila//anak adam umur urang teh ngurangan/saban poe saban peuting di kurangan.” Kalimat “pupujian” atau “nadhoman” ini memiliki semangat profetik, yakni betapa tidak hidup itu akan berakhir dan menyadarkan para pemuji dan pendengarnya untuk menunaikan shalat ketika adzan telah dikumandangkan. Ini juga mengindikasikan urang Sunda memiliki semangat egalitarianisme dalam berinteraksi dengan masyarakat lewat cara mengajak Sunda Islam anu Eusleum secara lemah-lembut.

Mengapa “pupujian” dilakukan setelah selesai “ngong” adzan? Sebab, inti hidup yang mesti direfleksikan Muslim Sunda adalah membuat hidupnya lebih berarti dengan beribadah dan mengabdi demi tegaknya nilai-nilai kemanusiaan melalui syair-syair yang mengingatkan kepada kematian. Dengan mengingat kematian, maka diharapkan Ki Sunda dapat menghidupkan kembali sakralitas Tuhan dalam kehidupan dengan tidak melanggar tata-darigama yang sesuai dengan ajaran Agama Islam yang bernilai universal dan bisa ditawar hingga terbeli oleh budaya lokal.

Yang terpenting, saat ini adalah memelihara agar aktivitas “pupujian” jangan dipinggirkan dengan alasan tidak berdasarkan pada sunah Nabi. Sebab, di dalam syair-syair pupujian tersebut kita akan menemukan bahwa kedamaian menyebarkan ajaran Islam tidak harus dilakukan secara keras. Bahkan, ketika saya pulang kampung ke daerah Garut, pun uwa - Ajengan Abbas Ase - memberikan “pupujian” yang menggedor hati, jiwa, rasa, dan jasad saya untuk terus beramal saleh.

Kalau tidak salah, bunyi pupujian itu sbb: “sanes bae yatim teh/nu maot ramana/sanyatana yatim/nu teu berelmu/ teu beramal//sanes kagindingan nu makean badan/saliim..saliim//. Syair dalam versi terjemahan berbahasa Sunda ini, tanpa disertai syair berbahasa Arabnya menyadarkan saya bahwa kemajuan peradaban ditentukan oleh ilmu dan amal. Tentunya, apabila merujuk pada “pupujian” tersebut, selain ilmu dan amal, yang wajib dimiliki oleh muslim Sunda, adalah: kedamaian menebarkan ajaran agama Islam. Itulah yang saya namakan dengan Ki Sunda Islam anu sawawa!

Akulturasi Islam dan Sunda

Islam sebagai satu agama diyakini berasal dari Tuhan, sedangkan budaya lokal (Sunda) berasal dari hasil olah karsa, karya, dan cipta manusia Sunda hasil dari dialektika dengan realitas hidup. Produk kebudayaan urang Sunda itu tidak sepenuhnya hasil murni kreativitas masyarakat Sunda, tapi ada akulturasi ataupun hibridasi dengan kebudayaan yang dibawa orang-orang di luar Sunda. Begitu juga antara Islam dan Sunda. Keduanya akan saling memengaruhi sehingga melahirkan ritual keagamaan dalam bingkai budaya yang me-lokal.

Agama (Islam) di tatar Sunda akan bermetamorfosa ke dalam pelbagai bentuk, sebagai “akibat samping” dari respon, kreasi atau reaksi para penyebar agama Islam dan kekukuhan masyarakat Sunda memegang kebudayaannya ketika berdialektika dalam sebuah ruang-waktu yang temporer. Alhasil, dengan pertemuan antara Islam atau agama lain dengan realitas kultural masyarakat etnik Sunda, lahirlah apa yang diistilahkan dengan kearifan lokal (local wisdom) dalam beragama.

Lantas, pertanyaan yang mesti kita kemukakan pada tulisan ini, adalah: bagaimana posisi ajaran Islam ketika tersebar di wilayah tatar Sunda? Apakah Islam mendapat perlawanan sengit, penolakan halus, ataukah urang Sunda berkorvegensi dengan nilai-nilai Islam dalam merancang bangunan kebudayaannya? Terakhir, apakah nilai-nilai Islam “meng-ada” di tatar Sunda hanyalah untuk menyingkirkan nilai-nilai lokal yang sebetulnya memiliki derajat kebenaran ontologis yang sama dengan nilai-nilai agama yang berkarakter universal, termasuk Islam?

Secara historik, menurut Ayatrohaedi (1986), masuknya Islam ke tanah Sunda diperkirakan pada masa Prabu Siliwangi. Sebelum Sunan Gunung Djati menguasai Banten (1525) dan Sunda Kelapa (1527), boleh dikatakan masyarakat Sunda secara kultural bercirikan keislaman. Menurut Saini KM (1995), bisa diterimanya Islam dengan baik di tatar Sunda karena secara kultural di antara keduanya (Islam dan Sunda) mempunyai persamaan paradigma yang bercirikan platonik.

Maka, tak mengherankan jika Sunda sebagai kebudaayaan, bisa “bermanunggal ria” dengan Islam sebagai satu agama, yang diyakini oleh para penganutnya memiliki kebenaran-kebenaran universal. Bahasa antropologi budayanya adalah akulturasi. Ini bisa dilihat dari seni yang berkembang sampai sekarang dan masih dipraktikkan masyarakat Sunda pedesaan yang berasal dari muslim Sunda tradisional. Misalnya seni arsitektur mesjid yang menyerupai tiga konsep tangga kehidupan umat Sunda berbentuk “nyuncung” sehingga masjid dikenal dengan bale nyuncung. Selain sisi arsitektur, dalam hal sastra terjadi juga akulturasi yang mengagumkan.

Semangat ajengan

Banyak ulama zaman bareto yang menyusun kitab berbahasa Sunda dengan menggunakan aksara pegon ataupun aksara Latin, seperti yang dilakukan kebanyakan oleh ulama dari kaum Islam Sunda tradisional. Ulama atau ajengan itu diantaranya: KH. Ahmad Sanusi, KH Ahmad Maki bin KH Abdullah Mahfud, Rd. Ma’mun Nawawi bin Rd. Anwar, ‘Abdullah bin Nuh, dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan. Naskah kitab berbahasa Sunda dengan menggunakan aksara pegon sebagai proses kreatif masyarakat Muslim Sunda, yang dahulunya mungkin dikategorikan modern, tapi sekarang - karena ada proses Indonesianisasi, Latinisasi dan Englanisasi - huruf pegon merupakan hasil dialektis dua narasi kebudayaan (Sunda dan Arab Islam).

Namun, untuk konteks kekinian tradisi menulis dengan huruf pegon seakan terkubur dan menghilang; kecuali di pesantren-pesantren salaf tradisional masih ada santri yang ngalogat dengan menggunakan aksara pegon. Eksistensi naskah berhuruf pegon ini merupakan warisan dari ijtihad ulama Sunda dahulu yang mesti ditangkap semangatnya. Bahwa antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain harus selalu melakukan tukar-menukar dan saling menghargai. Kolot Sunda baheula telah mampu menjadi seorang manusia yang berijtihad melakukan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal meskipun hal itu berasal dari khazanah agama leluhurnya.

Ingat, bahwa Ki Sunda pun dahulu pernah jatuh hati pada agama Hindu dan Budha. Ketika Muslim Sunda melantunkan nyanyian religius yang berisi kritikan dan penyadaran terhadap eksistensial, itu tanda dari kedamaian laku urang Sunda. Bukankah dalam setiap larik pupujian selalu menyertakan kritikan keras buat manusia, tapi karena menggunakan estetika haleuang, itu menjadi nikmat dirasakan. Oleh karena itu, untuk konteks kekinian di kedalaman jati diri urang Sunda mestinya ditanamkan kearifan laku dalam ngageum Agama Islam, guna menciptakan relasi sosial-keagamaan yang tidak meminggirkan pemahaman keagamaan teurah Ki Sunda yang lainnya.

Ki Sunda hari ini dan masa depan harus mewujud dalam bentuk manusia yang piawai menafsirkan warisan kebudayaannya dan keberagamaannya secara arif dan bijaksana untuk kepentingan Sunda kiwari dan seluruh umat manusia. Itulah sumbangan Sunda buat bangsa, agama, dan Negara. Bahkan, buat dunia. Wallahua’lam

SUKRON ABDILAH
Pemerhati Budaya Sunda, Pegiat Studi Agama
dan Kearifan Lokal Sunda.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

Ia lahir di Garut, 22 Maret 1982. Menempuh pendidikan formal di SDN Waruga, Mts Persatuan Islam No. 19 Garut sampai tingkat Mu'allimin (lulus tahun 2002). Kemudian melanjutkan ke UIN SGD Bandung, jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam (lulus 2007). Sehari-harinya menjalani profesi penulis Lepas di beberapa media cetak dan koran online lokal maupun nasional.

0 komentar: