26 May 2008

Pejabat Antikorupsi

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada keagungan Tuhannya dan
menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya
surgalah tempat tinggalnya” (Q.S. An-Naaziat, 79 :40-41)

Sebut saja namanya Hamzah. Ia adalah salah satu anggota DPRD di daerah Kalimantan Timur periode 1999-2004 yang melaporkan kepada KPK pusat bahwa dirinya telah melakukan korupsi. Tapi, karena ia tidak terbukti melakukannya, permintaan Hamzah tak ditanggapi KPK. Ia melaporkan diri bahwa selama menjabat sebagai anggota DPRD telah menandatangani surat yang merugikan miliaran rupiah. Uang itu digunakan untuk membangun gedung sekretariat.

Dikarenakan ada penyimpangan, maka sebanyak 27 anggota dewan dipanggil oleh KPK untuk dijadikan tersangka kasus korupsi. Pak Hamzah, karena merasa telah melakukan praktik korupsi, ia menuju Bundaran HI hendak berdemonstrasi agar dirinya ditangkap pihak aparat. Ia mengaku, bahwa tindakannya selama menjadi anggota dewan telah mengotori kesuciannya sebagai manusia. Ia merasa gelisah tatkala mempelajari ajaran Islam, karena segala sesuatu yang dilakukan di dunia akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Ia selalu menangis karena telah merusak kehormatan keluarga dan dirinya dihadapan Tuhan. Sehingga memandanga bahwa tidak hanya cukup dengan bertobat kepada Allah saja, karena ia yakin bahwa Allah akan memaafkan dosa hamba-Nya. Namun, kesalahan yang dilakukannya telah merugikan Negara dan rakyat Indonesia . Oleh karena itu, tanpa ada proses pengadilan di depan masyarakat Indonesia , ia merasa sangat bersalah sekali.
Ketika ditanya tentang alasan melakukan korupsi, ia menjawab: “saya merasa telah terlena dengan kekuasaan dan kekayaan. Pada waktu itu, uang yang saya korupsi digunakan untuk kebutuhan keluarga. Saya merasa telah melakukan dosa. Hati nurani saya tidak bisa dibohongi. Saya merasa telah mencintai sesuatu yang tak abadi sehingga berani menggadaikan kehormatan sebagai seorang muslim”.

Kecintaan terhadap harta menyebabkan pak Hamzah gelap hati. Ia melakukan korupsi karena mencintai sesuatu yang bersifat material. Akibatnya, tata-aturan yang digariskan Islam dalam mengemban jabatan secara jujur dilanggar tanpa sadar. Pada posisi demikian, hati nuraninya berubah menjadi dzulmani, karena terhalangi oleh keinginan tak abadi. Istilah dzulmani mengacu pada gelapnya diri dari nilai-nilai kesadaran spiritual. Kesadaran bahwa Allah SWT selalu menyertai kemana pun hamba-Nya pergi dan beraktivitas.

Namun, setelah ia merenungi perbuatannya muncul kesadaran bahwa cinta berlebihan terhadap kekayaan telah membutakan hatinya. Kisah pak Hamzah di atas adalah petanda bahwa manusia pasti tersadar ketika telah melakukan tindakan tercela dan dosa. Bakal ada terbersit di dalam hati bahwa perbuatan itu termasuk dosa besar sehingga muncul kesadaran spiritual.

Yang menyebabkan pak Hamzah melakukan praktik korupsi adalah kecintaannya terhadap harta dan jabatan tanpa batasan sehingga mengalahkan kehadiran Tuhan. Akibatnya, ia terjebak pada praktik cinta-mencintai sesuatu tanpa menggunakan nurani. Definisi nurani mengacu pada kondisi cerahnya hati seseorang karena tersinari cahaya ilahi. Nur adalah cahaya dan aini berarti diri.

Pak Hamzah, karena tersadar atas segala kesalahannya, ia bertobat kepada Allah dan rela menempuh jalur hukum untuk membayar dosa-dosanya. Hebatnya lagi, pak Hamzah melakukan protes terhadap para pejabat yang melakukan praktik korupsi untuk menyadari bahwa hari peradilan akhirat pasti akan datang. Namun, saya kira, buat para koruptor – sang pecinta kesenangan duniawi – hukuman di muka bumi juga pasti akan menimpanya. Maka, dasar dari segala sesuatu adalah mencintai dengan nurani agar praktik mencintai sesuatu hal terjaga kesuciannya.

Oleh karena itu, bagi para pejabat merenungi puisi mbeling yang dibacakan Pak Hamzah di Bundaran HI bertajuk “Wahai Koruptor” adalah keniscayaan tak nisbi. Tujuannya agar muncul kesadaran bahwa praktik korupsi adalah semacam pembusukan politik (political decay) yang dapat merusak agama, bangsa dan Negara. Kau peras negeriku/kau hisap bangsaku/kau bodohi rakyatku/kau injak-injak Indonesia //Dimanakah hati nuranimu/dimanakah nalarmu/dimanakah empatimu/ benarkah jiwa, hati, matamu dan telingamu tertutup//Pintu-pintu kubur akan terbuka/malaikat-malaikat menyapamu/semua tubuhmu akan ditanya/keculasanmu, ketidakjujuranmu harus engkau pertanggungjawabkan//.

Itulah bentuk protes Pak Hamzah dan wujud kesadaran spiritual yang menyadarkannya untuk menginsyafi praktik korupsi yang telah dilakukannya. Kendati ia tidak diproses secara hukum, karena tidak terbukti, namun peristiwa ini mengindikasikan masih bertebaran pejabat korup di Negara kita. Saya salut atas keinsyafan pak Hamzah, karena praktik korupsi adalah pemicu lahirnya ketakstabilan ekonomi dan pemantik bertebarannya konflik.

Meskipun berdasarkan data PERC (Political and Economic Risk Consultancy), posisi Indonesia membaik dibandingkan skor tahun 2007 lalu yang mencapai angka 8,03 dan kini menjadi 7,98; itu tidak menjamin praktik korupsi di Negara kita tumpur ludes. Tetap saja, perlu kerja keras untuk memeranginya, terutama harus dilakukan oleh agama Islam dengan cara menyosialisasikan tafsir antikorupsi. Kemudian, menghunjamkan wacana antikorupsi di tubuh para pejabat Negara sehingga mewujud jadi tindakan nyata. Hal ini, misalnya, telah dilakukan oleh Ary Ginanjar Agustian dalam mewujudkan 2010 bangsa Indonesia berhati emas dengan cara memberikan pelatihan ESQ kepada para pejabat pemerintahan.

Mudah-mudahan, pejabat di Negara kita tersadar bahwa praktik korupsi harus dijauhi dan diperangi, agar tercipta kedamaian dan ketentraman di bumi Indonesia . Sebab, pejabat antikorupsi merupakan para penebar kedamaian di muka bumi. Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Tebarkanlah kedamain (rahmah) kepada semua makhluk bumi, niscaya Dia (Allah) akan senantiasa menebarkan rahmah-Nya kepadamu,” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad). Wallahu’alam


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: