14 June 2008

Glokalisasi Urang Sunda

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah

(Artikel ini dimuat H.U. Kompas Biro Jawa Barat, 14 Juni 2008)

Ketika menjelajahi dunia maya atau internet untuk mencari informasi tentang glokalisasi menggunakan search engine Google sampai pada kalimat: Glocalization (or glocalisation) is a portmanteau of globalization and localization. By definition, the term "glocal' refers to the individual, group, division, unit, organization, and community which and is able to "think globally and act locally". The term has been used to show the human capacity to bridge scales (from local to global) and to help overcome meso-scale, bounded, "little box" thinking (Wikipedia.org).
Terjemahan bebasnya, glokalisasi adalah perlabuhan antara globalisasi dan lokalisasi. Secara bahasa, "glokal" berarti individu, grup, divisi, unit, organisasi, dan komunitas yang mampu berpikir secara global dan bertindak lokal. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan kapasitas manusia dalam menjembatani skala (dari lokal ke global) dan untuk menanggulangi pikiran-pikiran yang meso-skala, keluar batas, dan sempit.
....
Masyarakat lokal yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, menurut penganut teori convergence, telah melakukan glokalisasi. Ya, globalisasi berkonvergensi dengan lokalisasi lewat pemanfaatan teknologi global untuk menghidupkan identitas budaya asli (indigenous culture). Maka, dengan menggunakan media internet, urang Sunda bisa menuangkan pikiran atau pengalaman lokal melalui blog, website, dan mailing list sehingga ikatan lokal menguat dan bisa dilihat serta dirasakan (look and feel).

Medium melestarikan budaya

Urang Sunda yang melek internet merupakan ejawantah dari peribahasa miindung ka waktu mibapa ka zaman. Dengan komputer atau laptop yang terkoneksi ke internet, hal itu bisa kita jadikan alat pengantar pesan (the medium is the message), terutama pesan yang berisi tentang khazanah kebudayaan Sunda. Andai urang Sunda tidak ngigelan dan ngigelkeun perkembangan zaman, jangan heran Sunda bakal termasuk ribuan etnis di dunia yang akan segera punah.

Maka, memanfaatkan teknologi informasi yang diboyong arus globalisasi-salah satunya internet-dalam menginformasikan soal kesundaan merupakan satu usaha guna memelihara kelestarian seni dan budaya Sunda. Oleh karena itu, generasi muda mesti proaktif melakukan penetrasi budaya global (mancanegara) dengan cara meng-upload konten berupa teks, video, dan foto yang berisi kebudayaan lokal masyarakat Sunda di mailing list, blog, dan website.

Apalagi, eksistensi seni dan budaya di Jawa Barat saat ini kian terancam. Menurut informasi, dari delapan cabang seni berjumlah 257 jenis yang terdokumentasikan, sekitar 124 masih berkembang, 100 tidak berkembang, dan 26 jenis kesenian telah punah. Sementara itu, nilai-nilai tradisional yang terdokumentasikan meliputi 145 macam makanan tradisional, 25 permainan rakyat, 12 kampung adat, 20 cerita rakyat, 39 upacara adat, dan sebagainya.

Menjadi keniscayaan bagi kita memanfaatkan perangkat komputer dan internet agar eksistensi seni-budaya Sunda atau budaya lain di Jabar terpelihara. Maka, kita jangan menjadi urang Sunda yang posisinya sama dengan katak dalam tempurung. Ia tidak tahu tentang perkembangan teknologi informasi dan tidak mau menunjukkan kepada orang lain (dengan mengeksiskan Sunda lewat website atau blog) bahwa etnis Sunda itu eksis.

Globalisasi-khususnya di bidang teknologi informasi-tentu saja mesti dimanfaatkan urang Sunda untuk melakukan penetrasi budaya luar. Itulah yang diistilahkan para sosiolog penganut konvergensi dengan glokalisasi, sebagai respons aktif dari segelintir komunitas yang masih memegang nilai-nilai lokal yang merasa bahwa kebudayaannya banyak terpinggirkan oleh kekuatan globalisasi yang cenderung menyeragamkan.

Terputusnya jaringan informasi tentang kesundaan di era virtual mengakibatkan generasi muda Sunda akan pareumeun obor. Namun, dengan internet, budaya Sunda akan ngajowantara ke era tanpa sekat, dan ketika orang Sunda atau non-Sunda di luar negeri mengetik kata "Sunda" di search engine Google umpamanya, peng-upload Sunda telah menyediakan informasi tentang kekayaan budaya Sunda.

Mengakses kesundaan

Dengan internet, tentunya kita bisa menemukan kesatuan antara produksi, reproduksi, dan penyebaran informasi hilir-mudik antara audience dan produsen. Bahkan, yang lebih hebat lagi, selain menjadi consumer, di internet kita bisa menjadi content producer, dan content commentator, dengan audience yang telah ada yakni teman yang berada di jaringan sosial (social networking).

Ketika kita menuliskan isi pikiran tentang kesundaan atau pengalaman hidup urang Sunda serta dipublikasikan di media gratis semacam Blogspot, Wordpress, Multiply, dan yang lainnya, akan ada komentar para pembaca. Setelah itu, akan terjadi diskusi, tukar pikiran, atau sekadar komentar basa-basi berbahasa Sunda.

Globalisasi ternyata telah dihadapi kaum muda Sunda. Misalnya, membuat situs www.urang-sunda.net (website komunitas urang Sunda di internet), www.sundanet.com (portal komunitas Sunda), www.kasundaan.org (menyediakan informasi kesundaan berbahasa Sunda, Indonesia, dan Inggris), www.pasundan.org, www.simpay-wargiurang.com, dan masih banyak blogger yang memublikasikan ide/gagasan kesundaan di Blogspot, Wordpress, Multiply, dan sebagainya.

Pada alamat-alamat itu tersedia berbagai informasi tentang kekayaan seni dan budaya Sunda, yang bisa dijadikan pelepas dahaga kesundaan oleh pengguna (user) layanan internet. Website di atas merupakan gerakan glokalisasi sebagai respons tekanan globalisasi yang cenderung menyeragamkan budaya dalam istilah "desa global". Hadirnya masyarakat Sunda "melek internet" akan membentuk manusia Sunda yang menghargai perbedaan karena di Indoensia atau dunia dipenuhi pluralitas kebudayaan.

Dengan berselancar di internet, kita bisa merengkuh seluruh isi media berupa teks, gambar-gerak, audiovisual, dan realitas virtual dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Namun, jangan lantas kehadiran internet mencipta masyarakat Sunda "melek internet" yang mengamputasi sense of crisis ketika berinteraksi dengan masyarakat, tetapi mesti melakukan relasi praksis ketika berada di tengah-tengah dunia sosial yang nyata.

SUKRON ABDILAH Pemerhati Budaya Sunda



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: