28 June 2008

Ketabahan yang Dahsyat

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat; Aku kabulkan permohonan yang mendoa jika ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 186).

JANSEN H. Sinamo dalam buku bertajuk Dari Pasir Menjadi Mutiara (2005: 15-17) menceritakan kisah penderitaan anak kerang di lautan. Suatu ketika, ia (anak kerang) mendatangi ibunya untuk mengadukan penderitaan yang diderita selama beberapa hari. Rasa sakit tak terkira dirasakan si anak kerang ketika sebutir pasir tajam, terasa mengoyak-oyak tubuhnya. Maka, sang ibu kerang dengan bijaksana memberikan pengertian kepada sang anak kesayangannya.

“Anakku”, ujar sang ibu sembari meneteskan air mata. “Tuhan tidak memberikan kepada kita (bangsa kerang) sebuah tangan pun, sehingga ibu tak bisa menolongmu. Memang sakit sekali anakku. Tapi, terimalah itu semua sebagai takdir alam. Kuatkanlah hatimu, jangan terlalu lincah bermain, dan kerahkan semangatmu untuk melawan rasa sakit tak terperi itu. Terakhir, tegarkan jiwamu, anakku tersayang, seperti ketegaran yang dimiliki para pahlawan. Sekarang, balutlah pasir itu dengan getah dalam perutmu. Hanya itulah yang bisa kita (bangsa kerang) lakukan ketika ada sebutir pasir memasuki tubuh”.
....
Anak kerang itu pun mencoba menuruti nasihat sang ibu. Ada hasilnya. Namun, masih terasa perih-pedih merangsek ke dalam kulit tubuhnya. Kadang, di tengah menahan rasa sakit itu, sang anak meragukan nasihat ibunya. Ia putus asa. Tetapi, hanya itulah satu-satunya jalan untuk mengeluarkan diri dari penderitaan yang memerikan. Ia pun terus bertahan. Dengan bercucuran air mata, ia berusaha tegar, mengokohkan hatinya, dan menguatkan jiwanya selama berbulan-bulan.

Tanpa disadarinya, suatu hari sang anak kerang itu melihat sebutir mutiara telah terbentuk di dalam dagingnya. Makin lama, mutiara tersebut semakin halus dan bulat. Sungguh indah bagi orang yang menyaksikan kejelitaan dan keindahan yang dipancarkan sang anak kerang tersebut. Ia pun seakan terbiasa dengan rasa sakitnya. Ketika masanya tiba, sebutir mutiara besar, indah, bercahaya, dan kokoh terbentuk dalam dagingnya. Si anak kerang, yang dahulu menangis karena menahan rasa sakit, sekarang telah berhasil mengubah sebutir pasir tak berharga menjadi mutiara yang banyak diburu orang-orang kaya. Deritanya selama ini telah berubah menjadi sebentuk mahkota kemuliaan yang membuat setiap manusia mengidam-idamkan.

Begitu juga dengan kehidupan yang dijalani setiap manusia. Maka sebagai manusia beragama (homo religius) tentunya kita mesti menyikapi searif dan sebijaksana mungkin segala hal yang menimpa. Baik itu berupa penderitaan ataupun kegembiraan. Sebab, kehidupan itu bagaikan roda yang berputar, kadang penderitaan berada dihadapan kita, kadang juga kegembiraan yang menghampiri kita. Oleh sebab itu, agar dari kedalaman hati kita lahir kekuatan dan semangat dalam menjalani kehidupan; Gusti Allah Nu MahaSuci merupakan sang pemberi semua itu.

Ketika kita memiliki kekuatan, keikhlasan dan rasa semangat dalam diri, tentunya segala persoalan yang melilit kehidupan kita akan dihadapi arif dan bijaksana. Kita tidak akan pernah mencaci-maki Allah, kehidupan dan takdir-Nya. Itu bisa kita peroleh kalau dalam keseharian, kita rajin berkomunikasi dengan sang Khaliq (baca: berdoa). Berdoa, kalau konsisten dilakukan umat Islam, akan melahirkan perubahan yang dahsyat dalam diri dan memukau mata setiap orang yang memandang.

Seperti yang telah berhasil dilakukan oleh sang anak kerang dalam cerita yang saya kutip dari Jansen H Sinamo di atas. Ia mampu bertahan di tengah-tengah kenestapaan hidup, penderitaan, dan kesakitan yang dideritanya. Hasilnya pun, sungguh teramat pantastis. Ia menjadi satu dari berjuta kerang yang berharga di mata orang, ketika kerang-kerang yang lain cuma disantap di pinggir jalan dan berada dalam gerobak yang bertuliskan: “sedia kerang rebus”.

Ary Ginanjar Agustian mengatakan bahwa dalam diri manusia harus terwujud prinsip hidup yang memandang masa depan (visioner). Ini mengindikasikan kepada kita – sebagai bangsa manusia – agar dapat meraih kemuliaan hidup, mestinya melengkapi diri dengan sebuah pengharapan akan keberhasilan di masa depan (futuristik). Dari sinilah, akan lahir motivasi-motivasi yang dahsyat sehingga memicu dirinya untuk terus bertahan meskipun berjuta penderitaan siap menghajar dan menerjangnya.

Ia berubah menjadi manusia yang kokoh, kukuh, dan keukeuh-peuteukeuh ketika mengharapkan kebenaran dan keridhaan Allah dalam kehidupannya menghampiri. Tipologi manusia tersebut, tentunya terbentuk dengan segala usahanya yang berbekal kekuatan spiritualitas. Salah satu kekuatan yang mesti dimiliki seorang manusia yang menginginkan pencerahan hidup terus menghampirinya, karena Allah yang Mahakuasa terus melindungi dan menaungi jalan hidupnya. Kemana pun ia pergi.

Maka, untuk menciptakan manusia seperti itu, kita memerlukan media untuk menghadirkan sebuah pengikat spiritualitas antara dirinya dengan Allah. Dan, berdoa adalah satu dari pelbagai cara untuk menghadirkan ikatan spiritualitas dalam kehidupan manusia. Sebab, doa merupakan jalan untuk mengantarkan diri kita agar tetap berada dalam jalur yang mengarah pada kasih-sayang Tuhan. Dalam kondisi seperti itu, dari kedalaman hati kita akan muncul ketenangan, ketentraman, dan kekhusyukan dalam menjalani kehidupan.

Kita bakal meyakini bahwa ada satu kekuatan yang akan memberikan kecerdasan tatkala diri ini bergiling-gisik dengan pelbagai persoalan hidup. Hal itu akan lahir ketika dalam keseharian, kita mengumandangkan doa-doa. Maka, berdoalah sebelum akan mengerjakan sesuatu hal, guna menciptakan kekuatan dahsyat dan spiritualitas agung dalam diri sehingga aktivitas pekerjaan kita dipenuhi kebersemangatan yang memukau. Utamanya, dicatat sebagai kebaikan di sisi Allah dan jadi tabungan pahala di akhirat kelak.

Penulis, Kader Muda Muhammadiyah Jawa Barat, Alumni Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung .


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: