20 July 2008

Ada Apa dengan Rutan?

BAGIKAN
By Sukron Abdilah

SIAPA sangka jika menelfon bisa menjadi malapetaka. Siapa sangka pula jika perlakuan istimewa terhadap tahanan yang dititipkan Komisi Penanggulangan Korupsi (KPK) bisa amat mengancam jalannya peradilan di negeri kita. Itulah yang masih hangat terjadi di dunia hukum pidana kita. Kalau hukuman menimpa pengusaha dan jaksa sekelas Artalyta Suryani (Ayin) dan Urip Tri Gunawan (Urip), perlakuan istimewa pun bukanlah sesuatu yang sulit. ....

Berbeda dengan para pencuri kelas teri. Meskipun yang dicurinya adalah sepasang sandal jepit, keadilan ditegakkan aparat penegak hukum dengan motto: tanpa pandang bulu. Hukuman, sebagai tonggak peradilan menjadi barang dagangan yang bisa dibeli segepok uang sehingga penjara berubah nama menjadi rumah tahanan. Bagi maling kelas teri, hukuman dijalani di penjara yang pengap dan sumpek, bahkan dengan makanan yang kurang gizinya.

Akan tetapi, bagi kalangan pencuri berdasi segala fasilitas bisa diperoleh dan bukan penjara lagi namanya, melainkan berubah menjadi: rumah tahanan. Kalaupun di media massa diberitakan mendekap di penjara, saya kira mereka akan mendapatkan perlakukan khusus. Biasa, kelakukan orang-orang berduit itu begitu. Membeli hukum dengan gepokan uang!

Pertanyaannya, ada apa dengan rumah tahanan? Apakah ketidakjujuran sudah mencandui kebiasaan aparat berwenang sehingga pelaku kejahatan bebas memesan kavling-kavling di dalam penjara? Maka, yang berlaku pun adalah prinsip: “terpidana yang diistimewakan” dan “terpidana yang betul-betul dipidana”.Jadi, kalau ingin enak dan nyaman di penjara, kudu jadi pencuri uang gepokan. Baru bisa sejahtera di penjara sana.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: