21 July 2008

Tidak Ada Privileges buat Koruptor

BAGIKAN
Oleh Sukron Abdilah

Peminat Masalah Sosial-Budaya,Kader Muda Muhammadiyah Jawa Barat
(artikel Ini dimuat di SINDO Jawa Barat, 21 Juli 2008)
“Skenario kesaksian palsu yang dirancang Artalyta Suryani dengan jaksa

Urip Tri Gunawan lewat telepon seluler dari penjara merupakan cermin

bobroknya sistem penjara di Indonesia .” (Tajuk SINDO, 19 Juli 2008).


Kalimat di atas memang mewakili realitas dunia ke-penjara-an Indonesia yang tidak lagi menghukum pelaku atau tersangka korupsi setegas-tegasnya. Sehingga, eksistensi penjara bukan lagi sebagai tempat penghukuman. Apalagi kalau menimpa orang-orang berduit atau orang yang memiliki jabatan di sebuah instansi pemerintahan. Penjara, bisa dipesan laiknya menu makanan di sebuah restoran, sesuai dengan ketebalan kantong (baca: duit) yang dimilikinya. Kalau ada pemasukan ke kantong pribadi, agaknya fasilitas yang diberikan akan terasa nyaman.
....

Televisi, kasur empuk, makanan bergizi, dan berbagai kemudahan lainnya menjadi “fasilitas wajib” bagi orang-orang berduit yang melakukan tindak korupsi. Dalam kasus yang melibatkan jaksa Urip dan pengusaha Artalyta, misalnya, penjara atau rumah tahanan bukanlah tempat penghukuman yang menyeramkan, tapi tempat istirahat untuk menghilangkan kepenatan akibat aktivitas berjibun.

Buktinya sangat jelas, akses komunikasi kepada jaksa Urip tidak ditutup, sehingga Artalyta bebas merancang skenario kesaksian palsu, agar terbebas dari jerat pengadilan. Dengan kesaksian palsu juga, proses pengadilan akan terganggu (obstruction of justice) sehingga menyiratkan ada semacam kebusukan terselubung yang masih dipelihara instansi Hukum Indonesia . Kemudahan yang memanjakan dalam rumah tahanan atau penjara, tentunya tidak akan membuat jera pelaku kejahatan. Fungsi rumah tahanan atau penjara dalam hukum positif menjadi tidak berarti apa-apa keberadaannya bagi orang-orang berstatus high class.

Candu kebudayaan

Perlakuan istimewa kepada koruptor ketika berada di rumah tahanan ataupun penjara, telah mencandui sisi kebudayaan sebagian aparat berwajib. Dalam perspektif behaviorisme – kebiasaan memperlakukan istimewa – lahir dikarenakan ada proses pembiasaan terhadap kondisi tertentu. Ini juga akan terjadi dalam dunia hukum pidana, di mana aparat yang jujur dan nasionalis, pertama-tama tidak biasa melakukan praktik suap-menyuap. Akan tetapi, karena situasi dan kondisinya kerap dipenuhi praktik suap-menyuap dan memperlakukan istimewa orang berduit, lama kelamaan kebiasaan lingkungannya itu diinternalisasi dan diaktualisasikan menjadi tradisi “mengistimewakan seseorang”.

Itulah efek samping dari “candu kebudayaan” yang dapat menggusur aparat pemerintahan ke dalam jurang ketidakbertanggunjawaban mengemban tugas pengawasan terpidana. Maka, bisa diprediksi kalau realitas masa depan hukum Indonesia bakal tergerus ke arah ketidakberfungsian, sehingga koruptor menjadi kebal dengan hukum. Hal itu bakal terbukti kalau saja kelonggaran, perlakuan istimewa, dan ketidaktegasan terhadap koruptor masih terjadi.

Akibatnya, dunia hukum adalah sebuah ruangan yang bisa dibeli uang untuk memperoleh keistimewaan perlakuan. Hukuman dalam konteks demikian, diperuntukkan hanya untuk kalangan rakyat papa, pencuri sandal, penjambret kacangan, dan orang-orang yang hanya mencuri barang tak seberapa. Orang tak berduit atau pencuri kelas teri, tentunya akan memahami bahwa penjara adalah tempat yang menyeramkan dan tidak enak-nyaman seperti dirasakan koruptor. Sementara “maling berdasi” akan menganggap rumah tahanan atau penjara sebagai tempat beristirahat belaka karena tersedianya fasilitas sesuai pesanan.

Menghina kerja KPK

Jaksa Urip dan pengusaha Artalyta, statusnya adalah sebagai tahanan titipan Komisi Penanggulangan Korupsi (KPK) karena kepergok telah melakukan kolusi atau penyuapan sebesar 660.000 Dollar AS atau sekitar Rp. 6,1 Miliar. Mereka berdua ditahan agar tidak melakukan tiga hal, yakni: melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mengulangi tindak pidana yang merugikan. Maka, ketika longgarnya sistem penjara atau rumah tahanan (Rutan) menggejala akan membuat mereka bebas melakukan tiga hal di atas, dan merupakan pelecehan atas kinerja KPK dalam memberantas praktik korupsi.

Dalam bahasa lain, KPK dengan niat sucinya ingin memberantas praktik korupsi di tubuh pemerintahan, tidak dihargai oleh oknum di tubuh Polri dan Brimob. Sudah capek-capek mengusut dan menangkapnya, ternyata karena kelemahan sistem penjara di Indonesia , hukuman tidak membuat koruptor jera dan kapok melakukan tindak korupsi dan kolusi kembali. Dengan keistimewaan perlakuan atau privileges terhadap orang-orang berstatus high class (pengusaha dan pejabat) yang melakukan pidana korupsi, hukum akan menjadi ajang permainan yang sarat dengan suap-menyuap.

Oleh sebab itu, sebagai bangsa yang masih berkemelut dengan maling berduit gepokan (koruptor), kita seharusnya mengubah kinerja setiap instansi yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. Kejadian telpon-menelpon antara Jaksa Urip dan Artalyta mengindikasikan tidak adanya koordinasi antara KPK dengan pihak Polri atau Brimob. Meskipun status mereka berdua dalam pengawasan aparat kepolisian, tanpa ada pengawasan dari KPK sebagai lembaga pemberantas korupsi, kelonggaran-kelonggaran akan tetap terjadi ketika ada orang-orang berduit yang terkena hukum pidana.

Mungkin, kalau masih terjadi perlakuan istimewa terhadap orang yang terkena sangsi hukum, pihak KPK harus memiliki rumah tahanan sendiri. Dengan pengawasan langsung dari KPK yang bekerjasama dengan polisi-polisi bernurani dan nasionalis dalam mengelola penjara itu, pihak terpidana tidak akan coba-coba bermain dengan penegak hukum. Para pelaku korupsi juga, semestinya diperlakukan seperti “pencuri rendahan”, yang justru notabene tidak diperlakukan seistimewa raja diraja. Bagi mereka, tidak ada privileges, tidak ada kemudahan mengakses komunikasi, tidak ada keistimewaan yang membuat mereka manja, dan tidak ada kata maaf sebelum menjalani proses hukuman. Agar kapok dan berpikir ribuan kali untuk melakukan korupsi.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

Just For Music said...

mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
www.kumpulblogger.com sekarang wordpress juga bisa bergabung , dulu hanya blogger

InCyberLife said...

iklannya dah saya klik mas,klik iklan diblogku jg yah