28 July 2008

Transformasi Isra Mikraj

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Suatu ketika pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan diprotes murid-muridnya karena sering mengajarkan surat al-Maa’un tanpa beranjak ke surat - surat yang lain. Dengan entengnya KH. Ahmad Dahlan menjawab: apakah kalian sudah memerdekakan anak yatim, fakir miskin, dan oran g-orang yang sedang kesusahan lainnya? Semua muridnya hanya bias menggelengkan kepala. Kemudian, KH. Ahmad Dahlan menyuruh semuanya untuk pergi ke tempat kumuh, pasar, dan jalanan. Ia mengurus muridnya agar mengurus segala keperluan sekolah, pakaian, dan makanan dari anak-anak yatim (fakir miskin) yang terbengkalai.

Almarhum mendirikan Muhammadiyah bukan atas nafsu kepentingan pribadi, tetapi berlandaskan semangat transformatif agar masyarakat dapat terbebas dari kungkungan kemiskinan. Beliau juga berinisiatif mendirikan organisasi ini untuk membumikan dan menyelaraskan ajaran langit dengan realitas di bumi. Itu semua dilakukan hanya untuk kepentingan umat yang waktu itu tengah dijadikan objek dehumanisasi bangsa asing (Belanda). ....


Kesadaran transformatif


Kemiskinan, pengangguran, sulitnya mengakses pendidikan, dan soal konflik di tubuh umat adalah impitan yang bisa membunuh eksisnya doktrin keagamaan. Dalam bahasa lain, doktrin keagamaan yang seharusnya mampu menjawab tanta ngan zaman menjadi tak berkutik ketika setiap penganutnya tidak memiliki kesadaran transformatif. Ia (doktrin ajaran Islam) tak arif rasanya jika hanya mengurusi soal kelangitan, sementara itu soal kebumian dilupakan sehingga memicu lahirnya dehumanisasi.

Kemiskinan, umpamanya, tanpa campur tangan setiap organisasi keagamaan ketika memberantasnya, akan mengakibatkan matinya kesadaran ilahiyah dalam diri seseorang. Oleh karenanya, ketika umat Islam memasuki peringatan Isra Mikraj menjadi mutlak untuk menghidupkan kesadaran transformatif setiap organisasi Islam, yang untuk konteks kekinian kian tergusur ke arah politik praktis. Bukan tidak boleh bergelut di dunia politik praktis. Namun, tanpa ada kerja-kerja kemanusiaan, fungsi keagamaan – dalam hal ini berislam – menjadi sia-sia, bahkan boleh jadi setiap organisasi Islam akan terkategori sebagai pendusta agama.

Muhammad Iqbal pernah berkata bahwa seandainya Nabi Muhammad seorang mistikus, ia tidak akan kembali lagi ke bumi ketika sudah melakukan mikraj. Nabi Muhammad kembali ke bumi karena perlu melakukan upaya transformasi sosial- kemasyarakatan untuk mengubah jalannya sejarah. Bisa dibayangkan kalau seorang mistikus atau sufi yang melakukan mikraj ke langit untuk bertemu dengan-Nya, boleh jadi ia tidak akan kembali lagi ke bumi karena sudah merasa tentram berada di samping-Nya.

Hal di atas tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW karena ia punya kesadaran transformasi untuk menyelarasakan pesan-pesan kelangitan (wahyu, al-Quran) yang telah disampaikan kepadanya dengan kondisi umat manusia di muka bumi. Maka, logis jika sang Nabi SAW kembali lagi ke bumi setelah dirinya melakukan perjalanan ke langit untuk menghadap Tuhan dan berada di samping-Nya. Dalam bahasa lain, ada semacam keinginan untuk membumikan pesan-pesan kelangitan atau wahyu ilahi di muka bumi sehingga anomali doktrin Islam tidak lantas terjadi dalam dunia keseharian umat di masa setelahnya.

Tiga misi transformasi sosial

Dalam konteks kekinian karut marut kondisi bangsa dijibuni aneka praktik dehumanisasi struktural seperti kemiskinan yang terus mendera bangsa ini. Kuntowijoyo, memasukkan upaya transformatif Nabi Muhammad Saw – setelah melakukan Mikraj ke langit – menjadi tiga misi utama profetik. Di antaranya: misi humanisasi, liberasi, dan transendesi yang diambil dari ayat al-Quran sebagai rujukan paradigma pengilmuan Islam, yakni surat Al-Imran (3), ayat: 10 sebagai berikut: Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran (salah satunya penindasan), dan beriman kepada Allah.

Humanisasi dalam misi transformasi social lebih menitikberatkan pada upaya-upaya memanusiawikan umat manusia. Atau, melakukan usaha praksis pemberdayaan masyarakat (community development) dengan pelbagai pelatihan praksis di bidang sosial ekonomi. Liberasi dalam kontek pemikiran Kuntowijoyo adalah upaya pembebasan masyarakat dari kungkungan struktural yang memiskinkan. Mengadakan pendidikan kritis kepada masyarakat atas penindasan struktural adalah salah satu jalan liberasi yang di usung Kunto. Terakhir, transendensi adalah memberikan acuan nilai atas seluruh kerja praksis kemanusiaan atas nama Tuhan. Nah, inilah yang disebut kontekstualisasi keberfungsian kembali doktrin langit di aras kebumian, sehingga agama tidak menjadi candu dan mematikan daya kreasi umat manusia.

Dari ketiga misi transformasi sosial profetik di atas, alangkah bijaknya jika umat Islam tidak gampang curiga ketika ada agama lain yang memberikan bantuan materi kepada saudaranya. Tidak usa h juga sewot ketika keberbedaan pemahaman di dalam tubuh bangsa ini terus menemukan bentuk yang ragam dan unik. Yang lebih penting dilakukan untuk konteks kekinian adalah tidak mengasingkan diri dari karut-marutnya realitas sosial dengan cara terbang ke langit tanpa pernah membumikan ajaran-ajaran ketuhanan.

Itulah sebetulnya yang ingin dilawan Nabi Muhammad Saw, dengan kembali lagi ke bumi. Ia kembali untuk melakukan humanisasi, liberasi dan transendensi sebagai usaha pembumian pesan-pesan langit. Bukankah kita sudah tahu bahwa souvenir langit yang dibawa Nabi Muhammad SAW, yakni ibadah shalat, akan sia-sia seandainya tidak memiliki rasa kepedulian untuk sekadar menolong ketika disekitarnya bertebaran warga miskin. Bahkan, boleh jadi orang yang asyik mengaktifkan nilai-nilai kelangitan tanpa ada upaya pembumian; adalah “muslim pasif” yang amat membahayakan.

SUKRON ABDILAH

Pemerhati masalah keagamaan,

Kader Muda Muhammadiyah Jawa Barat.


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: