1 August 2008

Beasiswa dari Koran

BAGIKAN
By Sukron Abdilah

Sejak tahun 2005, saya mendapatkan beasiswa dari koran. Bukan atas dasar pengajuan surat keterangan prestasi dan tak mampu seperti mahasiswa yang lain. Hanya dengan modal pikiran, rental komputer, dan biaya ke warnet saya bisa memeroleh beasiswa. Ya lumayan hasilnya buat beli buku, sedikit-sedikit nraktir teman, dan biaya kosan per bulan. Biasanya dalam satu bulan saya rajin menulis di koran PR, Kompas, dan bikin semacam buku "tak serius" buat remaja di DAR!Mizan.

Jujur saja, saya merasa tertolong dengan pekerjaan menulis ini. Sebab, dengan honorarium yang diperoleh -- meskipun tak lebih dari satu juta per bulan -- saya tidak menyusahkan orang lain. Tak perlu minta-minta makan, nginep di Mesjid, dan utamanya nggak banting tulang nyari kerja sampingan di perusahaan. Bahkan selama kuliah di UIN Bandung, saya tidak pernah mengajukan beasiswa kepada perusahaan-perusahaan seperti dilakukan kawan yang lain. Malas ah!
....
Jadi, dengan menulis minimalnya seorang mahasiswa bisa memperoleh kepuasan finansial -- meskipun tak gede-gede amat. Dengan menulis juga otak kritis kita akan terasah. Utamanya, bisa mengeksiskan peran kemahasiswaan kita -- yang diistilahkan oleh pak Haji Budhiana (Wapemred PR) -- sebagai cikal bakal seorang intelektual publik.

Itulah alasan mengapa saya terus menulis untuk koran. Ada kepuasan tersendiri ketika nama saya terpampang di media. Meskipun, kadang-kadang saya suka tidak percaya diri juga dengan tulisan tersebut. Tapi, saya tetap memegang teguh pepatah Guru saya yang satunya lagi, Kang Rahim Asyik, bahwa menulis itu nggak boleh dilakukan terburu-buru. Harus ada semacam pengendapan jangan-jangan ada yang salah dengan gagasan kita.

Saya jadi berpikir, seandainya tak pernah menulis ke Koran, tentunya sekarang sedang pusing dan bingung. Dikarenakan tuntutan bagi seorang sarjana yang telah lulus kuliah harus bekerja. Maka, ketika ada yang bertanya kepada saya, bisa langsung dijawab: penulis, kadang-kadang juga editor. Beres deh!

Itulah beasiswa tak terkira dari media massa cetak (koran, tabloid dan majalah)yang pernah memuat tulisan saya. Hatur nuhun buat Koran PR, Kompas Jabar, Medikom, Galamedia, Tabloid Al-Hikmah, Majalah Madina,Majalah Suara Muhammadiyah dan Seputar Indonesia. Media Cetak itulah yang mencetak saya menjadi seorang manusia merdeka, yang tak takut atas masa depan. Sebab, masa depan bukan untuk ditakuti dan dijauhi, tapi untuk diajak bersetebuh hingga menghasilkan karya cipta buat bangsa.

Kalau berminat menjadi seorang manusia yang bebas mencipta karya, silahkan klik blog yang diasuh H. Budhiana (Wapemred PR) di (http://menulisituasyik.blogspot.com) atau bisa mengklik blog besutan wartawan Kompas (http://pepihnugraha.blogspot.com. Dua alamat blog ini membahas seputar dunia kepenulisan dari landasan filosofis sampai ke hal-hal praktis yang menjadi pertimbangan redaktur memuat artikel.

Lihat juga tulisan saya di alakpaul.multiply.com
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: