4 August 2008

Bersiap-siap untuk Gagal!

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

DUNIA demokrasi adalah dunia yang mesti dibekali dengan kelapangdadaan calon pemimpin. Kalah dan menang adalah hal biasa. Jika ada seorang calon Walikota dan wakil Walikota yang kalah suara, itu juga soal biasa. Tapi, akan jadi tak biasa ketika yang kalah masih tetap merasa dirinya memenangi “hajat demokrasi” pilwalkot.
Manusia demokratis, ketika tidak memenangi pemilihan akan legowo menerima kekalahan.

Kekalahan dalam setiap pemilihan presiden, anggota legislatif, dan kepala daerah bukan tujuan tim sukses di dunia kepolitikan. Kemenangan adalah tujuan pertama dan utama. Tak heran jika tim sukses pada Pilwalkot Bandung 2008 kali ini harus memutar otak untuk menggolkan jagoannya memenangi pemilihan. Pamflet, leafleat, poster, stiker, dan spanduk dibuat untuk memasarkan gambar calon Walikota dan wakilnya di tengah kerumunan massa. ....

Tak sampai disitu. Popularitas seseorang juga acapkali dimanfaatkan untuk mendongkrak suara. Itulah marketing kepolitikan yang dipraktikkan di kota Bandung. Kota – ratunya Jawa Barat – yang akan melangsungkan akad demokrasi (baca: pemilihan) pada tanggal 10 Agustus nanti. Hidup menurut saya, adalah kumpulan kemungkinan yang terjadi tanpa terduga. Tuhan memberikan hati nurani agar manusia sadar bahwa apa yang diprediksinya tak seratus persen absah.

Maka, kelegowoan atau berlapang dada bisa jadi obat penenang bagi calon pemimpin yang gagal. Ketika manusia tidak sadar ada berjumput kemungkinan yang bakal menimpa, ia menjadi manusia rapuh. Ketidakpercayaan diri, ketidakpuasan atas hasil, dan kemarahan akan terus menghinggapi hati. Akibatnya, ia menjadi manusia yang merasa dirinya sempurna dan tak bercacat sehingga tak pantas gagal.

Kegagalan adalah hal biasa. Yang tak biasa itu, ketidakpuasan atas gagalnya calon pemimpin memenangi hajat demokrasi pada tanggal 10 nanti. Parahnya lagi, akan di luar ketidakbiasaan – kalau kekalahan atau kegagalan – disikapi secara arogan. Akibatnya menjadi “racun politik” bagi masyarakat kota Bandung. Racun yang bisa membunuh harapan warga untuk hidup lebih baik dan sejahtera. Kekalahan atau kegagalan bukan lantas mengakibatkan calon di Pilwalkot mengabsenkan diri memajukan kota ini.

Jadi, bagi tiga pasang calon pemimpin 2008-2013 bersiap-siaplah untuk kalah dan gagal menjadi orang nomor satu di kota Bandung. Itulah manusia demokratis namanya!
Penulis, Mantan Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Bandung.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: