20 September 2008

Merengkuh Kekuatan Pembebas Puasa

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

“Sebab diwajibkannya puasa adalah agar manusia merasakan kelaparan dan kehausan. Agar mereka mengetahui kerendahan, kehinaan dan kemiskinan dirinya. Juga mengetahui beratnya kehidupan akhirat, sehingga mampu meninggalkan pelbagai dosa dan maksiat”. (Imam Ali bin Musa Al-Ridha)

Islam – meminjam bahasa Dawam Rahardjo – merupakan kekuatan pembebas, baik dari kebodohan maupun perbudakan, karena itu Islam yang membebaskan dan emansipatoris bukanlah pengertian yang abstrak. Namun, Islam sebagai kekuatan pembebas dan emansipatoris kini telah menjadi abstrak. Buktinya, perhatian umat masih terpusat kepada Tuhan, sementara sisi horizontal terlupakan.


Parahnya, berhala kekuasaan dan harta merajalela, karena dengan mendewakan kekuasaan dan harta itulah, sisi kepedulian atas kesedihan, keperihan dan kesengsaraan rakyat miskin cerai berai. Gejala seperti ini akan melahirkan manusia-manusia yang memakan harta warisan secara rakus, tidak bertanggung jawab terhadap soal kemiskinan, dan tidak mau menyantuni rakyat miskin walaupun sekadar memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari (M Dawam Rahardjo, Paradigma Al-Quran, 2004).

Kehilangan terbesar seorang manusia adalah tidak bisa melepaskan dari penjajahan nafsu-keserakahan, hingga mengakibatkan menyeruaknya pelbagai bentuk laku amoral. Realitas sosial bangsa-negara kini membutuhkan peran agama yang membebaskan rakyat dari penjajahan dan kemiskinan. Sebab, perilaku kapitalistik, yakni menumpuk-numpuk harta dengan cara mencekik nafas kesejahteraan rakyat merupakan bentuk perilaku kongkret dari "mendustakan agama".

Itulah mengapa puasa pada bulan Ramadhan ini wajib diwajibkan kepada umat manusia. Tujuannya agar mampu memerangi praktik “mendustakan agama” yang coba disampaikan dalam surat al-maa’un. Islam dalam surat al-maaun harus mewujud jadi sebuah kekuatan pembebasan (liberating force) bagi umat manusia dari segala bentuk penindasan dan ketertindasan dengan melakukan kerja kemanusiaan. Dan, puasa adalah ritual personal yang bisa dijadikan medium untuk menggenjot kita menjadi manusia yang mengempati sosialitas sehingga ada dorongan untuk bekerja demi kemanusiaan.

Implikasi religiusitas

Dengan puasa sebulan penuh, sisi kemanusiaan kita sebagai implikasi religiusitas akan menampakkan geliat yang membebaskan manusia dari determinasi berhala-berhala yang menjajah (thagut). Berhala tersebut bisa mewujud dalam aneka macam bentuk. Bisa berupa apa saja; harta dan tahta kekuasaan yang merembeti seluruh aras kehidupan seperti: politik, ekonomi, budaya serta institusi-institusi sosial kemasyarakatan. Puasa adalah ritual yang dapat membebaskan manusia dari berhala-berhala keduniawian semacam itu.

Politikus mesti eling untuk tetap konsisten merealisasikan janji-janjinya, pejabat tak seharusnya mengumbar nafsu-keserakahan membuat data-data fiktif untuk memuluskan laporan tahunan, dan masyarakat kaya juga tak semestinya mengeksploitasi warga miskin dengan cara menimbun kebutuhan pokok. Apabila mereka tidak bisa melepaskan diri dari jerat-jerat nafsu – yang pada bulan Ramadhan mesti dikalahkan – puasanya hanyalah amalan kosong dari penghargaan Tuhan. Misi pembebasan puasa yang coba ditawarkan Tuhan adalah melakukan kerja kemanusiaan untuk kemajuan negeri ini. Kitab suci al-Quran juga, yang diturunkan pada bulan Ramadhan mestinya mampu bergerak ke dalam dan keluar agar memiliki fungsi kemanusiaan yang membebaskan.

Bukankah al-Quran adalah kitab petunjuk umat manusia (hudan li al-nas)? Maka, seandainya puasa tidak berefek samping bagi kepekaan kita ketika berinteraksi dengan realitas masyarakat yang karut-marut, berarti petunjuk itu dihilangkan oleh kita. Dan, hal ini merupakan wujud dari penentangan kita terhadap ajaran-Nya. Dan, kecacatan puasa seperti itu hanya bisa diobati dengan menjalankan misi pembebasan yang diamanahkan Tuhan kepada kita. White Head juga pernah berujar bahwa agama seseorang bisa berimplikasi terhadap motivasi kesehariannya, termasuk menanamkan keinginan untuk membebaskan warga miskin dari derita ekonomi yang menggurita.

Pesan moral

Kalau seseorang puasanya cacat, atau puasanya batal, atau melakukan hal-hal yg dilarang – dalam ketentuan fiqih – maka kifarat-nya adalah menjalankan pesan moral puasa. Misalnya, pada bulan Ramadhan, sepasang suami istri bercampur pada siang hari, kifarat-nya ialah memberi makan 60 orang miskin. Orang yang tidak sanggup berpuasa, di dalam Al-Quran, diharuskan mengeluarkan fidyah buat orang miskin. Memperhatikan orang-orang lapar dan menyantuni fakir miskin adalah pesan moral puasa dan ciri khas kebumian Islam.

Nilai-nilai kemanusiaan sebagai ciri kebumian ajaran langit, jika tak diaktualisasikan ke tataran praksis, Agama akan terseret arus kepentingan sesaat. Relasi sosial bakal dijibuni sekat-sekat kepentingan yang mengenyampingkan eksistensi wong cilik sebagai tanda menggejalanya dehumanisasi. Tak salah jika Socrates pernah berujar, hidup yang tak terperiksa tidak layak untuk diteruskan. Maka, salah satu jalan untuk memeriksa diri dan menghidupkan rasa kemanusiaan adalah dengan berpuasa, karena ibadah ini bisa dikategorikan sebagai personal religiousity dan social religiousity.

Artinya, kesalehan individual yang mampu berefek samping terhadap pola interaksi sosial seorang manusia. Dengan berlapar-lapar, haus dan menahan hasrat-nafsu, kita bisa belajar untuk mengempati orang lain dan menahan diri untuk tidak berlaku jahat dan korup. Kita juga bakal menyadari bahwa hidup di dunia profan sangat memerlukan kehadiran orang lain. Ini artinya, sebagai seorang manusia, mesti mempertanyakan apa dan bagaimana fungsi di dunia profan ini.

Lantas, sudahkan puasa kita mengantarkan diri menyadari fungsi kemanusiaan di dunia? Karena, tak bisa kita sangkal ajaran Tuhan diturunkan ke dunia. Bukan ke akhirat sana. Jadi, seharusnya keberagamaan kita mesti menampakkan tanggung jawab sosial sebagai ejawantah misi kemanusiaan puasa. Manusia, selalu punya keterangan yang jelas tentang dirinya dan menunjukkan kesalinghubungan melalui cara hidup di ruang sosial berhiaskan empati pada sesama.

Puasa ternyata mampu menempa diri setiap umat Islam untuk mengempati segala penderitaan rakyat miskin, sebagai misi kemanusiaan yang selama 11 bulan menghilang dari jiwa. Dan, betul kiranya jika puasa dikatakan sebagai salah satu ritual personal dan sosial yang berfungsi menemukan sisi kemanusiaan yang hilang dari diri. Kalau kita mau menjadi sebenar-benarnya manusia, puasa yang sungguh-sungguh adalah satu jalan menggapainya. Selamat berpuasa!!!


BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: