12 November 2008

Haruskah Menggagas "Biokrasi"?

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Kita tahu bahwa kesejahteraan ekonomi dari hasil pemanfaatan hutan yang diperoleh warga bukan untuk hari ini saja. Melainkan untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan generasi mendatang (sustainable). Hal ini akan terrealisasi jika saja kita sudi menengok kembali kondisi hutan dan lingkungan hidup lainnya dalam mengeluarkan setiap kebijakan. Ya, kebijakan dari pemerintahan yang sensitif lingkungan tentunya.



Menurut Eef Saefullah Fatah (2007), kegagalan demokrasi berdamai dengan lingkungan telah menyadarkan tentang pentingnya menimbang lingkungan hidup dalam kerja demokrasi. Ia (demokrasi) dituntut membangun sistem politik sensitif lingkungan, keaktifan partai politik untuk mengusung isu lingkungan sebagai platform utamanya, dan anggaran belanja negara atau daerah (APBN dan APBD) pun harus menimbang aspek pengelolaan lingkungan. Maka, para pejabat publik dan politisi juga dituntut memiliki sensitivitas lingkungan yang layak (green politicians) agar keberlangsungan alam dapat dipertahankan. Inilah apa yang disebut oleh para pengamat politik dengan model pemerintahan "biokrasi".

Sebetulnya kita juga bisa meneladani kebijakan yang pernah dilontarkan oleh Nabi Muhammad Saw ketika umat Islam akan pergi berperang, di mana beliau selalu memeringatkan kaum muslim untuk tidak menghancurkan dan merusak pepohonan, bangunan rumah dan segala hal yang berkaitan dengan penyangga keseimbangan alam. Ini mengindikasikan bahwa secara historik, 1400 tahun lebih yang lalu kita telah diberi petunjuk (term of reference) untuk selalu memperlakukan alam sebagaimana kita berhubungan dengan sesama manusia lain.

Maka, model pemerintahan demokrasi yang mendesak diwujudkan saat ini adalah yang menempatkan eksistensi lingkungan hidup sebagai bahan dasar dari peramuan kebijakan. Mengapa? Sebab, kekayaan ekologis di negeri ini merupakan titipan dari anak cucu kita dan mestinya dipelihara agar kelak mereka dapat bersenyum ria pada kehidupan. Untuk mewujudkan generasi makmur dan sentosa juga, bijaksana rasanya jika semangat untuk berharmoni dengan alam mulai pada bulan ini kita tancapkan dalam diri.

Alhasil, konstruksi ideologis kebijakan pembangunan akan berpijak pada paradigma agama, kearifan masyarakat lokal dan perhatian penuh terhadap kelangsungan alam. Oleh karena itu, mari kita hunjamkan dalam diri bahwa saat inilah moment tepat untuk memelihara hutan karena merupakan tugas mulia dari Allah SWT yang mesti dijabarkan dalam hidup keseharian. Dengan memeliharanya agar tidak tumpur-ludes, kita tentunya sedang menunaikan perintah suci dari sang pencipta alam raya ini, Allah SWT.

Jadi, sebagai seorang muslim tak selayaknya melakukan perusakan terhadap alam, sebab ia (alam) merupakan penopang kehidupan kita. Hutan, air, hewan dan tumbuhan adalah sesuatu yang diciptakan-Nya di muka bumi untuk kita kelola dan manfaatkan sebaik-baiknya. Mujiyono Abdillah (2001) menafsrikan Surat Al Jaatsiyah ayat 13 sebagai berikut; "Dan Allah telah menjadikan sumber daya alam dan lingkungan sebagai daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Yang demikian hanya ditangkap oleh orang-orang yang memiliki daya nalar memadai." Pertanyaannya, sudahkah kita menangkap pesan al-Quran yang memerintahkan umat manusia untuk menjaga keseimbangan alam sekitar? Wallahua'lam

Penulis, Kader Muda Muhammadiyah, Bergiat di Tepas Institute Bandung.



BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: