17 November 2008

Jangan Pilih Caleg Kadaluwarsa!

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

Seperti halnya makanan. Dalam dunia kepolitikan juga akan berlaku apa yang diistilahkan dengan kadaluwarsa. Ketika makanan sudah lama melebihi batas waktu, akan mengakibatkan makanan itu menjadi basi dan berpenyakitan.
Pun demikian dalam atsmosfer pemilu 2009 nanti. Banyak anggota legislatif yang kembali mencalonkan diri meskipun selama menjadi anggota dewan tak memberikan kontribusi bagi kesejahteraan rakyat. Alih-alih mengangkat harkat dan martabat rakyat. Mereka banyak yang memanfaatkan jabatan untuk mempertebal kantong pribadi dan kelompoknya.



Malahan, di Kota Bandung, wakil rakyatnya malahan melancong ke luar negeri dan ke Bali di tengah kenestapaan wong cilik. Bukankah mental demikian sudah kadung menjadi anutan dalam praksis kepolitikan para politisi kita? Jurus aji mumpung seakan merupakan jurus pamungkas ketika akhir masa jabatan segera tiba masanya.
Dalam hatinya mereka berbisik: mumpung sebentar lagi akan turun jabatan, mending habiskan dulu sisa uang anggaran buat pelesiran dan berwisata ke luar negeri atau Bali. Perilaku politisi seperti itu menandakan bahwa ada sebagian caleg yang dicalonkan kembali yang telah kadaluwarsa.

Artinya, sepak terjang mereka di dunia kepolitikan telah basi, bahkan kadaluwarsa dan tidak harus dipilih kembali. Posisinya sama ketika kita disuguhi obat atau makanan kecil yang sudah kadaluwatsa. Kewajiban kita yang mengetahuinya adalah melarangnya untuk meminum atau memakannya. Seandainya kita membiarkan politisi kadaluwarsa terpilih kembali di pemilu 2009 niscaya keutuhan dan kesejateraan bangsa ini tidak akan bertahan lama. Dan, hal itu merupakan dosa politik.

Betul juga dengan apa yang dikatakan Abdul Munir Mulkhan dalam artikel bertajuk: “Virus Pop di Panggung Pemilu” (SINDO, 23/08/08), bahwa partai politik di Pemilu 2009 – sebagai ayah kandung politisi – banyak yang terjebak pada anutan budaya pop.
Misalnya, caleg dari partai politik di Indonesia pada pemilu 2009 banyak yang mengajukan artis untuk mengisi kursi kekuasaan di senayan. Yang lebih dipertimbangkan dalam pengajuan caleg untuk menjadi wakil rakyat adalah soal popularitas artis yang bisa mendulang suara di pemilu 2009 nanti.

Kualitas moral dan idealisme seorang caleg dijadikan syarat nomor kesekian. Itulah yang akan membahayakn Negara ini. Ketika mementingkan popularitas, bangsa pun akan terperangkap pada lubang keterpurukan. Jadi, jangan pilih caleg kadaluwarsa! Calon anggota legislatif yang sudah tidak peduli lagi terhadap rakyat.

BAGIKAN

Penulis: verified_user

2 komentar:

Anonymous said...

рисованные аниме большие сиськи
секс первая кровь видео
заняться сексом сейчас
секс груповуха
йоханнесбург секс
девочки любят трахаться
скачать бесплатное порно малолеток
бесплатные порно ролики без смс
секс лечит
большие порно рассказы

Anonymous said...

This rather valuable opinion