18 November 2008

Kemana Perginya Pepohonan

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH

GEMERCIK air hujan membasahi sekujur tubuh yang sedang kusandarkan pada pohon "nangka" yang daunnya kering berguguran akibat kemarau panjang. Lalu kupandangi sekeliling alam yang dipenuhi pepohonan, rerumputan dan dedaunan yang tak seindah dulu lagi. Tak terasa terbersit ungkapan dari dasar hati yang terdalam, "manusia keenakan, sementara kamu kesakitan, wahai alamku".



Katanya mereka beragama, tapi kenapa aktusnya tak mencerminkan kemaha pengasihan "al-Rabb al-alamin", Tuhan pemelihara alam semesta raya? katanya mereka orang yang memegang teguh budaya ketimuran, toh kenapa masih ada saja aktus yang merusak tubuhmu, wahai alam? Mungkinkah kita memerlukan pembaharuan (baca: reformasi) pemikiran bangsa dengan berwawaskan lingkungan? Dengan tersenyum lebar, engkau pun seolah mengiyakan pertanyaanku.

Terhentak sudah diriku ketika kuperhatikan kondisi wajahmu yang tak seperti sepuluh tahun kebelakang. Bahkan ketika kupandangi tubuhmu, maka semuanya menampakkan carut-marutnya keadaanmu, wahai alam. Sepuluh tahun kebelakang, ketika aku pulang dari sekolah, tubuhmu yang tinggi serta dedaunanmu yang rindang seakan melindungiku dari derasnya guyuran air hujan.

Malahan tatkala ibuku memerlukanmu, maka aku terus-menerus mencari sebongkah tanganmu yang kering untuk menyalakan perapian. Sekarang pun engkau telah menyelamatkan hidup warga di kampungku dari "himpitan" mahalnya BBM. Ketika aku dan para warga ingin menyeduh kopi hangat, menanak nasi dan menghilangkan rasa dingin di tubuh, tangan-tanganmulah yang menghidupkan kobaran api. Sedemikian berperannya dirimu, hingga aku pun lebih mencintaimu seperti halnya aku mencintai hidup ini.

Kakiku berlari kearah pohon "jati" yang daunnya seakan lekang oleh panasnya terik matahari pada musim kemarau yang berkepanjangan. Tentunya sembari ku lirik pohon "mahoni" yang berjejer kuat menjulang ke angkasa raya. Ah...ternyata pikiran itu mulai lagi memenuhi isi kepalaku. Akankah kondisimu kembali pada ruang dan waktu sepuluh tahun kebelakang? Seraya tersipu malu dan sedih, engkau pun menggelengkan kepala.

Sementara itu, kawanku Hendi yang sedang berteduh di bawah pohon "nangka" yang lain sambil memakan buahnya, menyeringai dan berujar, "wah sekarang ini susah banget nyari pohon buat berteduh, Ron?". Aku hanya bisa mengiyakan pertanyaannya yang terasa amat bodoh untuk diungkapkan. Sebab, aku yakin bahwa pohon-pohon pun tak membutuhkan omong kosong yang "kering" dari nilai-nilai praksis. Ungkapan yang hanya mempertanyakan kondisi alam tanpa menciptakan perubahan adalah kepicikan.

Sama seperti para "anggota legislatif" yang kerjaannya berwacana tanpa mengindahkan dunia nyata, lho. Aku saksikan orang yang kesakitan karena bencana yang telah engkau timpakan kepada kami. Tapi, bukan berarti aku menyalahkan kemurkaan yang engkau tampakkan di wilayah Tuhan ini. Melainkan hanya menggugat pemahaman semua orang yang sudah tak peduli lagi dengan kondisi pepohonan di alam raya.

Aku sudah muak dengan illegal loging (baca: penebangan liar) dan pembangunan tak berkaidah yang sering dilegalisir dengan sebuah konstitusi. Bahkan lebih muak lagi ketika aku menyaksikan sejumlah LSM yang telah tergadaikan oleh "segepok" uang "kadeudeuh", hingga rela mengorbankan alam di sekitar.

Aku pun mulai berkata pada temanku, "Hen, mungkin kita memerlukan seorang Tarzan kota?". Mengapa? Karena ketika setiap orang di zaman ini tidak lagi mengindahkan alam, maka Tarzan pun akan beraksi kembali memperjuangkan kebebasan alam yang dahulu kala di junjung tinggi.

Kamu tahu nggak kalau nenek moyang kita menciptakan sistem kepercayaan "animisme" untuk mencegah perusakan hutan?. Pada hari kemarin aku baca buku Sigmund Freud, judulnya Totem and Tabo. Beliau menganggap bahwa orang yang punya sistem kepercayaan "animisme" masuk kategori manusia primitf, lho?. Tapi, aku nggak setuju dengannya,
Hen, karena pada saat alam sudah tidak lagi di urus, maka sistem kepercayaan itu harus mulai kita gembor-gemborkan. Biar setiap orang tidak berani lagi menebangi rimbunnya pepohonan, bahkan pohon "nangka" ini juga tidak akan ditebang.

Seraya mengamini pernyataanku, ia pun berkata, "seandainya semua orang menganggap bahwa pohon memiliki jiwa, tentu saja orang bakal segan ketika mau menebangi pepohonan".

Betul juga katamu, tapi kalau melihat ajaran agama Islam, aku lebih yakin lagi bahwa Tuhan (Allah) menciptakan alam, hanya untuk dipelihara. Bukan untuk dieksploitasi, bahkan untuk dihancurkan seperti yang banyak dilakukan para pengusaha taman wisata sekarang. Pernyataan ini muncul bukan berarti aku seorang manusia yang "kolot" sehingga tidak boleh memajukan sektor pariwisata. Melainkan hanya untuk menggugah jiwa para pengusaha agar membangun kawasan hutan dan pegunungan dengan berwawasan lingkungan.

Aku akan lebih gembira lagi bila para ulama memberikan fatwa "haram" bagi orang yang melakukan praktek penebangan pohon secara liar, biar mereka takut disiksa Allah. Bukankah Dia berfirman’ “wa la tufsidu fi al-ardh”, janganlah kamu sekalian membuat kerusakan di muka bumi?

Harapanku, para pemikir (ahli agama) mampu menciptakan sistem teologi yang membahas hubungan manusia dengan alam sekitar secara serius. Sehingga perusakan dan pencemaran lingkungan di bumi Indonesia bisa terminimalisir. Amiin
Bila saja kita membiarkan lingkungan tak ramah lagi, aku jamin hidupku pun bakal terancam laiknya berjalan di sebrang sarang serigala. Bahkan tak sampai disitu, kondisi geografis pun bakal bergetar ketika resapan air tak mampu ditampung pepohonan karena kemalasan dan ketidakpedulian mengurus panorama alam sekitar.

Akhirnya bencana alam datang laiknya ritual rutin tahunan.
Jangan biarkan terulang kembali hutan longsor di Kadungora pada dua tahun yang lalu, banjir di Jawa Tengah, Jakarta dan Aceh yang mengakibatkan warga tak berdosa menjadi korban. Bahkan sekali lagi, jangan biarkan kondisi pepohonan kita gundul seperti halnya di hutan Kalimantan sana .

Aku masih yakin bahwa Tuhan menimpakan bencana dikarenakan ulah tangan manusia sendiri. Tanpa menyadari peran serta manusia dalam membenahi kondisi lingkungan menuju perbaikan, tak bisa disangkal lagi bahwa bencana pun akan bertubi-tubi menimpa warga tak berdosa.

Sekarang kita membutuhkan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) semacam WALHI, Green Peace, bahkan pecinta kelestarian alam lainnya di bumi pertiwi ini. Kalau boleh memberi penghargaan, secara simbolik mereka aku kasih gelar "Tarzan Kota". Karena perjuangan mulianya dalam menjaga kelestarian alam mirip dengan pribadi "Tarzan" yang hidup dalam wilayah modernitas (baca: kota ) tetapi berwawasan lingkungan.

Alhasil, kita tidak akan pernah lagi berlari-lari menghindari guyuran air hujan. Karena dulu juga ketika kita pulang sekolah, pas hujan turun, bisa berteduh di bawah pohon "nangka". Tapi sekarang ini, ketika mencari pepohonan untuk berteduh saja terasa seperti mencari minyak tanah. Saking susahnya, lho.
Semoga alamku sembuh dan lestari kembali. ***

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: