22 November 2008

Mengarifi Musim Hujan?

BAGIKAN
Oleh SUKRON ABDILAH
(Artikel ini dimuat Kompas Jabar, Senin, 24 November 2008)

Saat musim hujan tiba, biasanya menyisakan secercah kesadaran purba bahwa menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan adalah kemutlakan yang tidak dapat diganggu gugat. Sebab, realitas di lapangan menuntut setiap orang memikirkan laku lampah yang selama musim kemarau apatis terhadap kondisi alam yang kian rusak, akibat eksploitasi manusia yang mengagungkan peradaban material dan antroposentris. Tidaklah heran ketika musim hujan tiba, ragam bencana alam mewujud dalam ragam bentuk yang mengkhawatirkan, bahkan membuat bulu kuduk merinding.



Longsor, banjir, gempa dan bertebarannya penyakit mengancam ketenangan dan ketentraman hidup manusia. Pada posisi ini, kesadaran ekologis di setiap batin umat manusia saat musim hujan adalah kenisbian yang tidak mutlak dalam misi kemanusiaan. Tanpa hunjaman kesadaran ekologis, bahwa lingkungan hidup perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan; musim hujan bakal berubah menjadi hari-hari yang dijibuni keberbagaian musibah alam (natural disaster).

Berkah atau musibah?

Musim hujan di bulan ini dan pada bulan selanjutnya bakal menyisakan berkah di satu sisi dan musibah di sisi lain. Berkah tak terkira bagi para petani karena dapat memulai aktivitas bercocok tanam, dan menjadi musibah bagi mereka yang terkena banjir dan longsor akibat rusaknya vegetasi alam. Bahkan, penyakit demam berdarah, diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga mengindikasikan hubungan kita dengan alam tidak berjalan mulus. Maka, air hujan dalam pandangan petani desa dan warga kota akan berbeda laiknya dua sisi mata uang koin.

Dengan dua gejala paradok itu, arif rasanya jika kita menyikapi turunnya air hujan sebagai anugerah Tuhan untuk kemudian mempersiapkan diri berjaga-jaga agar ciptaan-Nya (baca: air hujan) tidak lantas menjadi musibah. Cara sederhananya, bagi warga kota, adalah dengan membersihkan saluran air, selokan, dan tempat pembuangan sampah dari serakan sampah yang dapat menghalangi laju air hujan. Atau bagi pemerintah, semestinya memperbaiki kondisi jalan yang "bolong-bolong" agar genangan air (cileuncang) tidak jadi pemandangan sehari-hari di sepanjang ruas jalan raya.

Sebab, ketika musim hujan tiba, persediaan air bakal berlebihan dan tak heran jika di wilayah perkotaan banyak terjadi banjir. Hal ini logis terjadi karena secara topografis, kota (dayeuh) banyak dikelilingi gedung dan lantai yang berstruktur beton, sehingga air hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah. Atau, bisa juga disebabkan saluran air (drainase), selokan dan sungai di daerah perkotaan sedemikian dijejali sampah hingga berujung pada banjirnya daerah hilir di sekitar kota.

Pun demikian, eksistensi air hujan dalam kehidupan petani desa menjadi berkah, tidak menjadi musibah. Sebab, dengan memasuki musim hujan, seorang petani akan merasa terbebaskan dari beban penderitaan kekurangan air, sehingga sawahnya tidak kering lagi. Maka, mereka pun akan dipenuhi aneka perasaan yang memantulkan kegembiraan karena bisa memulai kembali aktivitas mencari bekal hidup dengan bercocok tanam, nyawah, bertani atau tatanen.

Menurut catatan, sekitar 30 persen lebih penduduk di tatar Sunda menjalani profesi sebagai petani, entah itu sebagai buruh tani atau juga petani mandiri. Yang jelas, daerah yang kerap dijuluki sentra produksi pangan/padi ini ketika musim hujan tiba, hari-harinya bakal dijibuni ragam kosakata tentang pesawahan. Maka, air hujan dalam pandangan petani menjadi berkah karena mereka dapat mengelola kembali sawahnya yang telah berbulan-bulan tidak tergarap.

Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi kedatangan musim hujan (usum ngijih) sehinggga menjadi berkah, bukan musibah? Sebab, kita juga mafhum, ketika bulan-bulan ke belakang tidak turun hujan, aktivitas hidup serasa tidak enak berasa. Misalnya, tubuh terasa panas dengan cuaca yang ngaheab atau gagal panen (baca: puso) bagi para petani di pedesaan. Jadi, saya pikir, kita perlu mengarifi musim hujan dengan kembali menengok perlakuan masyarakat lokal terhadap ekosistem lingkungannya.

"Pakasaban" dan kearifan lokal

Kearifan masyarakat desa, khususnya para petani, terhadap alam sekitar tercermin dari cara mereka mengelola pesawahan atau perkebunan. Aktivitas pengelolaan itu dalam bahasa Sunda dikenal dengan sebutan "pakasaban". Istilah "pakasaban" adalah salah satu tanda, para petani sangat menjunjung tinggi semangat mempertahankan hidup. Sebab, kata "kasab" yang dibubuhi imbuhan "pa" dan "an", artinya sama dengan pekerjaan yang dilakoni manusia, selain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik, juga untuk pemenuhan aspek psikis dan spiritual di kehidupannya.

Tidaklah heran jika di daerah Kanekes, Banten; aktivitas bertani (tatanen) adalah pekerjaan yang mulia dan bernilai ibadah karena diturunkan Sanghyang Nu Ngersakeun kepada orang yang di daerahnya terhampar sawah dan kebun. Di dalam ajaran Islam juga terdapat perintah untuk mencari penghasilan dan pendapatan (pakasaban) agar kebutuhan hidupnya terpenuhi meskipun dengan ngala suluh (mencari kayu bakar) di pegunungan. Ini mengindikasikan bahwa dalam sistem sosial-kemasyarakatan petani, "pakasaban" adalah sebuah kewajiban umat manusia agar dirinya dapat survive mempertahankan diri.

Dikarenakan sektor pertanian di Jabar adalah profesi "primadona", maka hal itu banyak menyisakan kearifan mengelola lahan yang diberikan Tuhan. Sebab, kalau saja alam (sawah dan kebun) tidak dipelihara (dipupusti), mereka tidak akan memperoleh manfaat, sehingga kehidupannya bakal terancam. Kearifan pengelolaan itu, misalnya nyacar, nyebor, macul, ngawaluku, ngabibit, tandur, ngarambet, dan sebagainya. Semua kosakata tadi adalah daur ulang kehidupan yang harus dilakukan ketika memperlakukan areal sawah sebagai bentuk pemeliharaan secara teratur, agar menumbuhkan tanaman yang subur dan bermanfaat bagi mereka.

Itulah kearifan ekologis petani dengan mengelola alam pemberian Tuhan secara teratur. Alam, untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil tatanen, tidak boleh dirusak dan dihancurkan untuk kepentingan pribadi. Maka, setiap warga mesti melakukan aktivitasnya masing-masing kendati musim hujan; apalagi bagi petani, musim ini harus menjadi waktu tepat menikahkan padi dengan bumi (tatanen). Sebab, hujan dalam perspektif manusia arif adalah juru selamat kehidupan, yang diturunkan Tuhan Sanghyang Widi! Itulah bentuk syukur tertinggi kita. Wallahua'lam

BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: