22 December 2008

Ibu adalah Guruku

BAGIKAN
(Baca juga artikel ini di Kompasiana.com)

Oleh SUKRON ABDILAH


SETIAP kali tanggal 22 Desember, saya selalu menyempatkan pulang kampung. Tapi, tahun sekarang tidak pulang ke kampung karena tanggal 13 Desember sudah bertemu dengan ibu saya. Ada yang saya kagumi dari sosok ibu saya ini. Beliau, sekolah hanya sampai tingkat rakyat (Baca: SR). Kendati demikian, tidak membuat saya harus merendahkannya. Ia, tetap saja. Adalah guru saya yang utama dan pertama. Ia mengajarkan saya untuk merasakan penderitaan anak yatim. Sebab, selama dua puluh tahun lebih (sejak tahun 1987), ibu saya harus menjadi tulang punggung keluarga menghidupi 8 anak-anaknya.

Karena hanya saya anaknya yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi, kadang ia merasa bangga. Bahwa hanya dengan Gaji pensiunan sang Suami — almarhum ayah saya — dia sudah mampu menyekolahkan saya sampai tinggi. Jujur saja, saya mampu membaca Al-Quran dan membaca huruf-huruf latin juga karena diajarkan oleh ibu saya. Belum lagi sekarang. Ia banyak mengajarkan saya akan pentingnya menolong orang lain dari kesusahan.

Setiap kali pulang ke kampung, saya akan mendiskusikan dengannya persoalan fanatisme, doa, dan soal fiqih yang berbeda-beda. Untuk ukuran lulusan Sekolah Rakyat atau SR, ibu saya cerdas juga. Tahu tentang cara mendidik anaknya ini (baca: Saya) untuk mengarifi hidup. Saya kadang mendengarkan tuturannya tentang pengalaman hidup. Bagaimana ia berjuang mencari materi untuk kebutuhan anak-anaknya. Tapi, kadang ia juga berkeluh kesah. Ketika ada anak-anaknya yang bermasalah, tidak patuh, dan tidak sesuai dengan harapan.

Ah, untuk sekadar membalas jasanya yang tak akan terbalas, saya rasa pantas kalau saya mesti menjadi orang baik. Orang yang tidak mau korupsi dan disogok ketika menjadi pejabat nanti. Orang yang menghargai perbedaan pendapat ketika menjadi seorang agamawan nanti. Dan, menjadi seorang manusia yang bermartabat luhur nanti.

Selamat hari Ibu, 2008. Jasamu, ibu, guruku, tidak akan mungkin saya sia-siakan. Bukankah setiap Nabi di muka bumi ini lahir dari rahim seorang Ibu? kecuali Adam a.s, yang katanya tidak lahir dari rahim seorang ibu. Ia, katanya diciptakan langsung Tuhan tanpa perantara.
BAGIKAN

Penulis: verified_user

0 komentar: